Aladin Naik Tikar

1 February 2008 @ 15:52:39

tikar plastik cap aladin

Siapa bilang Aladdin alias Aladin naik babut terbang? Ternyata, dengan lampu wasiatnya, dia memilih naik tikar plastik seharga Rp 35.000 yang dijual di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan.

Hmmm… tikar plastik. Tikar ini muncul tahun 70-an sebagai pelengkap tikar pandan dan tikar mendong. Tikar plastik yang sumuk ini lebih tahan air, kalau terkena ompol mudah dibersihkan dengan harapan aroma pesing segera menguap.

Plastik menjadi tikar itu menyusul maraknya plastik sedotan untuk minum limun pada tahun 70-an. Setelah itu banyak barang berubah menjadi berplastik. Akibat yang terlihat di pelataran rumah saya: penggalian jugangan (lubang galian untuk sampah) “baru” selalu menemukan plastik.

Pembuatan jugangan pada rumah-rumah lama, yang berhalaman luas, memang seperti ladang berpindah. Siklis, setiap lubang akan kembali ke lubang yang lama, dengan pengandaian arang dan abu pembakaran sampah lama sudah terurai oleh tanah.

Terus, mengapa si produsen menggunakan merek Aladin? Maaf saya tak berwenang menjawab karena belum ditunjuk menjadi juru bicara.

Jènipêr, bukan Jennifer

9 November 2007 @ 22:10:44

jeniper

jeniperDesain label sirop ini sudah modern. Nama yang dipakai pun “modern”, maaf maksud saya “kebarat-baratan”. Jeniper. Keren kan?

Produk ini bikinan CV Mustika Flamboyan, Kuningan, Jawa Barat. Saya belum tahu Jeniper itu nama siapa. Pemiliknya? Putrinya?

Tentang Jeniper ini, sebagian dari Anda pasti akan terjerembab ke olok-olok lama bahwa (sebagian) orang Sunda tak dapat melafalkan “F” (èf) dan “V” (vé). Maka ada`guyon lama, tentang niat mengoreksi huruf pertama Vespa: “Bukan ‘èp’ tapi ‘pé’.”

Betulkah pejorasi itu? Tak hanya sebagian orang Sunda. Sebagian orang Jawa dan sebagian orang Betawi juga kurang telaten melafalkan “F”, “V”, dan “X”. Malah penutur bahasa Indonesia pun kadang menuliskan “kompleks” sebagai “komplek”. Tapi “seks” dan “boks” tidak menjadi “sek” dan “bok”.

Mbok Berek, bukan Pak Kolonel

25 September 2007 @ 23:32:29

mbok berek nyonya umi

Anda pernah melihat potret Colonel Sanders si peramu resep KFC. Kalau potret Mbok Berek (baca: bê-rèk)? Jarang yang pernah melihat. Saya juga belum. Tapi sebagai nama, Mbok Berek (pernah) ada di mana-mana. Mbok Berek adalah ayam goreng. Tepatnya: ayam goreng kalasan.

Kalasan adalah nama tempat di Yogya. Ketika nama itu menjadi atribut masakan, tertulislah dengan “k” kecil, seperti “y” kecil dalam “gudeg yogya”.

Tapi nanti dulu, siapa itu Mbok Berek? Dialah si peramu bumbu ayam goreng gurih garing. Lantas anak-cucunya, dan entah siapa lagi, menjadikannya sebagai merek ayam goreng.

Salah satu cucu, sebagai pihak yang berhak, adalah Ny. Umi. Lengkapnya Nyonya Umi Noorsalim.

Siapakah gerangan Umi yang mengibarkan merek sendiri, dengan slogan “Ayam Desa Masuk Kota”, dan pernah jadi model iklan kecap itu? Dia adalah putri dari Nur Indarti, pemilik ayam goreng kalasan Candisari, Yogya.

Adapun Nur Indarti adalah putri Samijo Mangundimejo. Nah, Pak Samijo inilah putra Nyi Rame. Siapa Nyi Rame? Dia adalah istri Pak Berek Ronopawiro. Di kemudian hari Nyi Rame dikenal sebagai Mbok Berek. Dan Umi adalah cucu buyut Mbah Berek.

Kok saya tahu? Lha iya, wong saya mencuplik dari map menu kedai Umi di Pondok Indah, Jakarta, yang memuat silsilah the Bereks.

silsilah keluarga mbok berek

“Mbok Berek Ny. Umi”, sebagai nama dagang, sudah dipatenkan. Penggunaan mereknya, secara waralaba, dikelola oleh PT Weling Simbah Wulung. Dalam bahasa Jawa, nama perusahaan itu berarti pesan Simbah Wulung. Siapa itu Mbah Wulung? Mungkin ya Mbok Berek itu.

Lantas bagaimana dengan desain ini? Dia masih mengandalkan gambar ayam goreng. Bandingkan dengan ayam goreng Suharti yang pakai potret Bu Suharti. Adapun ayam goreng Ny. Suharti, kalau saya tak salah, adalah milik dudanya Bu Suharti.

Ny. Suharti, sebagai nama dan merek, sejak dulu membuat kagum. Dia melabeli diri nyonya, tapi tak membawa nama suami. Modern kan? Nyonya Umi juga begitu.

Cicipilah:
+ Resep ala Mbok Berek
+ Resep ala (Ny.) Suharti

Semar Doyan Kerupuk

25 September 2007 @ 22:16:08

kerupuk kulit cap semar

Banyak sudah merek yang memakai tokoh pewayangan. Itu membuktikan bahwa wayang masih hidup dalam sebagian masyarakat kita, terutama Jawa dan Sunda. Pergeralan wayang kulit di auditorium RRI Jakarta, misalnya, masih diminati. Demikian pula di Taman Mini Indonesia Indah.

Meskipun begitu apa salahnya kita menerka satu hal. Yaitu mengapa kerupuk ini memakai Semar, sesepuh punakawan? Apakah konsumennya, yang tak semuanya Jawa, masih hirau wayang?

Penjual kerupuk ini, orang Sunda, saja tak begitu hirau. Lebih penyting baginya apakah semua titipan dan kulakan di warung rokoknya cepat laku atau tidak.

Bisa jadi si produsen memang mengidolakan Semar, punakawan yang bukan sekadar pembanyol melainkan juga pembawa bisikan suara dewa, karena Semar bukan manusia biasa.

Kerupuk ini bukan barang lama. Saya sering melihatnya baru dua tahun belakangan di warung-warung di Pondokgede. Entahlah dia bikinan mana, yang pasti mengaku Jakarta.

Sebagai merek baru, dia dikemas sederhana tapi modern. Perancangan sudah melibatkan komputer. Pencetakan tak cukup dengan fotokopi, tapi sudah mini-offset dengan warna spot. Kertasnya? HVS bekas lembar promo Esia.

Sungguh desain label yang murah dan ramah lingkungan. Mungkin sesuai anjuran arif Semar: reuse kertas itu baik, dan menghemat hutan.

Namanya juga Semar modern. Lihat saja bajunya.

Nyonya Besar Bikin Es

25 September 2007 @ 21:35:49

es lilin cap nyonya besar

Merek es lilin bikinan PT Sumber Es Makmur, Tangerang, ini mengesankan sebuah jaminan zaman: sudah ada sejak dulu. Entahlah sudah berapa lama usianya. Saya sih tahunya baru dua-tiga tahun terakhir.

Apa lagi yang mengesankannya sebagai merek klasik? Ya merek itu sendiri: Njonja Besar (ejaan lama). Berupa “potret” perempuan bertubuh subur.

es lilin cap nyonya besar

Embel-embel “home made” seolah menjanjikan sebuah tradisi cita rasa dengan sentuhan personal. Harap diingat, sebelum es loli (dan es krim) Diamond, Woody, Campina, dan kemudian Wall’s mengisi pasar, sebagian besar es lilin (dan es mambo) memang bikinan industri rumah tangga.

Dalam keseharian kita, kata “nyonya besar” itu lebih terdengar melalui cerita dan kadang berbau guyon — bahkan mungkin saja berbau ledekan. Nyonya Besar adalah istri Tuan Besar. Dekat dengan kekuasaan.

Merek es ini, berikut gambarnya, seolah mewakili sebuah tradisi peranakan, yaitu masyarakat keturunan Cina di Indonesia. Hanya orang bule, dan kaum Timur Jauh, yang dulu sering disebut “nyonya(h)”.

Dalam perjalanan waktu, sapaan nyonya adalah sesuatu yang biasa, sebagai penghormatan untuk semua wanita yang sudah atau pernah bersuami. Kalau masih lajang dia akan disapa “nona(h)”.

Naskah drama kita, dan film Indonesia (lama?), masih menorehkankan penyebutan itu. Baik penyebutan oleh babu, jongos, dan sopir kepada majikan, maupun oleh kalangan yang “setara” (dokter, polisi, hakim).

Kalau terucapkan sebagai, katakanlah, “I-i–i-ya, Nyonya…” (kenapa sih mesti gagap?) maka itu dilontarkan oleh babu, jongos, dan sopir.

Kalau terkatakan semacam, “Begini Nyonya, ada hal yang perlu kami sampaikan…” maka itu keluar dari mulut dokter, polisi, dan hakim.

Dalam keseharian? Masih. Biasanya berupa pemanggilan oleh petugas apotek: “Nyonya Binsar Siahaan!” Memang, kalangan medis dan farmasi masih memakai penyebutan “nyonya” dan terutama “tuan”.

Kenapa nyonya dalam merek ini bisa disebut Njonja Besar. Mungkin dia istri juragan, atau justru dialah yang juragan, maka punya kuasa. Bisa juga karena badannya besar lantaran banyak makan es.

es lilin cap nyonya besar

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)