Mentari dari Belakang Rumah

24 November 2004 @ 21:46:07

kecap cap matahari cirebon

Matahari. Sebagai benda panas menyilaukan, yang hanya bisa ditatap saat awal fajar dan senja, sosok ini sangat diakrabi, sehingga setiap anak manusia bisa menggambarnya.

Begitu akrab, menjadi bagian dari hari, menjadi penanda hari, sehingga penutur bahasa kita menyebutnya matahari, dengan “m” kecil. ‘

Lalu datanglah polisi bahasa. Sebagai nama planet, nama tempat, jadilah penerang dunia itu Matahari [dengan "M" kapital], menemani bumi dan Bumi.

Berapa banyakkah merek dan perusahaan yang memakai matahari, selain toko serbada itu? Instansi pengurus merek yang tahu. Juragan kecap dari Cirebon ini pun mungkin tak hirau.

Saya tak tahu sejak kapan merek ini keluar. Yang saya tahu, dia adalah bagian dari oleh-oleh khas Cirebon, menemani sirip Tjampolay.

Merek yang biasa: Matahari. Rasanya enak. Lihat alamat pembuatnya: di “belakang rumah”. Oh ya, dia tak menyebut diri nomor satu. Yang saya belum jelas adalah maksud tulisan “alam” di atas “Matahari”.

Cegluk, Hijau Kesumba

19 November 2004 @ 21:40:50

kesumba cap stoplesAda merah kesumba, karena kesumba sebagai pewarna memang merah. Sejak itu semua pewarna adalah kesumba [Jawa: sumba, somba]. Bahwa ada warna lain, itu bukan soal.

Kesumba adalah pewarna makanan, karena mata manusia [normal] yang tidak monokrom itu diandaikan akan merangsang otak setelah terpapari makanan yang berwarna-warni.

Jajanan pasar tradisional maupun jajanan modern bikinan pabrik [faktanya: keduanya bisa dijual di pasar yang sama] juga butuh pewarna. Yang menyedihkan, ada saja produsen jajanan [home industry?] yang menggunakan pewarna sembarangan. Temuan masa lampau oleh YLKI maupun Ditjen POM Depkes malah mendapati makanan dengan pewarna tekstil!

Saya tak tahu apakah pewarna ini aman. Disebut terdaftar, tapi di mana? Kantor Dinas Perdagangan setempat? Depkes? FDA? Tampaknya pewarna ini cukup sakti, biarpun sudah dikantongi plastik, baru kemudian dibungkus kertas, masih saja taburan ronanya nyêlèprèt. Jemari pemegang bungkus akan langsung kehijauan, apalagi jika berkeringat.

Apapun warnanya, apapun rasa penganannya, merek Stoples menjanjikan ini: sedikit bisa menjadi banyak, menggenang dalam wadah bening siap ciduk, sehingga mengundang cegluk.

Kembali Bersinar, Tanyailah Batman

15 November 2004 @ 21:34:16

blau atau blao pemutih pakaian

Ajaib! Yang namanya pemutih model lama ini ternyata masih ada. Lidah kampung bilang “blau” dan “blao”, begitu pula produsennya. Sesuai nama [mungkin dari pelafalan lokal terhadap bahasa Belanda], warnanya memang biru, berupa bongkahan untuk dilarutkan ke dalam air, lantas air kebiruan itu buat merendam pakaian putih yang sudah kekuningan.

Apakah nantinya kain itu akan kembali putih? Belum tentu. Kadang cuma jadi putih kebiruan, dan oleh penggemarnya itu sudah diyakini lebih bagus ketimbang mangkak atau putih kekuningan.

Apa boleh buat, ketika bleaching belum banyak dikenal, dan klorin yang kurang ramah lingkungan pun belum jadi kebutuhan, maka pembiruan kain sudah dianggap memadai. Biru yang menggenangi putih, mungkin, dianggap lebih tulus ketimbang putih yang memudar jadi kekuningan.

Pemblauan ini ditempuh setelah penglanthangan, yaitu menggelar jemuran putih di atas rumput atau perdu semalaman agar kain kembali menjadi putih bersinar, dianggap kurang efektif.

Lantas, kenapa mereknya Kalong, apakah satwa itu melambangkan sesuatu yang cerah, efektif, atau apalah yang pokoknya pas buat blau? Saya tak tahu. Sungguh.

Batman mungkin bisa menjawab. Dia, menurut kawan saya, adalah putra Pekalongan.

Hari Baik, Bulan Baik, Terimalah Saya

13 November 2004 @ 21:27:10

teh celup arab

Mestinya setiap hari adalah hari baik. Begitu pun setiap pekan, bulan, tahun, bahkan sepanjang tarikh. Semuanya adalah masa yang baik. Waktu untuk bercermin. Saat untuk memperbaiki diri.

Maka sudah semestinya saya malu jika meminta maaf selewat Anda semua menyelesaikan buka terakhir penutup Ramadan, atau serampung Anda menjalani Salat Id esok. Bukan sejak kemarin, jauh hari sebelum ajakan bercermin diri, menaklukkan diri, dan terlahir kembali, itu tiba.

Memohon maaf memang semudah menyeduh teh celup. Instan. Ringan. Sekelebatan.

Ketika saya telah memperoleh maaf dari Anda, maka sungguh kurang ajar, saya kadang cuma terlarut dalam nikmat sesaat, senikmat seruputan teh limau hangat yang telah mengendap tiga menit dalam cangkir setelah dituangi air panas.

Sungguh kurang ajar, jika dalam diri saya tersimpan keyakinan bahwa stok teh instan — selain juga bungkusan teh melati tubruk — berlabel “minta maaf” dan “saya maafkan” masih selalu ada sedia, esok tinggal mengambil, menyeduhnya dengan air panas…

Sungguh kurang ajar, sangat tak terajar, jika permintaan maaf yang ringan itu pun hanya sekadar langkah lanjutan dari laku luput yang dengan enteng saya letupkan, tanpa peduli luka hati orang lain, tanpa menyadari radang jiwa pihak lain.

Jika setiap hari adalah hari baik, dan seluruh rentang masa adalah masa baik, mestinya saya tak melihat semua hal sebagai sebuah laku instan yang minim penghayatan. Maafkan saya, yang selama ini menempatkan blog seperti anak kecil memanfaatkan papan tulis hadiah orangtua, yang boleh saya tulisi apa saja, dengan anggapan kalau ada yang salah tinggal saya hapus, padahal mata yang telanjur melihat dan membaca telah terpapar pedas sampai terluka.

Selamat ber-Idul Fitri. Hari-hari lalu saya tak berpuasa dan bertarawih selayaknya tuntunan Ramadan Anda, karena jalan saya berbeda. Saya pun tidak menyatakan “selamat ber-Idul Fitri kepada Anda yang merayakan”. Kenapa?

Saya pun ikut merayakannya. Dengan memberi salam, bertandang ke tetangga dan sanak saudara, menyebar SMS, mengirim kartu ucapan. Pada hari terakhir puasa, kami sekeluarga membeli selongsong ketupat, dan mengisinya, lalu menanaknya, sementara kompor sebelah mengolah opor dan sambal goreng, karena kami ingin terciprati keriangan itu; nanti masakan itu akan bercampur dengan hidangan lain dari keluarga lain yang telah menggenapkan puasanya.

Lebih dari itu semua, saya merasa telah ikut merayakan dan mendapatkan berkah [dan semoga hikmah] Idul Fitri justru dari pancaran cerah wajah-wajah yang telah saya salami maupun sekadar berpapasan. Setiap sampan dalam Ajaran Sungai Besar Kehidupan adalah berkah bagi sampan lain beserta penumpangnya.

Salam damai,

Saya, Wuk, Day & Ras

antyo rentjoko & istri Day & Raras

Baru yang Lama

12 November 2004 @ 21:22:36

kopi cap hidup baru (hiba)

Saya tak tahu pasti sejak kapan Indonesia mengenal “hidup baru” sebagai sebuah istilah yang [sempat] menjanjikan. Tahun 60-an kah? Orang menikah dikasih ucapan “selamat menempuh hidup baru”. Armada bus dilabeli “Hidup Baru”, disingkat Hiba. Olah napas dikasih nama Orhiba [olahraga hidup baru].

Itu istilah asli, yang digali dari kosakata dan pengalaman Indonesia sendiri, atau sekadar terjemahan dari “new life“?

Nah, sambil menunggu peminat bahasa berbagi kesaksian di sini, ada baiknya Anda bertanya kepada diri sendiri: apakah ketika mendengar “hidup baru” itu Anda membayangkan sesuatu yang tak sekadar “bukan yang lama” tapi juga sesuatu yang menjanjikan perbaikan?

Lihatlah bungkus kopi bubuk, yang saya dapat tahun 2003 ini. Kesan apa yang Anda dapatkan?

Saya sendiri sedang menimbang-nimbang, apa yang sebetulnya tersaji dari hasil cetak sederhana di atas kertas payung ini. Apa makna angka “27762″ di kanan gambar itu? Tentu bukan sekadar temannya “gurih” di kiri gambar.
Tahun kelahiran?

Ah yang penting kopi ini menyatakan “dijual di mana-mana ada di warung”. Sebuah kalimat gaya lama, warisan tuturan Melayu zaman Hindia Belanda, tapi cermat dalam satu hal. Penulisan “di” sebagai kata depan, bukan awalan, sudah tepat — suatu hal yang masih membingungkan sebagian sarjana S1 maupun S2! :)

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)