Masa Lalu yang Manis? Masa Kini yang Keras-pahit?

Saya tak tahu kenapa gula terkemas dari Sugar Group [layanan pelanggan: 021 572 2678] yang dipasarkan mulai tahun 2000-an ini memakai desain vintage. Supaya lebih manis? Lidah payah saya pernah mendapati, sesendok teh gula putih ini dan sesendok teh gula mangkak tanpa merek, lebih manis yang kedua.
Gula. Tepatnya: gula pasir. Sering jadi masalah karena jadi barang selundupan. Para dokter pun menganjurkan pembatasan untuk penderita diabetes. Karena gula pasir maka kita mengenal tebu sebagai bagian dari tanam paksa [tapi Steve Liem, eh Teguh Karya, dalam November 1828 menampilkan patebon di Bantul, padahal tebu baru masuk pada 1870, sebelum Perang Diponegoro yang jadi latar waktu film].
Karena tebu pula kita punya industri yang [saat itu] modern, yaitu pabrik-pabrik gula, tapi [calon] bangkainya kini menarik untuk eksplorasi fotografis. Lantaran gula, terbentulah Akademi Gula Negara yang sekarang bernama Lembaga Pendidikan Perkebunan di Balapan, Yogyakarta. Orang laboratorium gula didikan lembaga itu dulunya dijuluki “dokter gula” karena selalu pakai baju panjang putih ala praktikum labo.
Dari gula terciptalah sejarah Oey Tiong Ham, taipan multinasional pertama di pra-Indonesia [kalau tak salah, RNI yang BUMN di Mega Kuningan itu, adalah salah satu warisannya].
Masih menyangkut gula, maka dua seteru menandatangani perjanjian jual beli perusahaan tanpa tatap muka, yaitu Anthony Salim dan “salah satu putra mahkota taipan lain”. Direktur kedua belah pihak harus naik-turun lift bawa segepok dokumen sebelum para bos yang berseteru menandatangani akta yang melibatkan BPPN via Holdiko itu.
August 22nd, 2007 at 5:08 pm
kenapa semuanya ttg gula??? makasih infonya, aku jd tau seluk beluk ttg gula.