label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Archive for June, 2005

Rokok-merokok, Rumah tangga

June 18, 2005

Kretek Feodal: dari Priyayi untuk Kawula

Ini rokok modern. Maksud saya merek baru, yang keluar pada awal abad ini. Hasil kongsi PT Yogyakarta Tembakau [investor utama adalah keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat] dengan PT H.M. Sampoerna Tbk [BEJ: HMSP].

Pasar sasaran ya wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di bawah gubernur yang Ngarsa Dalem.

Lakukah rokok ini? Saya tak punya data. Apakah para abdi dalem dan sentana dalem, bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga merokok ini? Saya tak tahu.

Lantas apanya yang menarik? Dari sisi bisnis secara umum tak ada yang baru. Banyak keluarga kerajaan di dunia ini yang menanamkan modalnya untuk suatu usaha bahkan lebih. Yang terkenal tentu saja investasi keluarga Sultan Brunei yang meraksasa, lengkap dengan skandalnya [ingat kasus Amedeo-nya playboy Jefry Bolkiah si hedonis, yang punya 2.000 mobil dan 17 pesawat? Ingat, yacht-nya dinamai Tits, Nipple I dan Nipple II?]. Jadi cara kerajaan untuk bertahan adalah dengan berbisnis.

Nah, kalau ditilik dari kasus rokok Kraton [ejaan Jawa untuk "keraton" -- padahal kata Indonesia ini diserap dari bahasa Jawa], maka ada hal yang menarik. Tampaknya produsen mencoba mengambil tuah keraton untuk branding dengan harapan sukses di pasar.

Memang sih, Nurmagupita, putri keraton, berujar kepada Kompas, “Pemberian nama itu melalui semacam polling kepada masyarakat, dan kebanyakan setuju dengan nama itu. Kami tidak akan mengambil kesempatan di balik keberadaan Keraton Yogyakarta. Orang luar juga banyak yang menggunakan nama keraton, misalnya bakso keraton dan sebagainya…”

Dari sisi peneguhan peran, ya inilah kesempatan bagi Keraton Yogyakarta untuk memangku bumi, menyejahterakan hamba sahaya. :P Lantas kenapa teks peringatan bahaya rokok tanpa pencantuman “peringatan sultan” ya? :D

Makanan, minuman & obat

June 8, 2005

Sirop sang Penari


Tersenyumkah dia sang penari? Beda mata beda tafsir. Maniskah rasa setrup [stroop] ini? Tentu. Terbuat dari gula murni, dicampur air, pewarna dan aroma. Seperi di sirup klasik Tjampolay dari Cirebon. Sarangsari adalah merek lama, sebelum Indonesia merdeka. Terbikin oleh PT Sarangsari [d.h. De Vrische Boerin], tapi di Dirjen POM Depkes terdaftar atas nama PT Sumber Sari. Di tengah desakan merek sirop lain, saya tak tahu apakah dari tahun ke tahun kehadiran Sarangsari dalam setiap hari raya akan menyusut. Pengusaha parsel pun mungkin sudah lupa merek ini.