teh cap cah angonKalau saja yang ia gembalakan adalah sapi, maka jadilah bocah itu cowboy. Meskipun begitu, gembala kerbau sempat menjadi ikon, setidaknya simbol yang menjadi ingatan kolektif kita, tentang bocah desa yang menikmati dunianya.

Penggembala kerbau meniup seruling? Hmmm, romantis, eksotis. Penerbit Kompas pun menjadikannya sebagai logo — sehingga ada yang menyebut buku Kompas sebagai “buku cap kebo”.

Penggembala membaca buku? Saya pernah melihatnya dalam gambar-gambar lama. Gambar yang berasal dari suatu masa ketika iliterasi di Indonesia masih membengkak, dan SD Inpres belum didirikan di banyak desa.

Romantiskah kehidupan para gembala ternak itu? Bocah-bocah angon itu [biasa disingkat "cah angon"], atau anak-anak penggembala, di mata sebagian keluarga priyayi Jawa [dulu] adalah anak-anak kasar bahkan liar.

Mereka tak kenal unggah-ungguh atau manner. Menyumpah serapah semaunya. Berteriak sesukanya karena mereka terbiasa bermain di luar ruang. Mereka adalah anak-anak bebas. Jauh dari suasana seruputan teh melati wangi di rumah priyayi.

teh cap cah angon

 

pil jamu anary

Dan Imponk pun bertanya: “Cantik. Bagaimana menurutmu?”

Sebuah pertanyaan ringkas dari seorang blogger produktif, tapi susah bagi saya untuk menjawabnya secara ringkas pula.

Maka saya pun ingin meneruskan pertanyaannya kepada produsen jamu bergambar wanita bersari India ini. Disebutkan ini khusus untuk wanita. Tak dijelaskan apa yang akan terjadi apabila pria meminumnya.

Kalau masalahnya adalah bikin badan jadi sehat, wajah berseri-seri, mestinya jamu dengan merek yang bertipografi gagah ini[pakai font sebangsa Gothic] bisa menjadi obat uniseks.

 

jamu gakian sambungoyot

Tubuh manusia ibarat pohon. Memerlukan akar agar kuat berdiri atau tegak duduk seperti arca.

Tapi apakah manusia harus diam berdiri, atau duduk diam membatu, tidak boleh bergerak? Susah juga untuk menemukan jawab, kenapa tubuh lungkrah karena penat itu bisa diibaratkan pohon dengan oyot [akar] terputus — setidaknya menurut si pembuat jamu yang kemudian saya tafsirkan semaunya.

Tak lebih dan tak kurang jamu ini tiada beda dengan jamu pegal linu. Dari mana datangnya pegal? Dari mana datangnya petaka pemutus akar?

Lihatlah gambar. Sebagian besar karena bekerja. Yang disebabkan oleh olahraga cuma satu kasus, yaitu angkat besi. Ini jamu untuk rakyat, bikinan industri rumahan. Jangan mengharapkan gambar orang boling, golf dan sukan ekstrem dengan sepeda gunung.

Eh, apa tadi, rakyat? Lihatlah baik-baik nama pembuatnya: PT Pusaka Kraton. Barangkali mereka itu kaum menak yang merakyat.

 

teh cap bandulan

Ada saja yang ajaib dari merek teh. Kalau kita sok bercanggih-canggih dalam menerka maksud si pemilik merek, maka boleh jadi malah nggak akan nemu hasil.

Lha gimana, dunia anak-anak ternyata bisa dijadikan merek teh. Itu sesuatu, yang setahu saya, jarang. Memang sih bisa muncul gugatan: mereknya itu “bandulan” atau “anak main bandulan?”

Sajian gambarnya juga unik, menyerupai ilustrasi buku anak-anak dan mural di tembok pagar taman kanak-kanak, padahal tak ada keterangan semacam “ini teh bagus buat kesehatan putra-putri Tuan dan Nyonya”.

Sebuah gaya yang naif kadang memang memancarkan kejujuran — tapi orang sinis akan bilang, “gaya naif mencerminkan kesembronoan dan kedangkalan”.

Seolah tak ada bidang yang masih sanggup memuat teks, maka tulisan “Depkes RI…” ditaruh di tiang ayunan.

Sungguh sebuah bungkus yang memikat. Mana tehnya dijanjikan “wangi” dan “harum” [lha apa bedanya?] pula. Sebuah hasil dari proses “pemasakan” — bukan “pabrik” maupun “pengolahan”.

Jangan-jangan si juragan teh memang mencoba menyodorkan istilah yang spesifik untuk industri teh, sama seperti “brewery” untuk bir, “winery” untuk anggur, “bakery” untuk roti, “confectionery” untuk permen + manisan, dan seterusnya…

Tapi, ya tapi, kenapa bukan “patehan”? Di Yogya ada kampung bernama Patehan, dulunya tempat untuk mengolah teh untuk Keraton.