Mi Telor Rasa Perang

Dulu, seingat saya, ada mie telor [bukan "mi telur" -- perhatikan ejaan!] cap Kapal Terbang, bikinan Semarang. Desain atawa opmaak [busyet... holland spreken, jack!] ya seperti pada gambar ini. Lantas ada bikinan Sukoharjo dikasih tambahan tank.
Atau, barangkali “mi tulen kapal terbang dan tank” ini nongol duluan, lantas yang menyusul adalah “mi telor kapal terbang tanpa tank”? Entahlah.
Yang pasti saya masih heran, kenapa mi harus dihubungkan dengan peralatan perang [untuk kasus tank] dan pesawat angkut berbaling-baling sekelas Hercules. Apakah gambar pesawat itu dimaksudkan agar konsumen merasa terbang tinggi, lantaran mabuk kelezatan, soalnya waktu itu [tahun 70-an] naik pesawat masih merupakan kemewahan? Lantas apakah gambar tank itu diniatkan supaya penyantap merasa telah kembali membumi — setelah terbang tinggi — dengan kekuatan dan jelajah setangguh tank?
Oh ya, soal ejaan “mie” dan “mi” ini, keduanya memang masih hidup dalam masyarakat. Lihat saja menu rumah makan, baik yang ditempel di dinding maupun dalam lembar kertas A4 terlaminasi plastik. “Mie”, adalah pelatinan kata Cina [Hokkian?] yang merujuk kepada [seolah-olah] cara Belanda. Sedangkan “mi” adalah cara yang disodorkan oleh Pusat Bahasa. Bagi kita yang penting bukanlah ejaan, tapi manakah yang enak. Gitu, kan?