Kembali menjadi gadis? Hmmmm…
Monalisa, bukan Mona Lisa [1479-1528]. Nama yang kedua itu simbol kecantikan, menurut pengagum Leonardo da Vinci [1452-1519]. Mona Lisa kemudian bernama La Giocinda setelah diperistri Francesco del Giocondo. Diduga Mona Lisa dilukis sekitar 1503-1505, di Florence, Italia. Terkabar da Vinci amat mengagumi kecantikan Mona Lisa, sehingga ke mana pun dia pergi, lukisan cat minyak di atas kayu seukuran 77 cm x 53 cm itu pun dibawanya, sampai kemudian dibeli oleh orang Prancis. Mungkin karena alasan itulah maka PJ Jaspuri [PO Box 4944 Jakarta, menurut bungkus -- tanpa kode pos] bikin jamu Monalisa yang “for women only“, dengan janji bisa “kembali [menjadi] gadis”. Entah apa maksudnya. Saya juga kurang tahu apakah si produsen membuat jamu untuk pria dengan janji “kembali [menjadi] jejaka [culun]“. Lho siapa tahu kan? Tapi hmmmm… coba lihat ilustrasinya. Pose mengangkat lengan yang terbuka, dengan dagu terangkat, muka agak tengadah, kalau saya tak salah tebak, adalah gaya modern. Belum jamak pada masa renaisans. Gaya mengangkat lengan itu, konon, sensual — mana pakai setengah terpejam pula [dan lehernya jenjang, lagi]. Disukai pria gitu. Tak percaya? Lihat saja foto para model di internet dan majalah pria.
NB: Seperti umumnya galian singset, jamu ini juga bertuliskan “khusus untuk wanita”– tapi tak dijelaskan apa bahayanya jika diminum oleh pria
Bandingkan dengan obat flu yang memuat peringatan bisa bikin ngantuk, berbahaya bagai orang yang menjalankan mesin. ![]()
Namanya sok klasik: koffie boeboek. Terbikin oleh Podoredjo Magelang, Jawa Tengah. Mereknya? Dekat dengan kopi: Tjangkir.
Yang satu adalah kertas sigaret, bergambar penari sedang bersimpuh, tapi mereknya Sinden. Yang lainnya adalah rokok siong atau klembak menyan yang baunya bikin mabuk dan [menurut gurauan] bisa mengundang setan — gile, paru-paru dijadiin nisan kuburan. Pesinden dan sintren, adalah primadona yang menjadi magnet dalam tontonan rakyat. Penonton pria terbuai dan mabuk asmara mapun mabuk ciu karena mereka. Bagi penikmatnya, mereka adalah simbol pemanjaan dorongan hedonistis. Sama seperti orang merokok: semata demi kenikmatan, bahkan rokok secara medis tak membawa faedah. Tapi ya itulah, mereka layak diper-merek-kan. Lantas kenapa ada “Extra” dalam Sinden? Apanya yang ekstra? Terus kenapa pesinden bergaya seperti penari? Apakah dia kerja rangkap seperti penyayi modern: ya menyanyi, ya menari?
Saya menemukan ini di toilet kantor lama, sekitar 1995. Saya pikir kantong abate untu membasmi jentik nyamuk. Setelah saya amati ternyata… aha! Obat ketek!