O, Achilles nan tampan, gagah dan berani! Kejohanan mengalir dari ayahandamu, Peleus sang Raja Myrmidon. Pesona diri kau petik dari ibumu, Thetis si peri samudera. Hati wanita kau tundukkan. Musuh ganas kau taklukkan. Tapi sekali waktu kau tolak perang karena hatimu tertambat oleh si cantik Polyxena dari Troya. Ada kelemahan atas nama cinta dalam dirimu. Ada pula kelemahan lain di balik kedigdayaanmu. Entah siapa yang abai dan sembrono sehingga tumitmu kau biarkan terbuka, tanpa terbasuh air sakti. Otot tumitmu robek, ada yang mewartakan karena panah Paris anak Raja Troya, ada yang mengabarkan lantaran pisau, dan ajal pun menghampirimu. Orang mengenangmu untuk menamai salah satu tendon. Adakah pengusaha hunkue dari Jakarta juga mengenangmu sambil membayangkan kaki para buruhnya di kebun aren? Dari sanalah datangnya sumber tepung untuk ongol-ongol. Ketika tersusupi oleh vanili jadilah serbuk bau wangi. O Achilles! O, hunkue! Alangkah jauhnya Thessalia di Yunani dengan Jakarta di Tanah Jawa.
 

Come to where the flavour is, come to Malioboro. Enak bener bikin plesetan merek. Saya nggak ngerti apakah Philip Morris Inc, si empunya merek Marlboro, akan marah, lantaran tembakau linting yang terkemas dalam amplop kertas terbungkus platik ini. Produk resmi, diakui pemerintah ["merek terdaftar", entah di mana], ada pita cukai pula. Harga banderol Rp 3.500, cukainya 8 persen. Sekadar perbandingan: harga banderol Sampoerna A Mild 16 batang adalah Rp 7.700, cukainya 40 persen. Artinya, konsumen setor pajak Rp 3.080 [jangan Anda hitung mudarat bernama racun] . Bikinan mana sih tembakau Malioboro itu? Yogya? Entah. Nama pabriknya “Taru Harum, Indonesia” [tanpa kota] — mengingatkan orang kepada Taru Martani, pengolahan tembakau di Baciro, Yogyakarta. Tentang Maliboro, masih simpang siur dari mana asal nama jalan di Yogya itu. Marlborough? Maliko Boro? Yang penting Malioboro itu memang “international“. Pakai barcode segala lho…
NB: bungkus ini aslinya berwarna merah Marlboro, tapi karena terjemur di dekat jendela si pemilik, seorang warga Salatiga, Jawa Tengah, maka jadi tergradasi. :)