February 16, 2005
Ketika kita menuding industri telah memaksakan standar kecantikan, maka jangan hanya membayangkan perusahaan global macam Mattel dan sejumlah produsen kosmetika. Jangan cuma membayangkan Barbie, yang telah mengonstruksikan kecantikan wanita sebagai tinggi, langsing, berleher jenjang, berkaki panjang, dan berpayudara kencang membusung [yang ada di boneka memang begitu kan?]. Begitu kelewat idealnya Barbie, sehingga ukuran pinggangnya pernah diprotes karena terlalu kecil, bisa mendorong anoreksia. Bukan hanya mereka, pemodal transnasional, yang telah memformat baku kecantikan. Pengrajin jamu [ya, mereka menyebut diri begitu] cap Akar, dari Solo, Jawa Tengah, pun melakukannya. Dengan menampilkan wanita berkebaya? Tidak. Lihatlah: dua wanita dengan rok tanpa lengan, berleher V. Entahlah si ilustrator mencontohnya dari mana. Montok adalah padat, tidak kurus kering tapi juga tak gembrot. Ada tulang yang tersembunyikan, sekaligus tak ada lemak bergelambir. Persoalannya, si pengrajin jamu itu secara sadar memformat kecantikan atau sekadar meneruskan standar kecantikan menurut babad patriarkal, yang diyakini sebagai tradisi? Oh ya, kenapa selalu ada kata “galian”? Saya belum tahu.
February 12, 2005
Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: “membaharui warna pakaian”. Yang belum jelas adalah kenapa ada “mbangun-trisno” [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk “kuning podang”, selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!
February 11, 2005
Tak jelas kenapa hipertensi dihubungkan dengan amarah. Tekanan darah tinggi [atau tekanan tinggi darah?]. Naik darah. Naik pitam. Pengidap hipertensi, kalau lagi kumat, lantas marah, maka berkemungkinan tensinya ikut naik. Marah dulu baru kemudian tensi. Kalau tensi naik lantas jdi uring-uringan? Hanya dokter yang bisa menjelaskan. Kalau rambut yang sebelumnya klimis tersisir seperti Harmoko, lantas ketika marah jadi jabrik, itu kenapa? Hair stylist mungkin bisa memaparkan. Tentu, si desainer bungkus jamu ini juga bisa menjelaskan mengapa harus ada wajah memerah, kening berkerut, dan rambut berdiri. Kalau jawabannya, “Habis gimana lagi, lha wong ordernya memang gitu, ya saya gambar gitu,” itu jelas akan bikin kita naik pitam. Apa sih arti pitam? Cekot-cekot, nyut-nyutan atawa headache.