Kekejaman dalam Merek Dagang

Saya tak ingat persis puisi Taufiq Ismail ketika memrotes adu tinju bayaran di ring. Kalau tak salah [mohon Anda koreksi] ada “nenekku berpesan, jangan sekali-kali kau mengadu binatang”.
Adu binatang memang memedihkan kita. Dari adu jangkrik, adu ikan, adu domba, sampai adu jago dan entah adu apa lagi. Makhluk-makhluk itu dilatih untuk saling menyakiti dengan akibat cacat bahkan mati.
Makhluk-makhluk itu bukan berkelahi di alam bebas karena naluri — dengan atau tanpa manusia penonton. Makhluk-makhluk itu didorong, dipaksa, untuk berkelahi, semata demi hiburan dan pertaruhan.
Saya tak menutup mata, bahwa pada masyarakat tertentu, adu jago adalah bagian dari tradisi — tentu dengan gerundelan: memangnya kalau sudah jadi tradisi berarti benar?
Saya tak habis pikir kenapa Jonkoping-Vulcan, produsen korek api tenar dari Swedia, negeri pecinta damai itu [tapi Olaf Palme, sang perdana menteri, dijemput ajal oleh letusan Smith & Wesson, di jalanan, sepulang dari bioskop bersama istri], menambahkan merek lokal di Indonesia berupa adu ayam.
Sesuatu yang hidup dalam masyarakat, memang menggoda untuk dipermerekkan. Tapi kenapa harus adu jago? Kenapa?