bihun beras asli

Kata “asli” biasanya cuma buat klaim, embel-embel, bahwa suatu produk itu memang original, atau genuine, atau berbahan natural. Tapi “asli” sebagai merek? Ya ini. Bihun beras ini.

Eh, emang ada bihun yang bukan dari beras? Gambarnya? Lihat sendiri. Sosok ala Jaja Miharja dengan kaos garis merah-putih ala [stereotipikal sekaligus kartunal] Madura, dengan gaya karikatural berupa jempol yang besarnya tiga perempat badan — mungkin model aslinya difoto dengan lensa yang lebarrrr banget.
Terbikin di Sukaharjo, Jawa Tengah. Di mana itu? Dekat Surakarta, atau Sala, atau Solo. Salah satu kecamatannya lebih terkenal, yaitu Kartasura [kebalikan Surakarta, seperti Kyoto dan Kyoto]. Yang penting nama produsennya bisa bikin karyawan berbusung dada kalau ditanya calon mertua, “Kerja di mana, Nak?”

Jawabannya coba Anda cari sendiri, tanpa menambahkan “perusahaan bihun”. Sungguh sebuah organisasi bisnis dengan etos yang jauh dari cengengesan.

NB: Produk sejenis, tapi bukan bihun, dari Sukoharjo adalah ini.

 

pening atawa plombirOrang jawa bilang “pè-nêng”. Bahasa Indonesia menyebutnya plombir atau pening [ya, sama dengan pening sakit kepala itu]. Mungkin dari bahasa Belanda “penning” yang dieja seperti orang Jawa menyebutnya. Sejenis seal, begitulah.

Buat apa? Ya buat bukti bahwa si pembeli yang menempelkan barang itu di sepedanya [juga becak, gerobak dan dokar] sudah membayar pajak kendaraan untuk pemerintah kota atau kabupaten.

Dulu berupa gambar yang untuk menempelkannya harus direndam di air. Mereka yang sayang mengotori sepedanya dengan tempelan memilih memasukkan stiker utuh, yang belum terendam, ke dalam kap lampu sepeda.

Akhirnya bentuk pening berkembang, berupa stiker kertas bersablon tapi dicap nomor seri. Berapa harganya? Pada 1996 tak sampai Rp 5.000 lah.

Di mana belinya? Umumnya di jalan, saat ada razia yang dijaga oleh hansip membawa pentungan. Selain itu, dulu, langsung membeli di kantor pemda juga bisa.

Saya belum tahu, masih adakah dokumentasi neraca kas pemda yang mencantumkan berapa rupiah nilai pamasukan dari plombir ini, lantas berapa persennya dari pendapatan asli daerah.

Dulu waktu saya masih bocah, selain membeli pening sepeda di kantor walikota saya juga harus membeli pening untuk anjing saya. Tapi nyatanya tak ada penangkap anjing liar seperti yang beberapa kali diperankan oleh Donal Bebek.

Mungkin lantaran walikota saya, di kota kecil di kaki Gunung Merbabu itu [bukan Kudus, lho], itu tak bernama Cornelis Prul. Yang ada malah maling anjing. Salah satunya bernama Slamet Tenggik, dari kampung Kalicacing. Mungkin dia tetangganya Pak Pokijan.

 

jamu telat bulan cap kates

Papaya. Pepaya. Katès, kata wong Jawa. Gandhul, kata wong Banyumas.

Buah murah. Bermaslahat. Daunnya juga. Nggak tahu batangnya untuk apa.

Buah bersahaja, ada di segala musim, nggak mahal, sehingga jadi lagu entah karya siapa itu: “papaya, mangga, dst… dibeli dari Pasar Minggu…”

Lantas apa hubungan pepaya dengan kalender hormonal wanita? Saya nggak tahu karena saya bukan dokter, bukan wanita, bukan petani pepaya, dan bukan peracik jamu.

Yang pasti saya setuju dengan Bu Pringgosusanto: badan harus dibikin sehat. Kalau bisa sih lebih ringkas: badan harus sehat — tanpa sisipan “dibikin” — yang artinya selalu always gitu lho.

Lantas apa feadah itu jamu? Menormalkan jadwal? Mas Simoelliki [mungkin dari " Si Moel Iki"] pasti lebih tahu. Yang penting “…badan tentu sehat dan kuat lama…”.

Coba Anda cermati semua teks dalam kemasan yang rada ngepop art itu. Untuk aksara Jawa, bertanyalah kepada Lantip Trengginas [itu nama acara cerdas tangkas berbahasa Jawa di TVRI Yogya duluuuuu sekali].