Ketika kita menuding industri telah memaksakan standar kecantikan, maka jangan hanya membayangkan perusahaan global macam Mattel dan sejumlah produsen kosmetika. Jangan cuma membayangkan Barbie, yang telah mengonstruksikan kecantikan wanita sebagai tinggi, langsing, berleher jenjang, berkaki panjang, dan berpayudara kencang membusung [yang ada di boneka memang begitu kan?]. Begitu kelewat idealnya Barbie, sehingga ukuran pinggangnya pernah diprotes karena terlalu kecil, bisa mendorong anoreksia. Bukan hanya mereka, pemodal transnasional, yang telah memformat baku kecantikan. Pengrajin jamu [ya, mereka menyebut diri begitu] cap Akar, dari Solo, Jawa Tengah, pun melakukannya. Dengan menampilkan wanita berkebaya? Tidak. Lihatlah: dua wanita dengan rok tanpa lengan, berleher V. Entahlah si ilustrator mencontohnya dari mana. Montok adalah padat, tidak kurus kering tapi juga tak gembrot. Ada tulang yang tersembunyikan, sekaligus tak ada lemak bergelambir. Persoalannya, si pengrajin jamu itu secara sadar memformat kecantikan atau sekadar meneruskan standar kecantikan menurut babad patriarkal, yang diyakini sebagai tradisi? Oh ya, kenapa selalu ada kata “galian”? Saya belum tahu.
Wenter adalah cara sederhana sebagian masyarakat kita untuk bergaya. Silakan Anda tengok bualan saya tempo hari tentang wenter cap Kresno. Lantas bagaimana dengan wenter atau wentol cap Kalkun? Soal pilihan merek saya anggap ajaib, karena kalkun yang bukan dari Turki itu tak kita akrabi selayaknya kita mengakrabi ayam. Selain soal daging, kalkun [dari bahasa Belanda: kalkoen] yang tambun dan bersuara klok-klok-klok itu melambangkan apa sih? Tapi, ah, itu terserah si produsenlah. Soal fungsi, sudah jelas: “membaharui warna pakaian”. Yang belum jelas adalah kenapa ada “mbangun-trisno” [membangun kasih]? Sandang dengan warna baru, termasuk “kuning podang”, selain lebih hemat [pada saat produk garmen/konveksi masih mahal], mungkin juga diharapkan akan membawa tebaran kasih sayang yang mempersegar, yang memperbarui. A renewable love, begitulah. Selamat Hari Valentin[e]!
Tak jelas kenapa hipertensi dihubungkan dengan amarah. Tekanan darah tinggi [atau tekanan tinggi darah?]. Naik darah. Naik pitam. Pengidap hipertensi, kalau lagi kumat, lantas marah, maka berkemungkinan tensinya ikut naik. Marah dulu baru kemudian tensi. Kalau tensi naik lantas jdi uring-uringan? Hanya dokter yang bisa menjelaskan. Kalau rambut yang sebelumnya klimis tersisir seperti Harmoko, lantas ketika marah jadi jabrik, itu kenapa? Hair stylist mungkin bisa memaparkan. Tentu, si desainer bungkus jamu ini juga bisa menjelaskan mengapa harus ada wajah memerah, kening berkerut, dan rambut berdiri. Kalau jawabannya, “Habis gimana lagi, lha wong ordernya memang gitu, ya saya gambar gitu,” itu jelas akan bikin kita naik pitam. Apa sih arti pitam? Cekot-cekot, nyut-nyutan atawa headache.
Saya baru tahu, bahwa penghela bajak di sawah itu bukan hanya kerbau, atau mungkin sapi, melainkan juga kuda. Itu jarang saya jumpai dalam ilustrasi buku cerita. Sejauh saya ingat belum pernah saya temui dalam sebuah foto. Kuda Luku. Sebuah alternatif. Mamalia bertungkai empat, asal kuat, secara teoritis bisa dipekerjakan di sawah. Oh ya ada tambahan: asal jinak. Di tangan pawang yang baik, mungkin badak pun bisa dipekerkajakn sebagai pengganti traktor. Adakah pawang badak? Entah. Mengamati merek adalah ngèlmu tebak-tebakan. Tanpa mewawancarai si empunya produk kita akan sering terpeleset dalam menangkap alasan pemilihan merek. Jika masih menyangkut kuda, ada sih yang gampang diterka, meski masih bisa salah, yaitu Levi Strauss. Sedemikian kuatnya bahan dan jahitan itu seluar indigo denim [dari Prancis masuk ke Amrik: serge de Nimes, lantas dicelup warna nila], sehingga tahan dihela kuda dari dua arah berlawanan. Sungguhkah pernah diuji oleh kuda? Entah. Bertanyalah kepada ahli waris Levi Strauss, baik Levi Strauss yang bikin celana maupun Claude Levi-Strauss.Random Posts
Gembala Kerbau bukan Koboi
December 22, 2004Kalau saja yang ia gembalakan adalah sapi, maka jadilah bocah itu cowboy. Meskipun begitu, gembala kerbau sempat menjadi ikon, setidaknya simbol yang menjadi ingatan kolektif kita, tentang bocah desa yang menikmati dunianya.
Penggembala kerbau meniup seruling? Hmmm, romantis, eksotis. Penerbit Kompas pun menjadikannya sebagai logo — sehingga ada yang menyebut buku Kompas sebagai “buku cap [...]
Recent Comments
- Ichwan Antonio: Coba cari di PD LIDO telpon 021 6926075
- JP: Mas Antyo, kenal petinju Rukimin alias Rocky ini ini? Karena dia adalah kawan lama saya, dan saya sulit...
- eqwvwyvc: spa6d4 bcduumdmobmc
- Bunny: I can\’t hear anyhntig over the sound of how awesome this article is.
- pecah utax: jaman sekarang ; Mesti Hati2x milih makanan. bt ‘ penasaran jg menurut pndapat “Aming”....
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)






