
Apa sih yang disebut Indonesia? Batik, wayang, tampang Melayu atau Jawa lama dalam bingkai kultur indis?
Saya nggak tahu. Bahkan apa itu impian bernama Indonesia — bukan apa yang diimpikan orang Indonesia, “an Indonesian dream” — saya pun masih kabur.
Ya, kabur, tapi saya jalani, saya hidup di dalamnya, bersamanya.
Kemarin ketika orang katering selesai memberesi sajiannya serampung kantor saya berbuka puasa, saya menemukan stoples plastik berlabel M’ Djojo.
Sebuah label yang mewadahi beragam niat eklektik: pop art wajah bule 60-an, teks verbal yang mengaku “tempo doeloe”, dan Indonesia [baca: Jakarta] hari ini yang begitu sibuknya sehingga mengenal pesan antar atau delivery order.
Indonesia adalah apa yang hadir hari ini. Termasuk bangunan ajaib baru Da Vinci di Jalan Sudirman, Jakarta, bertetangga dengan Wisma Dharmala yang berwajah tropis karya Paul Rudolph dan Anggana Danamon yang punya ruang publik tak berpagar. Itulah sebagian potret kita.
Indonesia tak hanya rambut hitam tetapi juga rambut pirang hasil pengecatan. Maka orang kampung di Jawa Tengah meledeknya sebagai “LKMD (Landa Kok Mung Ndhasé)”. Artinya: Belanda kok cuma kepalanya.

Gara-gara [kalau dalam bahasa Jawa harap dibaca: "goro-goro"] bisa berarti sumber masalah, sehingga harus dihindari.
Gara-gara juga berarti selingan dalam pertunjukan wayang kulit, saat keluarnya para punakawan cengengesan pada tengah malam, sehingga dinantikan penonton untuk mengerem kantuk.
Di situlah dalang bebas berimprovisasi. Mau sekadar ndagel, boleh. Mau menyisipkan pesan pribadi maupun titipan sponsor, silakan.
Lantas kenapa kelembak [dari akar Rheum officianale?], bubuk kasar untuk dicampurkan dengan tembakau buat dilinting, ini memakai merek Gara-gara?
Mungkin agar tercipta suasana gayeng, akrab, dan penuh cengengesan èjlègèwèr, dalam diri para pengisap rokok kelembak.
Tapi yah, bagi orang lain, bau asap sigaret kelembak yang berempah itu bisa bikin pening. Apalagi jika dicampur dengan [ke]menyan, wuahhh… aromanya bakal mempertemukan orang yang tak tahan bau dengan yang namanya gara-gara. Si pengisap mencari gara-gara, meski niatnya bersenang-senang, dan orang lain tinggal memetik hasilnya: pusing, mual. Itulah goro-goro.
Jika kita tilik gambarnya, gojekan Petruk dan Gareng itu memang berbahaya, berbau kekerasan, karena melibatkan arit. Namanya juga [cari] gara-gara, supaya dapat goro-goro.

Dulu, seingat saya, ada mie telor [bukan "mi telur" -- perhatikan ejaan!] cap Kapal Terbang, bikinan Semarang. Desain atawa opmaak [busyet... holland spreken, jack!] ya seperti pada gambar ini. Lantas ada bikinan Sukoharjo dikasih tambahan tank.
Atau, barangkali “mi tulen kapal terbang dan tank” ini nongol duluan, lantas yang menyusul adalah “mi telor kapal terbang tanpa tank”? Entahlah.
Yang pasti saya masih heran, kenapa mi harus dihubungkan dengan peralatan perang [untuk kasus tank] dan pesawat angkut berbaling-baling sekelas Hercules. Apakah gambar pesawat itu dimaksudkan agar konsumen merasa terbang tinggi, lantaran mabuk kelezatan, soalnya waktu itu [tahun 70-an] naik pesawat masih merupakan kemewahan? Lantas apakah gambar tank itu diniatkan supaya penyantap merasa telah kembali membumi — setelah terbang tinggi — dengan kekuatan dan jelajah setangguh tank?
Oh ya, soal ejaan “mie” dan “mi” ini, keduanya memang masih hidup dalam masyarakat. Lihat saja menu rumah makan, baik yang ditempel di dinding maupun dalam lembar kertas A4 terlaminasi plastik. “Mie”, adalah pelatinan kata Cina [Hokkian?] yang merujuk kepada [seolah-olah] cara Belanda. Sedangkan “mi” adalah cara yang disodorkan oleh Pusat Bahasa. Bagi kita yang penting bukanlah ejaan, tapi manakah yang enak. Gitu, kan?

Korek api keluaran tahun 90-an ini memakai merek dari dunia lama: Radja Stamboel. Setahu saya, kata “stamboel” berasal dari kata Istanbul [Konstantinopel], Turki, yang pada masa Hindia Belanda dicomot untuk menamai jenis pertunjukan sandiwara musikal melayu yang mementaskan cerita menak dari Timur Tengah.
Bahwa Turki tak sepenuhnya [atau bukan?] Timur Tengah, bahkan separuh Eropa[h], tentu lain perkara. Saya tak tahu, apakah penggunaan merek Radja Stamboel ini masih menghadirkan makna di benak konsumen masa kini.
“Stamboelan”, sebagai sebutan untuk gaya pentas stamboel, termasuk lagunya [kalau tak salah sejenis keroncong], pun sudah jarang dikenal. Tapi segagah dan seberwibawa apapun seorang Radja Stamboel, dia tetaplah raja semalam — tepatnya raja sekian jam — karena sebelum dan setamat pentas dia hanya aktor dari sebuah sandiwara keliling.
Mungkin kita perlu bertanya kepada anggota rombongan Miss Tjijtjih [terakhir, setahu saya, markas mereka di Teluk Gong, Jakarta Utara, setelah tergusur dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat], bukan Miss Cici. :D
Random Posts
Sehat, dari Generasi ke Generasi
July 18, 2005Dalam sebuah pertemuan untuk menyimak presentasi, teman saya menatap boks kue. “Mereknya itu lho, kok mengingatkan saya sama sanitasi dan saniter,” katanya.
Saya menyahut, “Toto? KIA? Pinangsia? Panglima Polim?”
Dua nama terakhir adalah kawasan di Jakarta yang punya sejumlah toko keramik dan perlengkapan kamar mandi.
Si empunya merek Sanitas tentu tak berpikir sesesat kami, [...]
Recent Comments
- Ichwan Antonio: Coba cari di PD LIDO telpon 021 6926075
- JP: Mas Antyo, kenal petinju Rukimin alias Rocky ini ini? Karena dia adalah kawan lama saya, dan saya sulit...
- eqwvwyvc: spa6d4 bcduumdmobmc
- Bunny: I can\’t hear anyhntig over the sound of how awesome this article is.
- pecah utax: jaman sekarang ; Mesti Hati2x milih makanan. bt ‘ penasaran jg menurut pndapat “Aming”....
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)






