Gembala Kerbau bukan Koboi
Kalau saja yang ia gembalakan adalah sapi, maka jadilah bocah itu cowboy. Meskipun begitu, gembala kerbau sempat menjadi ikon, setidaknya simbol yang menjadi ingatan kolektif kita, tentang bocah desa yang menikmati dunianya.
Penggembala kerbau meniup seruling? Hmmm, romantis, eksotis. Penerbit Kompas pun menjadikannya sebagai logo — sehingga ada yang menyebut buku Kompas sebagai “buku cap kebo”.
Penggembala membaca buku? Saya pernah melihatnya dalam gambar-gambar lama. Gambar yang berasal dari suatu masa ketika iliterasi di Indonesia masih membengkak, dan SD Inpres belum didirikan di banyak desa.
Romantiskah kehidupan para gembala ternak itu? Bocah-bocah angon itu [biasa disingkat "cah angon"], atau anak-anak penggembala, di mata sebagian keluarga priyayi Jawa [dulu] adalah anak-anak kasar bahkan liar.
Mereka tak kenal unggah-ungguh atau manner. Menyumpah serapah semaunya. Berteriak sesukanya karena mereka terbiasa bermain di luar ruang. Mereka adalah anak-anak bebas. Jauh dari suasana seruputan teh melati wangi di rumah priyayi.
