Campursari Bernama Indonesia

30 October 2004 @ 20:16:30

ayam goreng m djojo

Apa sih yang disebut Indonesia? Batik, wayang, tampang Melayu atau Jawa lama dalam bingkai kultur indis?

Saya nggak tahu. Bahkan apa itu impian bernama Indonesia — bukan apa yang diimpikan orang Indonesia, “an Indonesian dream” — saya pun masih kabur.

Ya, kabur, tapi saya jalani, saya hidup di dalamnya, bersamanya.

Kemarin ketika orang katering selesai memberesi sajiannya serampung kantor saya berbuka puasa, saya menemukan stoples plastik berlabel M’ Djojo.

Sebuah label yang mewadahi beragam niat eklektik: pop art wajah bule 60-an, teks verbal yang mengaku “tempo doeloe”, dan Indonesia [baca: Jakarta] hari ini yang begitu sibuknya sehingga mengenal pesan antar atau delivery order.

Indonesia adalah apa yang hadir hari ini. Termasuk bangunan ajaib baru Da Vinci di Jalan Sudirman, Jakarta, bertetangga dengan Wisma Dharmala yang berwajah tropis karya Paul Rudolph dan Anggana Danamon yang punya ruang publik tak berpagar. Itulah sebagian potret kita.

Indonesia tak hanya rambut hitam tetapi juga rambut pirang hasil pengecatan. Maka orang kampung di Jawa Tengah meledeknya sebagai “LKMD (Landa Kok Mung Ndhasé)”. Artinya: Belanda kok cuma kepalanya.

Gara-gara: Dihindari, Dinanti

27 October 2004 @ 20:10:19

gara-gara klembak menyan

Gara-gara [kalau dalam bahasa Jawa harap dibaca: "goro-goro"] bisa berarti sumber masalah, sehingga harus dihindari.

Gara-gara juga berarti selingan dalam pertunjukan wayang kulit, saat keluarnya para punakawan cengengesan pada tengah malam, sehingga dinantikan penonton untuk mengerem kantuk.

Di situlah dalang bebas berimprovisasi. Mau sekadar ndagel, boleh. Mau menyisipkan pesan pribadi maupun titipan sponsor, silakan.

Lantas kenapa kelembak [dari akar Rheum officianale?], bubuk kasar untuk dicampurkan dengan tembakau buat dilinting, ini memakai merek Gara-gara?

Mungkin agar tercipta suasana gayeng, akrab, dan penuh cengengesan èjlègèwèr, dalam diri para pengisap rokok kelembak.

Tapi yah, bagi orang lain, bau asap sigaret kelembak yang berempah itu bisa bikin pening. Apalagi jika dicampur dengan [ke]menyan, wuahhh… aromanya bakal mempertemukan orang yang tak tahan bau dengan yang namanya gara-gara. Si pengisap mencari gara-gara, meski niatnya bersenang-senang, dan orang lain tinggal memetik hasilnya: pusing, mual. Itulah goro-goro.

Jika kita tilik gambarnya, gojekan Petruk dan Gareng itu memang berbahaya, berbau kekerasan, karena melibatkan arit. Namanya juga [cari] gara-gara, supaya dapat goro-goro.

Mi Telor Rasa Perang

23 October 2004 @ 12:41:35

mie telor sari rasa sukaharjo

Dulu, seingat saya, ada mie telor [bukan "mi telur" -- perhatikan ejaan!] cap Kapal Terbang, bikinan Semarang. Desain atawa opmaak [busyet... holland spreken, jack!] ya seperti pada gambar ini. Lantas ada bikinan Sukoharjo dikasih tambahan tank.

Atau, barangkali “mi tulen kapal terbang dan tank” ini nongol duluan, lantas yang menyusul adalah “mi telor kapal terbang tanpa tank”? Entahlah.

Yang pasti saya masih heran, kenapa mi harus dihubungkan dengan peralatan perang [untuk kasus tank] dan pesawat angkut berbaling-baling sekelas Hercules. Apakah gambar pesawat itu dimaksudkan agar konsumen merasa terbang tinggi, lantaran mabuk kelezatan, soalnya waktu itu [tahun 70-an] naik pesawat masih merupakan kemewahan? Lantas apakah gambar tank itu diniatkan supaya penyantap merasa telah kembali membumi — setelah terbang tinggi — dengan kekuatan dan jelajah setangguh tank?

Oh ya, soal ejaan “mie” dan “mi” ini, keduanya memang masih hidup dalam masyarakat. Lihat saja menu rumah makan, baik yang ditempel di dinding maupun dalam lembar kertas A4 terlaminasi plastik. “Mie”, adalah pelatinan kata Cina [Hokkian?] yang merujuk kepada [seolah-olah] cara Belanda. Sedangkan “mi” adalah cara yang disodorkan oleh Pusat Bahasa. Bagi kita yang penting bukanlah ejaan, tapi manakah yang enak. Gitu, kan?

Raja Turki

21 October 2004 @ 20:04:33

Raja Turki ala Stamboelan

Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata “stamboel” berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah.

Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini.

“Stamboelan”, sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam — tepatnya raja sekian jam — karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling.

Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D

Lintingan Kawung Bu Sri

20 October 2004 @ 19:58:30

lintingan rokok daun kawung lintingan rokok dan kawung
Bu Sri Rukmini yakin betul bahwa produknya bagus. Tapi karena dia memakai ilmu padi, maka dia tak mau bilang “terbaik”. Cukup menyatakan produknya terseleksi, sehingga “putih sederhana”, lagi lemas.

Produk Bu Sri adalah lembar daun kawung, atau daun enau [Arenga pinnata], yang sudah dikeringkan, untuk menjadi pengganti kertas sigaret lintingan.

Saya mendapatkan produk yang terkemas dalam kertas minyak — seperti kertas sampul tambahan pada buku rapor saya waktu SD — di Pasar Pondokgede, awal 1993. Si penjual mengira saya membelinya untuk kakek saya. Saat itu penikmat rokok kawung sudah mulai langka.

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)