Hari Baik, Bulan Baik, Terimalah Saya

Mestinya setiap hari adalah hari baik. Begitu pun setiap pekan, bulan, tahun, bahkan sepanjang tarikh. Semuanya adalah masa yang baik. Waktu untuk bercermin. Saat untuk memperbaiki diri.
Maka sudah semestinya saya malu jika meminta maaf selewat Anda semua menyelesaikan buka terakhir penutup Ramadan, atau serampung Anda menjalani Salat Id esok. Bukan sejak kemarin, jauh hari sebelum ajakan bercermin diri, menaklukkan diri, dan terlahir kembali, itu tiba.
Memohon maaf memang semudah menyeduh teh celup. Instan. Ringan. Sekelebatan.
Ketika saya telah memperoleh maaf dari Anda, maka sungguh kurang ajar, saya kadang cuma terlarut dalam nikmat sesaat, senikmat seruputan teh limau hangat yang telah mengendap tiga menit dalam cangkir setelah dituangi air panas.
Sungguh kurang ajar, jika dalam diri saya tersimpan keyakinan bahwa stok teh instan — selain juga bungkusan teh melati tubruk — berlabel “minta maaf” dan “saya maafkan” masih selalu ada sedia, esok tinggal mengambil, menyeduhnya dengan air panas…
Sungguh kurang ajar, sangat tak terajar, jika permintaan maaf yang ringan itu pun hanya sekadar langkah lanjutan dari laku luput yang dengan enteng saya letupkan, tanpa peduli luka hati orang lain, tanpa menyadari radang jiwa pihak lain.
Jika setiap hari adalah hari baik, dan seluruh rentang masa adalah masa baik, mestinya saya tak melihat semua hal sebagai sebuah laku instan yang minim penghayatan. Maafkan saya, yang selama ini menempatkan blog seperti anak kecil memanfaatkan papan tulis hadiah orangtua, yang boleh saya tulisi apa saja, dengan anggapan kalau ada yang salah tinggal saya hapus, padahal mata yang telanjur melihat dan membaca telah terpapar pedas sampai terluka.
Selamat ber-Idul Fitri. Hari-hari lalu saya tak berpuasa dan bertarawih selayaknya tuntunan Ramadan Anda, karena jalan saya berbeda. Saya pun tidak menyatakan “selamat ber-Idul Fitri kepada Anda yang merayakan”. Kenapa?
Saya pun ikut merayakannya. Dengan memberi salam, bertandang ke tetangga dan sanak saudara, menyebar SMS, mengirim kartu ucapan. Pada hari terakhir puasa, kami sekeluarga membeli selongsong ketupat, dan mengisinya, lalu menanaknya, sementara kompor sebelah mengolah opor dan sambal goreng, karena kami ingin terciprati keriangan itu; nanti masakan itu akan bercampur dengan hidangan lain dari keluarga lain yang telah menggenapkan puasanya.
Lebih dari itu semua, saya merasa telah ikut merayakan dan mendapatkan berkah [dan semoga hikmah] Idul Fitri justru dari pancaran cerah wajah-wajah yang telah saya salami maupun sekadar berpapasan. Setiap sampan dalam Ajaran Sungai Besar Kehidupan adalah berkah bagi sampan lain beserta penumpangnya.
Salam damai,
Saya, Wuk, Day & Ras
