Don’t Forget Isep Klembak Menyan, Jangan Kaget Kalo Dianggep Kuburan
Sungguh hebat para perokok klembak menyan itu. Sudah tambakaunya pekat, dengan kandungan tar dan nikotin melebihi toleransi, eh masih diberi aroma kuburan pula. Hebat kan?
Mereka nggak pusing, nggak mual, bahkan terbatuk pun tidak. Entah dari dewa apa daya tahan itu datang.
Dari jarak 30 meter (kalau anginnya membantu) aroma klembak menyan ini akan tercium.
Para perokoknya ada di wilayah Dulangmas (Kedu, Magelang, Banyumas), yaitu wilayah yang pelat nomor kendaraannya berawalan AA dan R. Di wilayah lain juga ada yang doyan, tapi sedikit.
Sekarang pengisap rokok sesaji ini semakin menipis. Anak muda pedesaan hanya doyan rokok berfilter. Di kawasan Mageleng dan pinggiran Yogyakarta, rokok pemusing-pemual yang pernah popular adalah Djolali, bikinan Mas Bustami.
Saya pernah ke rumah yang merangkap pabrik (tanpa cerobong lho) milik Mas Bustami, dekat Terminal Bus Muntilan, mau kenalan, tapi dia lagi ke luar kota. Dari Yogya saya naik taksi ke Muntilan, pingin tahu orang macam apakah yang penuh percaya diri memasang potret dalam produknya itu. Ternyata itu foto Mas — tepatnya: Pak, bahkan Mbah – Bustami tahun 70-an. Keren.
(Pindahan dari tempat lama)
August 2nd, 2006 at 1:45 pm
itu koes plus ya pakde?
August 4th, 2006 at 6:12 pm
Ini rokoknya paranormal atawa dukun ya paman?
July 19th, 2007 at 9:36 pm
[...] Dari segi pilihan nama, merek dagang ini bersaudara dengan Ojo Lali (Jawa: Jangan Lupa). Ada Djolali yang sigaret klembak menyan. Ada pula Ojo Lali yang toko pernik dekorasi ruang di Kemang Timur, Jakarta Selatan (masih ada nggak ya?). Entahlah bagaimana dengan ojolali.com. [...]