Sehat, dari Generasi ke Generasi

Dalam sebuah pertemuan untuk menyimak presentasi, teman saya menatap boks kue. “Mereknya itu lho, kok mengingatkan saya sama sanitasi dan saniter,” katanya.

Saya menyahut, “Toto? KIA? Pinangsia? Panglima Polim?”

Dua nama terakhir adalah kawasan di Jakarta yang punya sejumlah toko keramik dan perlengkapan kamar mandi.

Si empunya merek Sanitas tentu tak berpikir sesesat kami, orang-orang awam yang miskin stok istilah. Sanitas yang mereka maksudkan tentulah bersih-sehat lahir maupun batin, sekelompok dengan higiene. Kue yang lezat dan higienis, tepatnya. Dan itu pun terbukti. Sejak lama. Terbikin sejak 1920. Berbasis di Semarang, Jawa Tengah. Punya cabang di Blok M, Jakarta Selatan. Kekunoan itu mereka jadikan kekuatan sehingga gaya Belanda dimasukkan ke dalam kardus lipat: bakkerij.

Tapi saya ragu apakah si maskot berupa koki imut itu sudah ada sejak awal. Cara penggambaran wajah mengingatkan saya pada pada gaya komik H.C. Andersen, dan apapun yang di-Andersen-kan, terbitan Maranatha Bandung dan pengikutnya, pada tahun 70-an. Mata belalak bening [yang kadang agak berkaca] adalah salah satu cirinya. Sama seperti manga, komik Jepang.

Leave a Reply