kuaci cap gajah bikinan semarang

Andaikan gajah hanya doyan kuaci alangkah repotnya si pawang. Berapa kuintal kuaci per hari harus diempankan kepada di besar tambun dewasa? Berapa hektar kebun semangka, melon, waluh [labu merah, Cudurbita moschata], dan sejenisnya yang harus tersedia untuk konsumsi seekor gajah per minggu?

Lho, siapa tahu itu fantasinya si pembuat kuaci dari Semarang. Saya tak tahu apakah Firma Gadjah itu merupakan kelanjutan dari UD Widagdo yang dulu juga mengemas kuaci dengan satwa yang sama.

Hmmm… kuaci. Setahu saya ini takkan bikin kenyang, karena untuk mencapai titik kenyang dibutuhkan waktu lama dan daya tahan tinggi terhadap kebosanan. Juga daya tahan lidah terhadap gerusan garam, terutama untuk kuaci hitam asin.

Kuaci: dibikin dan kemudian dimakan sekadar supaya mulut tidak nganggur. Jadi sungguh kurang layak kalau itu dijadikan salah satu materi sumbangan kepada korban bencana. Saya sendiri kurang begitu suka kuaci, termasuk kuaci putih yang lebar garing dan kuaci lain impor dari RRC yang punya aneka rasa [termasuk rasa teh hijau dan leci].

Kenapa kurang suka? Saya tidak pernah bisa membuka kuaci cukup dengan gigitan dan lidah. Saya masih harus membukanya dengan menggigitnya dalam posisi kuaci itu berdiri, lantas saya buka dengan jari. Sungguh melelahkan. Tak sepadan dengan entengnya perolehan.

Adakah nanti kuaci yang terhidang tanpa kulit? Syaratnya: kuaci itu dikupas oleh mesin, bukan oleh gigitan orang. Emang buruh gigit kuaci dibayar berapa supaya mau?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>