How R.U. Pak Lesab? “Extra Fine, Thanx Lho!”
Johnny Walker. Jack Daniel’s. Kita boleh tak peduli sosok kedua nama itu karena tak tahu sejarahnya. Yang penting mereka itu kesohor.
Lantas siapa Pak Lesab? Saya juga nggak tahu who’s that guy. A local hero? Wah nanti dulu, local mana? Saya nggak tahu itu kertas sigaret kelas “extra fine” bikinan daerah mana.
Sekarang tataplah Pak Lesab. Belum terlalu tua. Gagah. Jantan. Sorot mata tajam. Berkumis. Hidung nggak pesek. Jemarinya agak lentik (kalau hidup di kota, pantesnya bisa main gitar/piano, dan menggambar), nggak segempal pisang susu sebagaimana jemari centeng komikal dicitrakan.
Kalau kita pinjam setting komik silat lama, Pak Lesab pastilah masih sanggup menggetarkan para gadis dan janda muda (adakah yang salah dengan janda muda sehingga sering buat ejekan?).
Para penikmat rokok tingwé [linting dhewe] mungkin membayangkan dirinya sebagai Pak Lesab yang extra fine, best quality pula, dan hanya beredar di pedesaan yang orangnya jarang ngomong Jaklish ["Jakarta-english" -- haha, ini istilah saya].
Pak Lesab. Nama yang langka. Kalau cuma “Lesab” tanpa “Pak” kayaknya cocok juga untuk judul novel, asal penulisnya cewek, dan isinya rada menabrak tabu-tabu lama. Ayayayayaya… ![]()
Sang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga ini berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?].
Sungguh hebat para perokok klembak menyan itu. Sudah tambakaunya pekat, dengan kandungan tar dan nikotin melebihi toleransi, eh masih diberi aroma kuburan pula. Hebat kan?


Dia kucing yang pintar akting, sehingga semua orang seperti tersihir, percaya kepada bualannya. Pengusaha yang kagum sama tokoh dongeng kucing bersepatu itu alah