Kesendirian dalam Secangkir Teh Pahit
1 March 2005 @ 0:45:49
Mercusuar. Dibutuhkan para pelaut. Sebagai panduan untuk mendarat. Mereka, para pelaut itu, berpindah labuh dari pantai ke pantai, dermaga ke dermaga. Mengarungi beberapa samudra. Melintasi bermacam selat. Menyeruak ke sejumlah teluk. Mereka selalu berpindah. Selalu punya cerita tentang pelbagai tempat. Jangkar mereka pun mungkin dapat berkisah. Tapi tidak untuk penjaga mercusuar. Terutama yang di pulau karang. Atau di sudut pantai yang jauh dari permukiman. Mereka adalah penghuni penjara berbentuk menara. Menjaga mercusuar adalah kesendirian. Adalah ketabahan. Atau barangkali malah kepasrahan. Namun bisa juga sebuah pilihan. Jika sebuah merek, yang terwakili oleh teks dan gambar, boleh dianggap menyarankan suatu suasana, citra, bahkan manfaat, lantas apa yang disodorkan oleh teh bikinan Tegal, Jawa Tengah, si Kota Bahari, ini bagi penikmatnya? Saya tak berharap sebuah moral cerita macam ini: “ketika berlaku benar tiada yang berterima kasih apalagi memuji, tapi sekali saja berbuat salah maka akan banyak yang menyumpah dan mengutuknya”. Itu lebih pahit daripada air teh terpekat-tanpa-gula yang sepahit-pahitnya.
May 28th, 2007 at 5:23 pm
kurang menarik dan lebih kaku