Permen, Kembang Gula, Gula-gula

Pengasong di atas bus kota menyebutnya permen jahe. Memang berbahan jahe dan entah apa lagi, ditambah gula, jadilah kenyil-kenyil manis agak alot.
Kalau saya tak salah ingat, sekantong berisi tak sampai sepuluh biji harganya Rp 500. Si pembuat menyebutnya “tingting jahe”, dengan tambahan kata lama “bonbons” [uh, warisan Belanda].
Kalau porsi jahenya berlebih ya makin pedaslah rasanya. Begitu pedasnya sehingga si pemakan [atau si pengemut eh, pengulum?] akan segera ngacir, seolah mendapat kibaran bendera start sarung Hanoman seperti yang tergambar pada bungkus.
Permen? Bapak saya, sebagai wong Yoja [Yogya] dulu sering mengoreksi saya. Kalau pedas, itu permen karena mengandung peppermint. Kalau manis, ya kembang gula.
Itulah sebabnya angkatan lawas di Yogya masih menyebut “mbanggula” [baca: mbanggulo]. Adapun gula-gula, itu istlah Melayu, yang bisa juga diartikan sebagai simpanan, atau dalam istilah sekarang cem-ceman [ada yang tahu arti asli kata ini, hayo?].

