Ke Gunung Sana Aku Memandang

16 October 2004 @ 19:33:33

silet cukur cap tatra

Masihkah Anda menjumpai silet cap Gunung Tatra bikinan Republik Cekoslovakia [sekarang masuk Slovakia] di toko modern?

Tatra, pegunungan yang indah, dengan banyak puncak. Di Ceko juga ada industri Tatra, tapi bikin mobil. Jadi, ini pabrik Tatra yang mana?

Tatra yang gunung, sudah saya jumpai di Jalan Gejayan, dekat Pasar Demangan, Yogyakarta. Itu nama penjahit, pemiliknya asal Wonosari. Mungkin dia mengidentifikasikan Gunung Kidul dengan Tatra.

Sekarang pandangilah foto-foto sepia para opa dan eyang kakung yang tampak klimis. Boleh jadi mereka membabat kumis-jenggot-cambang dengan Tatra.

Oh ya, nanti dalam sebuah pesta koktil, carilah dipomat Ceko dan Slovakia. Tanyailah apakah mereka pernah memakai silet Tatra. :)

Hmm… silet, produk teknologi untuk membabat bulu yang tak diinginkan. Bank Dunia memasukkan Tatra sebagai indikator standar hidup rakyat Ghana dalam surveinya.

Saya nggak tahu apakah Badan Pusat Statistik pernah memasukkan barang ginian dalam surveinya. Padahal harga barang remeh, bukan hanya silet, itu termasuk indikator biaya hidup lho.

Maka tak mengherankan bila ada sebuah pemeringkatan biaya hidup kota-kota metropolitan dunia memasukkan harga MacD dan Coke [dan juga harga prangko untuk kirim kartu pos, selain ongkos taksi dari bandara ke pusat kota] untuk “indeks kemahalan”.

Gunung Tatra

3 Responses

  1. mbah kakung Says:

    kek na kalo silet tatra di Semarang masih banyak yg jual deh.
    Nih silet dulu waktu sebelum krismon harganya cuman Rp.50, tapi sekarang aku masih sering pake juga harganya udah menjadi Rp.500

  2. alfa Says:

    Saya inget banget. Waktu saya kecil sudah sering beli dan saya masukin ke kotak pensil dan dibawa ke sekolah. tahu buat apa? buat meraut pensil :) Rautan yang diputer2 itu dulu harganya mahal… BTW masih inget pelem G30S PKI?, “darah itu merah, Jenderal…”. Jangan-jangan siletnya merek Tatra juga ya?

  3. ansoftbg Says:

    Good site!

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)