Leluhur Revisited

Wartin? O, itu penyingkatan untuk Warung Tinggi, produsen kopi di daerah pecinan Jakarta.
Sempat berlama-lama dengan nama Tek Soen Hoo [lantas Orde Harto yang rasis itu melarang segala nama yang mencina], lantas ganti nama. Ada di Jalan Hayam Wuruk, bertahan sejak jalan itu masih bernama Molenvliet Oost, 1878, sampai kemudian dijarah Kerusuhan Mei 1998, termasuk alat giling antiknya.
Sekarang kantor pusatnya ada di Jalan Batu Jajar, Jakarta Pusat, dan pengolahannya ada di Tangerang.
Mulanya Liauw Tek Siong tak tak meniatkannya sebagai warung kopi, melainkan kedai nasi. Tapi yang tersohor kemudian justru dia punya kopi, sampai kemudian memasok Sekretariat Negara dan Kedutaan Besar Jepang untuk kebutuhan ngupi.
Salah satu hasil kemasan anyarnya, setelah Wartin bangkit lagi, ya justru ini: dalam kertas kasar coklat.
Generasi keempat dari keluarga itu sekarang membuka jaringan kedai Bakoel Koffie di Jakarta.
Setiap cabang dinamai sesuai lokasi: Bakoel Barito, Bakoel Kemang, Bakoel Cikini, Bakoel Juanda, Bakoel Pondok Indah Mall dan entah apa lagi besok.
Bakoel memberi suasana rumah, terutama yang di Barito itu. Kecil dan hangat. Barista yang ramah, berambut ikal, berkulit terang, bernama Takim. Sepanjang memungkinkan dia mau menemani anak kecil yang dibawa orangtuanya bertandang ke sana.
