Baru yang Lama

Saya tak tahu pasti sejak kapan Indonesia mengenal “hidup baru” sebagai sebuah istilah yang [sempat] menjanjikan. Tahun 60-an kah? Orang menikah dikasih ucapan “selamat menempuh hidup baru”. Armada bus dilabeli “Hidup Baru”, disingkat Hiba. Olah napas dikasih nama Orhiba [olahraga hidup baru].
Itu istilah asli, yang digali dari kosakata dan pengalaman Indonesia sendiri, atau sekadar terjemahan dari “new life“?
Nah, sambil menunggu peminat bahasa berbagi kesaksian di sini, ada baiknya Anda bertanya kepada diri sendiri: apakah ketika mendengar “hidup baru” itu Anda membayangkan sesuatu yang tak sekadar “bukan yang lama” tapi juga sesuatu yang menjanjikan perbaikan?
Lihatlah bungkus kopi bubuk, yang saya dapat tahun 2003 ini. Kesan apa yang Anda dapatkan?
Saya sendiri sedang menimbang-nimbang, apa yang sebetulnya tersaji dari hasil cetak sederhana di atas kertas payung ini. Apa makna angka “27762″ di kanan gambar itu? Tentu bukan sekadar temannya “gurih” di kiri gambar.
Tahun kelahiran?
Ah yang penting kopi ini menyatakan “dijual di mana-mana ada di warung”. Sebuah kalimat gaya lama, warisan tuturan Melayu zaman Hindia Belanda, tapi cermat dalam satu hal. Penulisan “di” sebagai kata depan, bukan awalan, sudah tepat — suatu hal yang masih membingungkan sebagian sarjana S1 maupun S2! ![]()