How R.U. Pak Lesab? “Extra Fine, Thanx Lho!”

14 October 2004 @ 20:39:47

kertas sigaret tingweJohnny Walker. Jack Daniel’s. Kita boleh tak peduli sosok kedua nama itu karena tak tahu sejarahnya. Yang penting mereka itu kesohor.

Lantas siapa Pak Lesab? Saya juga nggak tahu who’s that guy. A local hero? Wah nanti dulu, local mana? Saya nggak tahu itu kertas sigaret kelas “extra fine” bikinan daerah mana.

Sekarang tataplah Pak Lesab. Belum terlalu tua. Gagah. Jantan. Sorot mata tajam. Berkumis. Hidung nggak pesek. Jemarinya agak lentik (kalau hidup di kota, pantesnya bisa main gitar/piano, dan menggambar), nggak segempal pisang susu sebagaimana jemari centeng komikal dicitrakan.

Kalau kita pinjam setting komik silat lama, Pak Lesab pastilah masih sanggup menggetarkan para gadis dan janda muda (adakah yang salah dengan janda muda sehingga sering buat ejekan?).

Para penikmat rokok tingwé [linting dhewe] mungkin membayangkan dirinya sebagai Pak Lesab yang extra fine, best quality pula, dan hanya beredar di pedesaan yang orangnya jarang ngomong Jaklish ["Jakarta-english" -- haha, ini istilah saya].

Pak Lesab. Nama yang langka. Kalau cuma “Lesab” tanpa “Pak” kayaknya cocok juga untuk judul novel, asal penulisnya cewek, dan isinya rada menabrak tabu-tabu lama. Ayayayayaya… :P

Emberrrrrrrrrr!

14 October 2004 @ 19:26:38

ember plastik cap pioneerSang pelopor itu bernama Pioneer. Sang paiyenir alat rumah tangga ini berbahan plastik, dari gayung, waskom sampai ember. Muncul pada awal 70-an [atau sebelumnya ya?]. Iklannya di TVRI menggambarkan ember tak pecah meski dijatuhkan dari helikopter [emang dari ketinggian berapa?].

Plastik hadir menggantikan ember-ember seng tebal milik ibu saya, yang dalam keadaan kosong bisa mengundang jeritan kalau rim atau bibir alas si ember menjatuhi jari kaki saya karena si ember terguling dari tumpukan tengkurap.

Plastik: begitu ngepop, kaya warna, enteng, lunak, dan menyiratkan kesementaraan [padahal bahan ini susah diurai oleh alam].

Plastik adalah modernitas. Tapi lihatlah sosok wanita berpinggang ramping yang berkebaya merah, berkain biru. Barangkali itulah potret wanita Indonesia saat itu. Mulai mengancik ke alam modern, karena ingin serbapraktis, tapi masih dijerat oleh busana lama yang menahan langkah bergegas [adakah dia memakai kelom geulis kayu made in Jalan Cihampelas Bandung?].

NB: stiker label berbentuk apel itu, alangkah ngepopnya…

Don’t Forget Isep Klembak Menyan, Jangan Kaget Kalo Dianggep Kuburan

13 October 2004 @ 3:48:50

aja lali, jangan lupa...Sungguh hebat para perokok klembak menyan itu. Sudah tambakaunya pekat, dengan kandungan tar dan nikotin melebihi toleransi, eh masih diberi aroma kuburan pula. Hebat kan?

Mereka nggak pusing, nggak mual, bahkan terbatuk pun tidak. Entah dari dewa apa daya tahan itu datang.

Dari jarak 30 meter (kalau anginnya membantu) aroma klembak menyan ini akan tercium.

Para perokoknya ada di wilayah Dulangmas (Kedu, Magelang, Banyumas), yaitu wilayah yang pelat nomor kendaraannya berawalan AA dan R. Di wilayah lain juga ada yang doyan, tapi sedikit.

Sekarang pengisap rokok sesaji ini semakin menipis. Anak muda pedesaan hanya doyan rokok berfilter. Di kawasan Mageleng dan pinggiran Yogyakarta, rokok pemusing-pemual yang pernah popular adalah Djolali, bikinan Mas Bustami.

Saya pernah ke rumah yang merangkap pabrik (tanpa cerobong lho) milik Mas Bustami, dekat Terminal Bus Muntilan, mau kenalan, tapi dia lagi ke luar kota. Dari Yogya saya naik taksi ke Muntilan, pingin tahu orang macam apakah yang penuh percaya diri memasang potret dalam produknya itu. Ternyata itu foto Mas — tepatnya: Pak, bahkan Mbah – Bustami tahun 70-an. Keren.
(Pindahan dari tempat lama)

Wenter Wantek

12 October 2004 @ 20:29:01

raja wenter jambon, funky kan?selamanya tulen, sungguh hebat
Kata lama “wantek”, sebagai sesuatu yang teguh, tak mudah luntur, rupanya berasal dari dunia wenter.

Inilah masa lalu Indonesia ketika industri tekstil dan garmen belum maju, sehingga cara untuk memperkaya tampilan adalah dengan mewarnai pakaian sendiri.

Bisa baju, celana atau kaos baru yang diubah warnanya, bisa juga pakaian lama dicelup ulang supaya nggak kelihatan pudar.

Pilihan warnanya juga oke lho. Ada “jambon” (merah jambu), tapi tak mendekati pink-nya Barbie. Ada pula oranye tua.

Saya tak tahu, siapa pengguna warna-warni berani itu pada masa lalu. Masa sih pantalon dril putih dicelup jadi jambon atau oranye? Pangkeh bener!

Kini, pada abad ke-21, masihkah wenter dijual? Diskonan di Matahari dan Ramayana saja sudah murah, ngapain juga berepot diri dengan main celup. Repot? Baca aturan pakai dalam gambar! :)

wenter wantek

(Pindahan dari tempat lama)

Kucing Belagu

11 October 2004 @ 20:49:09

kucing bersepatuDia kucing yang pintar akting, sehingga semua orang seperti tersihir, percaya kepada bualannya. Pengusaha yang kagum sama tokoh dongeng kucing bersepatu itu alah Joe Kamdani, pendiri PT Datascrip.

Dia terkesan oleh kepercayaan diri si kucing dalam berhubungan dengan orang-orang besar. Ketika memulai bisnis dia kikuk, tak tahu table manner. Dan setelah sukses, dia tak malu mengungkapkan kisah muram-lucu masa lalu.

Bagaimana dengan kertas sigaret ini? Dia saya temukan di Stasiun Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah, sepuluh tahun silam. Saat itu saya traveling dan bikin foto-foto hitam putih di atas kereta rakyat Solo-Semarang berbangku kayu selama enam jam (kalau pakai mobil, via Boyolali-Salatiga, cuma tiga jam), menyusuri hutan jati, bersama para pedagang antardesa-antarkecamatan.

Di antara mereka ada pedagang gentong gerabah, yang bawaannya memenuhi gerbong. Bagusnya, dari pedagang pisang saya bisa membeli pisang, dan angsung memakannya di atas kereta. Tiketnya murah, lebih murah daripada sebungkus rokok, tak sebanding biaya hotel di Solo dan Semarang. :)

Catatan: bagi sebagian orang Jawa, “sigaret” tak berarti rokok melainkan “kertas untuk melinting rokok”.

« Prev - Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)