obat bau ketiakSaya menemukan ini di toilet kantor lama, sekitar 1995. Saya pikir kantong abate untu membasmi jentik nyamuk. Setelah saya amati ternyata… aha! Obat ketek!

Karena saya waktu itu belum dapat mengendalikan diri maka saya tenteng barang itu sambil teriak-teriak, “Hayo ngaku, siapa yang barusan pakai ini di toilet?”

Mendadak nongollah anak baru itu, si culun dari Yogya, sambil senyum tersipu. “Itu tadi saya, Mas. Bagus kok buat ngilangin bau,” katanya.

Saya segera maklum. Dia memang harus mengusir bau, karena sore selepas kantor akan kencan dengan sekretaris kantor kami, cewek Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, si jomblo yang ayu menik-menik itu. Orang usil dan dengki berkomentar, kok mau sih si cewek sama dia?

And they live happily ever after, punya dua anak. Mungkin berkat power MBK Powder. Apa itu MBK? Menghilangkan Bau Ketiak. Waks!

NB: Ketika saya membuatkan newsletter untuk undangan pernikahan mereka, si cewek mengaku dan boleh dikutip, bahwa dia tertarik kepada si cowok karena keluguannya… Oh cinta! The power of love, the power of obat ketek…

 

kertas sigaret cap orang merokok

Belum jelas kenapa juragan kertas lintingan tembakau ini memakai merek “orang merokok”. Karena putus asa mencari merek lantas akhirnya kembali kepada sisi paling sederhana, atau sekali menerawang langsung dapat ilham?

Saya membayangkan orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia akan terpeleset. Mereka akan mengira merek produk ini adalah “kertas rokok”, terutama bila cuma menilik dari satu sisi.

Sungguh sederhana. Cuma satu warna tinta, ungu di atas kertas HVS putih dengan latar batik. Begitu sederhananya sehingga saya kehilangan jurus untuk membual.

Tapi, nanti dulu. Lihatlah penggunaan siluet yang mirip potret guntingan itu. Canggih juga lho untuk produk rakyat, yang tampaknya sudah lama ada, tapi pada pertengahan 1990-an saya masih menemukannya di sebuah pasar desa di Jawa Tengah. Siluet, bayangkan. Bandingkan dengan Pak Lesab.

 

kuaci cap gajah bikinan semarang

Andaikan gajah hanya doyan kuaci alangkah repotnya si pawang. Berapa kuintal kuaci per hari harus diempankan kepada di besar tambun dewasa? Berapa hektar kebun semangka, melon, waluh [labu merah, Cudurbita moschata], dan sejenisnya yang harus tersedia untuk konsumsi seekor gajah per minggu?

Lho, siapa tahu itu fantasinya si pembuat kuaci dari Semarang. Saya tak tahu apakah Firma Gadjah itu merupakan kelanjutan dari UD Widagdo yang dulu juga mengemas kuaci dengan satwa yang sama.

Hmmm… kuaci. Setahu saya ini takkan bikin kenyang, karena untuk mencapai titik kenyang dibutuhkan waktu lama dan daya tahan tinggi terhadap kebosanan. Juga daya tahan lidah terhadap gerusan garam, terutama untuk kuaci hitam asin.

Kuaci: dibikin dan kemudian dimakan sekadar supaya mulut tidak nganggur. Jadi sungguh kurang layak kalau itu dijadikan salah satu materi sumbangan kepada korban bencana. Saya sendiri kurang begitu suka kuaci, termasuk kuaci putih yang lebar garing dan kuaci lain impor dari RRC yang punya aneka rasa [termasuk rasa teh hijau dan leci].

Kenapa kurang suka? Saya tidak pernah bisa membuka kuaci cukup dengan gigitan dan lidah. Saya masih harus membukanya dengan menggigitnya dalam posisi kuaci itu berdiri, lantas saya buka dengan jari. Sungguh melelahkan. Tak sepadan dengan entengnya perolehan.

Adakah nanti kuaci yang terhidang tanpa kulit? Syaratnya: kuaci itu dikupas oleh mesin, bukan oleh gigitan orang. Emang buruh gigit kuaci dibayar berapa supaya mau?

 

kumbokarno pemutih pakaian

Kumbokarno [Kumbakarna] mungkin bisa jengkel oleh salah satu dari ini. Pertama: larangan penggunaan pemutih pada label baju. Kedua: dia tak merasa sebagai pemutih pakaian. Urusan Kumbokarno adalah loyalitas sebagai bentuk tahu diri terhadap junjungannya, yaitu Prabu Dasamuka, dan memilih ikut melawan Rama. Dia bukan Wibisono [Wibisana] yang bersetia dengan kritis: hanya tunduk sepanjang perilaku junjungannya memang layak. Jadi apa urusan Kumbokarno dengan cuci-mencuci? Mungkin keteguhannya untuk memutihkan tanpa pandang warna kain. Yang putih semakin putih. Yang berwarna akan memudar dan akhirnya memutih. Gitu ‘kali. Sori.