Marku(w)at bin Perkasa

18 October 2004 @ 19:55:02

jamu kuat penambah tenaga

Satu hal yang membuat saya terkesan oleh jamu kuat ini adalah keluguannya.

Yang namanya kuat tak langsung dihubung-hubungkan dengan keperkasaan berlaki-bini seperti umumnya jamu. Juga tak ada janji visual bahwa orang akan menjadi Bima atau Herkules maupun binaragawan.

Kuat ya kuat selayaknya orang desa yang sehat: sanggup memanggul beban berupa hasil bumi. Prianya memanggul dan menenteng beberapa butir kelapa dengan tersenyum.

Tapi kenapa perempuannya tak tersenyum santai ketika menggendong bakul berisi bebotolan jamu?

Di sinilah ngèlmu tafsir saya buntu. Ngèlmu yang sebetulnya gombal itu. Sempat terpikir sih, apakah mereka suami-istri? Bisa ya, bisa tidak. Apakah mereka sekadar berjalan beriringan di jalan desa? Anda sajalah yang menafsirkannya.

Bidadari Bersahaja

18 October 2004 @ 19:44:46

ledre pisang bidadari bojonegoroBidadari dari Bojonegoro, Jawa Timur [atau Cepu, Jawa Tengah?], negerinya Imponk, ini memang tampil bersahaja.

Cuma satu warna [maksud saya dua warna: pink dan putih]. Hasil cetak saring (sablon) pula.

Tercetak di atas kertas HVS 70 gram. Kualitas klise [saringan] yang kurang bagus. Gosokan rakel kurang merata.

Art work-nya memberi kesan diset pakai Rugos. Boleh jadi penggambaran bidadarinya menggunakan drafting pen [kalau Anda menyebut "rapido", itu merek, bukan nama benda] di atas 0,5 mm, atau bahkan mungkin pakai semacam “boxy” [lha kalau ini memang merek yang jadi benda].

Tapi di mata saya label ini tetap indah. Naif sekaligus jujur. Apa adanya. Dan rada cuek terhadap gambaran tradisional [memangnya ada?] tentang bidadari seperti dalam cerita Jaka Tarub.

Lihatlah gaunnya. Juga mahkotanya. Panjang rambutnya? Jauh melebihi model iklan Sunsilk dari versi ke versi. Apa nggak capek tuh ngerawatnya? Pelaksana creambath di salon harus dikasih tip gede kalau kedatangan mereka. Kalau nggak, begitu mereka nongol akan muncul bisik-bisik, “Yah, mereka lagi. Capek ngurusinnya.”

Sebuah tafsir terhadap imaji tentang bidadari merah jambu dari pinggir hutan jati. Bidadari berwarna kesumba… :)

NB: Tipografinya sangat percaya diri kan?

Dari Burung Priyayi untuk Burung Kéré

16 October 2004 @ 19:38:48

jamu burung perkutut

Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja.

Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba.

Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc.

Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara “kung”-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci.

Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi [KBBI: priayi], burungnya para priyagung atawa kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya.

Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun — dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.

Ke Gunung Sana Aku Memandang

16 October 2004 @ 19:33:33

silet cukur cap tatra

Masihkah Anda menjumpai silet cap Gunung Tatra bikinan Republik Cekoslovakia [sekarang masuk Slovakia] di toko modern?

Tatra, pegunungan yang indah, dengan banyak puncak. Di Ceko juga ada industri Tatra, tapi bikin mobil. Jadi, ini pabrik Tatra yang mana?

Tatra yang gunung, sudah saya jumpai di Jalan Gejayan, dekat Pasar Demangan, Yogyakarta. Itu nama penjahit, pemiliknya asal Wonosari. Mungkin dia mengidentifikasikan Gunung Kidul dengan Tatra.

Sekarang pandangilah foto-foto sepia para opa dan eyang kakung yang tampak klimis. Boleh jadi mereka membabat kumis-jenggot-cambang dengan Tatra.

Oh ya, nanti dalam sebuah pesta koktil, carilah dipomat Ceko dan Slovakia. Tanyailah apakah mereka pernah memakai silet Tatra. :)

Hmm… silet, produk teknologi untuk membabat bulu yang tak diinginkan. Bank Dunia memasukkan Tatra sebagai indikator standar hidup rakyat Ghana dalam surveinya.

Saya nggak tahu apakah Badan Pusat Statistik pernah memasukkan barang ginian dalam surveinya. Padahal harga barang remeh, bukan hanya silet, itu termasuk indikator biaya hidup lho.

Maka tak mengherankan bila ada sebuah pemeringkatan biaya hidup kota-kota metropolitan dunia memasukkan harga MacD dan Coke [dan juga harga prangko untuk kirim kartu pos, selain ongkos taksi dari bandara ke pusat kota] untuk “indeks kemahalan”.

Gunung Tatra

Deru MSG

15 October 2004 @ 19:23:13

moto tjap mobil

Kayaknya sih fungsi monosodium glutamat [MSG] atawa moto itu buat meningkatkan kepekaan lidah terhadap rasa. Bagi yang nyandu MSG, lama-lama lidahnya kurang peka terhadap rasa, sehingga pilihannya adalah menambah takaran MSG dalam masakan supaya “lebih sedap”.

Maka lihatlah, tukang bakso dorong dan penjual soto tenda dengan enteng akan menambahkan MSG ke dalam mangkok sebelum diguyur kuah.

Restoran dan katering pun ikut-ikutan [memang sih, nggak semuanya], sehingga konsumen yang tak terbiasa dengan MSG akan merasakan tenggorokan panas dan gatal, sudah begitu ujung lidah seperti lidas [antara terbakar dan kepedesan].

Lebih sial lagi makanan terkemas, termasuk kecap, pun menambahkan MSG.

Lantas apa hubungannya lidah dengan mobil? Mungkin agar rasa lebih lekas meresap ke dalam lidah, secepat mobil Desoto melesat, dalam moto klasik bikinan Semarang ini.

Sebelum Ajinomoto, Sasa, dan kemudian Mi-Won menyerbu pasar, pemain lamanya ya sebangsa Moto tjap Mobil ini. Itulah masa ketika mobil Jepun belum merajai jalanan dan parkiran.

« Prev - Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)