<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Warna itu kasih</title>
	<atom:link href="http://label.blogombal.org/2005/02/12/warna-itu-kasih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://label.blogombal.org/2005/02/12/warna-itu-kasih/</link>
	<description>Bualan daripada Pemulung</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 12:49:17 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: cerita kaos &#187; Blog Archive &#187; Jadulisme Zaman Kesrakat</title>
		<link>http://label.blogombal.org/2005/02/12/warna-itu-kasih/comment-page-1/#comment-35543</link>
		<dc:creator>cerita kaos &#187; Blog Archive &#187; Jadulisme Zaman Kesrakat</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 14:12:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://label.blogombal.org/2005/02/12/warna-itu-kasih/#comment-35543</guid>
		<description>[...] Wenter atau wentol, Anda pernah dengar? Baiklah saya jelaskan. Itu bubuk pewarna untuk dicampur air mendidih, yang dipakai untuk merendam kain dan pakaian yang akan diwarnai. Memang itulah fashion orang tempo doeloe, dari zaman kesrakat (miskin). Cerita lain ada di sana. Lantas kenapa bisa pindah ke kaos? Seorang desainer grafis, namanya Enrico Halim, yang juga dosen seni rupa di Universitas Tarumanegara, memindahkan romantisisme itu ke dalam kaos untuk merintis museum desain grafis Indonesia. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Wenter atau wentol, Anda pernah dengar? Baiklah saya jelaskan. Itu bubuk pewarna untuk dicampur air mendidih, yang dipakai untuk merendam kain dan pakaian yang akan diwarnai. Memang itulah fashion orang tempo doeloe, dari zaman kesrakat (miskin). Cerita lain ada di sana. Lantas kenapa bisa pindah ke kaos? Seorang desainer grafis, namanya Enrico Halim, yang juga dosen seni rupa di Universitas Tarumanegara, memindahkan romantisisme itu ke dalam kaos untuk merintis museum desain grafis Indonesia. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

