Simpel, jujur, apa adanya

27 January 2005 @ 13:01:22

kertas sigaret cap orang merokok

Belum jelas kenapa juragan kertas lintingan tembakau ini memakai merek “orang merokok”. Karena putus asa mencari merek lantas akhirnya kembali kepada sisi paling sederhana, atau sekali menerawang langsung dapat ilham?

Saya membayangkan orang asing yang tak tahu bahasa Indonesia akan terpeleset. Mereka akan mengira merek produk ini adalah “kertas rokok”, terutama bila cuma menilik dari satu sisi.

Sungguh sederhana. Cuma satu warna tinta, ungu di atas kertas HVS putih dengan latar batik. Begitu sederhananya sehingga saya kehilangan jurus untuk membual.

Tapi, nanti dulu. Lihatlah penggunaan siluet yang mirip potret guntingan itu. Canggih juga lho untuk produk rakyat, yang tampaknya sudah lama ada, tapi pada pertengahan 1990-an saya masih menemukannya di sebuah pasar desa di Jawa Tengah. Siluet, bayangkan. Bandingkan dengan Pak Lesab.

Badan Gede tapi Makanannya Kecilllllllll Banget

26 January 2005 @ 13:11:35

kuaci cap gajah bikinan semarang

Andaikan gajah hanya doyan kuaci alangkah repotnya si pawang. Berapa kuintal kuaci per hari harus diempankan kepada di besar tambun dewasa? Berapa hektar kebun semangka, melon, waluh [labu merah, Cudurbita moschata], dan sejenisnya yang harus tersedia untuk konsumsi seekor gajah per minggu?

Lho, siapa tahu itu fantasinya si pembuat kuaci dari Semarang. Saya tak tahu apakah Firma Gadjah itu merupakan kelanjutan dari UD Widagdo yang dulu juga mengemas kuaci dengan satwa yang sama.

Hmmm… kuaci. Setahu saya ini takkan bikin kenyang, karena untuk mencapai titik kenyang dibutuhkan waktu lama dan daya tahan tinggi terhadap kebosanan. Juga daya tahan lidah terhadap gerusan garam, terutama untuk kuaci hitam asin.

Kuaci: dibikin dan kemudian dimakan sekadar supaya mulut tidak nganggur. Jadi sungguh kurang layak kalau itu dijadikan salah satu materi sumbangan kepada korban bencana. Saya sendiri kurang begitu suka kuaci, termasuk kuaci putih yang lebar garing dan kuaci lain impor dari RRC yang punya aneka rasa [termasuk rasa teh hijau dan leci].

Kenapa kurang suka? Saya tidak pernah bisa membuka kuaci cukup dengan gigitan dan lidah. Saya masih harus membukanya dengan menggigitnya dalam posisi kuaci itu berdiri, lantas saya buka dengan jari. Sungguh melelahkan. Tak sepadan dengan entengnya perolehan.

Adakah nanti kuaci yang terhidang tanpa kulit? Syaratnya: kuaci itu dikupas oleh mesin, bukan oleh gigitan orang. Emang buruh gigit kuaci dibayar berapa supaya mau?

Sang Pemutih

19 January 2005 @ 12:28:40

kumbokarno pemutih pakaian

Kumbokarno [Kumbakarna] mungkin bisa jengkel oleh salah satu dari ini. Pertama: larangan penggunaan pemutih pada label baju. Kedua: dia tak merasa sebagai pemutih pakaian. Urusan Kumbokarno adalah loyalitas sebagai bentuk tahu diri terhadap junjungannya, yaitu Prabu Dasamuka, dan memilih ikut melawan Rama. Dia bukan Wibisono [Wibisana] yang bersetia dengan kritis: hanya tunduk sepanjang perilaku junjungannya memang layak. Jadi apa urusan Kumbokarno dengan cuci-mencuci? Mungkin keteguhannya untuk memutihkan tanpa pandang warna kain. Yang putih semakin putih. Yang berwarna akan memudar dan akhirnya memutih. Gitu ‘kali. Sori.

Atribut atau Merek?

16 January 2005 @ 12:36:38

bihun beras asli

Kata “asli” biasanya cuma buat klaim, embel-embel, bahwa suatu produk itu memang original, atau genuine, atau berbahan natural. Tapi “asli” sebagai merek? Ya ini. Bihun beras ini.

Eh, emang ada bihun yang bukan dari beras? Gambarnya? Lihat sendiri. Sosok ala Jaja Miharja dengan kaos garis merah-putih ala [stereotipikal sekaligus kartunal] Madura, dengan gaya karikatural berupa jempol yang besarnya tiga perempat badan — mungkin model aslinya difoto dengan lensa yang lebarrrr banget.
Terbikin di Sukaharjo, Jawa Tengah. Di mana itu? Dekat Surakarta, atau Sala, atau Solo. Salah satu kecamatannya lebih terkenal, yaitu Kartasura [kebalikan Surakarta, seperti Kyoto dan Kyoto]. Yang penting nama produsennya bisa bikin karyawan berbusung dada kalau ditanya calon mertua, “Kerja di mana, Nak?”

Jawabannya coba Anda cari sendiri, tanpa menambahkan “perusahaan bihun”. Sungguh sebuah organisasi bisnis dengan etos yang jauh dari cengengesan.

NB: Produk sejenis, tapi bukan bihun, dari Sukoharjo adalah ini.

Plombir atawa Pening: Masihkah Bikin Pusing?

14 January 2005 @ 13:14:34

pening atawa plombirOrang jawa bilang “pè-nêng”. Bahasa Indonesia menyebutnya plombir atau pening [ya, sama dengan pening sakit kepala itu]. Mungkin dari bahasa Belanda “penning” yang dieja seperti orang Jawa menyebutnya. Sejenis seal, begitulah.

Buat apa? Ya buat bukti bahwa si pembeli yang menempelkan barang itu di sepedanya [juga becak, gerobak dan dokar] sudah membayar pajak kendaraan untuk pemerintah kota atau kabupaten.

Dulu berupa gambar yang untuk menempelkannya harus direndam di air. Mereka yang sayang mengotori sepedanya dengan tempelan memilih memasukkan stiker utuh, yang belum terendam, ke dalam kap lampu sepeda.

Akhirnya bentuk pening berkembang, berupa stiker kertas bersablon tapi dicap nomor seri. Berapa harganya? Pada 1996 tak sampai Rp 5.000 lah.

Di mana belinya? Umumnya di jalan, saat ada razia yang dijaga oleh hansip membawa pentungan. Selain itu, dulu, langsung membeli di kantor pemda juga bisa.

Saya belum tahu, masih adakah dokumentasi neraca kas pemda yang mencantumkan berapa rupiah nilai pamasukan dari plombir ini, lantas berapa persennya dari pendapatan asli daerah.

Dulu waktu saya masih bocah, selain membeli pening sepeda di kantor walikota saya juga harus membeli pening untuk anjing saya. Tapi nyatanya tak ada penangkap anjing liar seperti yang beberapa kali diperankan oleh Donal Bebek.

Mungkin lantaran walikota saya, di kota kecil di kaki Gunung Merbabu itu [bukan Kudus, lho], itu tak bernama Cornelis Prul. Yang ada malah maling anjing. Salah satunya bernama Slamet Tenggik, dari kampung Kalicacing. Mungkin dia tetangganya Pak Pokijan.

« Prev - Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)