Mestinya memang bukan. Meskipun bergambar sapi hitam-putih-merah nyatanya tak ada kata “cap sapi”, yang ada hanya “ketjap gurih”.  Ini kecap terbikin oleh keluarga Liem dari Yogyakarta. Saya tak tahu sejak kapan kecap ini ada, karena masih menggunakan ejaan lama “ketjap”, tapi pendaftarannya bertahun 1991 — mungkin daftar ulang?

Saya menemukan botol kecap bergambar sapi ini dari meja makanan dalam resepsi pernikahan Tikabanget, awal Mei ini, di Yogya. Para tetamu dipersilakan menambahkan kecap sendiri pada hidangan yang diambilnya. Si pemilik jasa boga lebih memilih kecap sapi. :)

Tagged with:
 

Ini termasuk bedak klasik tetapi sudah mengalami peremajaan desain. Celakanya saya lupa bagaimana desain lama kemasan Marcks’ dari BUMN PT Kimia Farma yang merupakan kelanjutan dari NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. (berdiri pada 1917). Apa yang tampak dari stiker promo Marcks’ tahun 70-an masih samar-samar, yang menonjol adalah modelnya, aktris Widyawati — tapi yang diiklankan adalah seri toilet powder (antiseptic), bukan beauty powder.

Merek Marcks’ merepotkan pengucapan bagi sebagian orang, sehingga ada yang mengucapkan “mark” dan ada pula “mars”. Nyatanya bedak ini bertahan lama, melintasi pergantian rezim dan abad.

© Repro stiker oleh Reklame Djadoel

Tagged with:
 

Pemilihan jenama lilin ini, Mercusuar, mungkin untuk memberi kesan bahwa selama menyala maka si lilin akan menjadi panduan arah bagi siapapun yang melihatnya. Saya tak tahu sejak kapan lilin ini beredar karena terbukti tanda terdaftarnya masih kosong, sementara barcode-nya tak saya coba untuk membacanya. Seperti umumnya lilin, Mercusuar dari Yogyakarta ini menggunakan warna merah untuk mereknya. Saya tak tahu kenapa warna merah yang dipilih — ada juga sih yang biru.

Tentang lilin, saya teringat coretan teman saya waktu SMP pada buku kenangan, “Jadilah lilin yang rela habis demi penerangan.” Walah, berat amat yak? :D

Benarkah klaim bahwa lilin ini tak meninggalkan sisa? Saya belum mengetesnya. Ketika memakai pun saya lupa untuk mencocokkan klaim dengan kenyataan.

Tagged with:
 

Dunia pewayangan sering menjadi sumber merek-merek lama untuk produk yang menyasar rakyat kebanyakan. Mungkin karena dunia perlambang dan idola dulu masih terbatas. Pada beberapa jenis produk berupa sachet kertas, nama tokoh pewayangan termasuk favorit. Misalnya vanili cap Hanoman, wènter (pewarna kain) cap Kresno, dan bubuk pemutih cucian cap Kumbo Karno. Nah yang ini adalah tères atau sumba cap Hanoman, bikinan Solo. Masih dijual di pedesaan Wonogiri, Jawa Tengah. Mungkin cocok untukmengganti si kera putih karena warna putih itu paling semanak untuk diwarnai.

Merek lainyang non-wayang untuk tères dan wènter (bukan untuk makanan) misalnya Stoples dan Kalkun.

Tagged with: