lintingan rokok daun kawung lintingan rokok dan kawung
Bu Sri Rukmini yakin betul bahwa produknya bagus. Tapi karena dia memakai ilmu padi, maka dia tak mau bilang “terbaik”. Cukup menyatakan produknya terseleksi, sehingga “putih sederhana”, lagi lemas.

Produk Bu Sri adalah lembar daun kawung, atau daun enau [Arenga pinnata], yang sudah dikeringkan, untuk menjadi pengganti kertas sigaret lintingan.

Saya mendapatkan produk yang terkemas dalam kertas minyak — seperti kertas sampul tambahan pada buku rapor saya waktu SD — di Pasar Pondokgede, awal 1993. Si penjual mengira saya membelinya untuk kakek saya. Saat itu penikmat rokok kawung sudah mulai langka.

 

jamu kuat penambah tenaga

Satu hal yang membuat saya terkesan oleh jamu kuat ini adalah keluguannya.

Yang namanya kuat tak langsung dihubung-hubungkan dengan keperkasaan berlaki-bini seperti umumnya jamu. Juga tak ada janji visual bahwa orang akan menjadi Bima atau Herkules maupun binaragawan.

Kuat ya kuat selayaknya orang desa yang sehat: sanggup memanggul beban berupa hasil bumi. Prianya memanggul dan menenteng beberapa butir kelapa dengan tersenyum.

Tapi kenapa perempuannya tak tersenyum santai ketika menggendong bakul berisi bebotolan jamu?

Di sinilah ngèlmu tafsir saya buntu. Ngèlmu yang sebetulnya gombal itu. Sempat terpikir sih, apakah mereka suami-istri? Bisa ya, bisa tidak. Apakah mereka sekadar berjalan beriringan di jalan desa? Anda sajalah yang menafsirkannya.

 

ledre pisang bidadari bojonegoroBidadari dari Bojonegoro, Jawa Timur [atau Cepu, Jawa Tengah?], negerinya Imponk, ini memang tampil bersahaja.

Cuma satu warna [maksud saya dua warna: pink dan putih]. Hasil cetak saring (sablon) pula.

Tercetak di atas kertas HVS 70 gram. Kualitas klise [saringan] yang kurang bagus. Gosokan rakel kurang merata.

Art work-nya memberi kesan diset pakai Rugos. Boleh jadi penggambaran bidadarinya menggunakan drafting pen [kalau Anda menyebut "rapido", itu merek, bukan nama benda] di atas 0,5 mm, atau bahkan mungkin pakai semacam “boxy” [lha kalau ini memang merek yang jadi benda].

Tapi di mata saya label ini tetap indah. Naif sekaligus jujur. Apa adanya. Dan rada cuek terhadap gambaran tradisional [memangnya ada?] tentang bidadari seperti dalam cerita Jaka Tarub.

Lihatlah gaunnya. Juga mahkotanya. Panjang rambutnya? Jauh melebihi model iklan Sunsilk dari versi ke versi. Apa nggak capek tuh ngerawatnya? Pelaksana creambath di salon harus dikasih tip gede kalau kedatangan mereka. Kalau nggak, begitu mereka nongol akan muncul bisik-bisik, “Yah, mereka lagi. Capek ngurusinnya.”

Sebuah tafsir terhadap imaji tentang bidadari merah jambu dari pinggir hutan jati. Bidadari berwarna kesumba… :)

NB: Tipografinya sangat percaya diri kan?

 

jamu burung perkutut

Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja.

Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba.

Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc.

Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara “kung”-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci.

Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi [KBBI: priayi], burungnya para priyagung atawa kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya.

Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun — dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.