jamu telat bulan cap kates

Papaya. Pepaya. Katès, kata wong Jawa. Gandhul, kata wong Banyumas.

Buah murah. Bermaslahat. Daunnya juga. Nggak tahu batangnya untuk apa.

Buah bersahaja, ada di segala musim, nggak mahal, sehingga jadi lagu entah karya siapa itu: “papaya, mangga, dst… dibeli dari Pasar Minggu…”

Lantas apa hubungan pepaya dengan kalender hormonal wanita? Saya nggak tahu karena saya bukan dokter, bukan wanita, bukan petani pepaya, dan bukan peracik jamu.

Yang pasti saya setuju dengan Bu Pringgosusanto: badan harus dibikin sehat. Kalau bisa sih lebih ringkas: badan harus sehat — tanpa sisipan “dibikin” — yang artinya selalu always gitu lho.

Lantas apa feadah itu jamu? Menormalkan jadwal? Mas Simoelliki [mungkin dari " Si Moel Iki"] pasti lebih tahu. Yang penting “…badan tentu sehat dan kuat lama…”.

Coba Anda cermati semua teks dalam kemasan yang rada ngepop art itu. Untuk aksara Jawa, bertanyalah kepada Lantip Trengginas [itu nama acara cerdas tangkas berbahasa Jawa di TVRI Yogya duluuuuu sekali].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>