Simpel, jujur, apa adanya

Belum jelas kenapa juragan kertas lintingan tembakau ini memakai merek “orang merokok”. Karena putus asa mencari merek lantas akhirnya kembali kepada sisi paling sederhana, atau sekali menerawang langsung dapat ilham?
Saya membayangkan orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia akan terpeleset. Mereka akan mengira merek produk ini adalah “kertas rokok”, terutama bila cuma menilik dari satu sisi.
Sungguh sederhana. Cuma satu warna tinta, ungu di atas kertas HVS putih dengan latar batik. Begitu sederhananya sehingga saya kehilangan jurus untuk membual.
Tapi, nanti dulu. Lihatlah penggunaan siluet yang mirip potret guntingan itu. Canggih juga lho untuk produk rakyat, yang tampaknya sudah lama ada, tapi pada pertengahan 1990-an saya masih menemukannya di sebuah pasar desa di Jawa Tengah. Siluet, bayangkan. Bandingkan dengan Pak Lesab.



Orang jawa bilang “pè-nêng”. Bahasa Indonesia menyebutnya plombir atau pening [ya, sama dengan pening sakit kepala itu]. Mungkin dari bahasa Belanda “penning” yang dieja seperti orang Jawa menyebutnya. Sejenis seal, begitulah.