Anda tahu buah kesemek [Diospyros kaki]? Itu sebuatan saya waktu kecil untuk bocah, balita, laki maupun perempuan, yang sehabis mandi tampak bersih, mulus, tapi pupurannya kelewat tebal, sehingga seperti kesemek. Kalau lebih tebal, dan merata, itu namanya riasan ala kabuki, ketopraknya Jepun.
Bingung membayangkan? Kesemek adalah buah yang kulitnya berwarna kuning tua atau jingga, dan entah kenapa di tangan penjual buah di pasar kulitnya selalu terlaburi serbuk putih yang tak merata. Seingat saya rasa daging buahnya tak terlalu manis, tapi asam pun tidak. Cenderung anyep, kata orang Jawa. Tapi kalau sudah didinginkan di kulkas sedap juga. Saya kurang tahu adakah varietas baru yang lebih manis.
Nah, di tengah serbuan sekian jenis produk baby care global, “bedak kampung” [maaf, kalau menyinggung perasaan] cap Happy ini masih ada. Saya lupa berapa harganya, pokoknya lebih murah ketimbang sebugkus rokok kretek berfilter.
Sekarang amatilah si bayi yang muncul dalam dua versi. Pada dinding silinder plastik [dulu karton] dia berkulit terang. Tapi pada tutup kemasan dia berkulit gelap, karena itulah barangkali dia butuh dikesemekkan. Persamaannya: kedua versi ini menampakkan usia yang lebih tua dari balita. Pada gambar tutup, ia tampak nakal, ingin merebut bedak dari suster.
Bedak ini, menurut gambar kemasan, juga cocok untuk wanita dewasa. Sulit membayangkan jika cewek zaman sekarang pakai bedak itu sebelum kencan. Bisa-bisa dia dipaggil Miss Kesemek. Lebih tua lagi akan dijuluki Lady Kesemek.
TENTANG “roti kaleng cap Khong Guan” [orang Jawa menyebut biskuit sebagai roti] versi orisinal, yaitu assorted biscuits yang diakrabi para keluarga di Indonesia, ada lima pasal.
1 | Saya dulu waktu kecil sangat terkesan oleh ilustrasi dalam kaleng, yang sampai hari ini tak diganti. Keluarga yang hangat sedang bersantai di meja makan bertaplak linen dengan bekas lipatan yang kentara. Tapi saya membatin, di manakah bapaknya? Ah, anggap saja dialah yang memotret keluarganya. Dia tak tahu cara menggunakan self timer. Lho, ini kan lukisan? Hmmm anggap saja hasil salinan dari foto.
2 | Sejak kecil saya tergeli-geli oleh potongan rambut anak lelaki itu. Pada suatu Senin tahun 2001 di sebuah kantor, seorang pegawai anyaran masuk kerja dengan potongan rambut baru. Ada komentar jahat: ” Keren! Rambutmu kayak biskuit Khong Guan.” Teman-teman sekantor setuju. Anak itu tak mau mengulangi gaya rambutnya yang hebat.
3 | Dulu, waktu saya bocah, yang paling saya sukai dari Khong Guan versi orisinal [ya, isinya campuran itu] adalah wafernya. Tapi sayang wafernya selalu sedikit.
4 | Dasar lidah sontoloyo, setelah mengenal biskuit merek lain, barulah saya sadar bahwa Khong Guan versi orisinal bukan yang terenak. Setelah ada peragaman produk, rasanya lebih bervariasi, ada yang enak. Maka jangan heran bila ada yang terkesan.
5 | Khong Guan termasuk perusahaan PMA awal yang masuk pada Orde Baru, seangkatan dengan Tancho.Tapi sebelum itu Khong Guan punya sejarah panjang.
Sekarang tambahkan pasal Anda.

Kerbau punya susu, sapi punya nama. Orang Polandia punya vodka, orang Swedia menuai merek. Babat punya wingko, Semarang memetik hasil. Akhirnya orang Yogya ikutan bikin.
Babat? Ya, itu salah satu stasiun kereta api di Jawa Timur, bagian dari lintas utara Semarang-Surabaya. Maka tak mengherankan bila segala merek wingko babat adalah kereta api, karena dulu merupakan oleh-oleh penumpang sepur.
Belum jelas siapa pengibar wingko babat semarangan pertama kali. Saya juga belum tahu ada berapa wingko babat semarang yang bermerek kereta api. Tentang wingko, dalam bahasa Jawa juga berarti kreweng atau kepingan genting.
Sekarang, setelah selisih tiket termurah pesawat tak jauh beda dari tiket termahal kereta api, maka merek wingko babat pun berganti. Sari Roso, sebagai merek baru, sekalian saja mengayun langkah maju. Maka wingko pun terbang. Menjadi buah tangan untuk buah hati dan kekasih hati. Rasanya pun beragam. Cokelat sudah masuk. Durian juga. Besok mungkin rasa peach [persik], plum, aprikot dan anggur. Sari Roso. Bukan Sri Roso. Yang terakhir ini bukan wingko; orang Bantul, Yogya, lebih bisa bercerita.

Random Posts
Kesendirian dalam Secangkir Teh Pahit
March 1, 2005Mercusuar. Dibutuhkan para pelaut. Sebagai panduan untuk mendarat. Mereka, para pelaut itu, berpindah labuh dari pantai ke pantai, dermaga ke dermaga. Mengarungi beberapa samudra. Melintasi bermacam selat. Menyeruak ke sejumlah teluk. Mereka selalu berpindah. Selalu punya cerita tentang pelbagai tempat. Jangkar mereka pun mungkin dapat berkisah. Tapi tidak untuk penjaga mercusuar. Terutama yang [...]
Recent Comments
- Ichwan Antonio: Coba cari di PD LIDO telpon 021 6926075
- JP: Mas Antyo, kenal petinju Rukimin alias Rocky ini ini? Karena dia adalah kawan lama saya, dan saya sulit...
- eqwvwyvc: spa6d4 bcduumdmobmc
- Bunny: I can\’t hear anyhntig over the sound of how awesome this article is.
- pecah utax: jaman sekarang ; Mesti Hati2x milih makanan. bt ‘ penasaran jg menurut pndapat “Aming”....
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)






