label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Archive for September, 2005

Makanan, minuman & obat

September 27, 2005

Lumpia Nona

Lunpia atau lumpia? Sama saja. Maksudnya spring roll. Kita menyerapnya dari bahasa Cina [Hokkian?], dan kaum peranakan di Semarang masih setia dengan “lunpia”. Kalau ingin lebih jelas bertanyalah kepada Remy Sylado, sang munsyi itu.

Semarang tak sendirian. Malang juga punya lumpia. Jakarta juga — tapi bumbunya beda. Lumpia semarang [dengan "s" kecil, seperti "y" kecil dalam "gudeg yogya"], terutama yang isi ayam, memang sedap. Dengan lalap daun bawang pedas, wuahhhh. Basah-mentah maupun [apalagi] goreng kering panas, sungguh lezat jadi teman menyeruput teh melati.

Manakah lumpia yang asli, atau menjadi pelopor, Aulia yang orang Suara Merdeka mungkin bisa bercerita karena korannya pernah menceritakan soal itu. Biru Elang-Bara mungkin juga tahu. Andaikan sejarawan lokal otodidak Amen Budiman masih hidup, mungkin dia dapat menuliskan riwayat lumpia semarang.

Di Semarang ada banyak lumpia — juga banyak merek wingko babat. Bagaimana setiap penyaji membedakan diri, itu sebuah seni. Maka Lunpia Mataram pun mencoba tampil modern, menurut masanya. Nona rambut sebahu, dengan sisiran yang [mungkin] diilhami oleh komik ala H.C. Andersen dan yang mengandersen terbitan Maranatha Bandung tahun 70-an, berwajah agak eurasia [terpengaruh Jan Mintaraga?], hasil olahan gambar manual dengan pena [tinta bak cap Naga?] dan cat air [merek Guitar?] dicetak dengan letter press, menampakkan raster kasar tapi masih memancarkan gradasi, telah menawarkan sebuah kelezatan nan gurih lagi nyaman. Tak perlu acung jempol. Cukup sebatang [atau selonjor?] lumpia dalam genggaman. Sebuah cara memegang lumpia yang kurang lumrah, tapi siapa tahu mewakili kenyataan saat si model memperagakannya.

Sekarang jawablah Nona, kenapa kau tak mau menatap kami, para pelahap lumpia? Kerlingkanlah barang sesudut ke arah kami.

Makanan, minuman & obat

September 19, 2005

Pesona Istana

Pamor keraton belum pudar. Terbukti, keraton tak hanya bertahan di pentas kethoprak, tetapi juga rokok [bikinan orang dalam] dan yang terbaru: minuman instan. Dikemas modern, dalam aluminium foil, memakai bar code pula [ini simbol perdagangan masa kini], Keraton Sari Jahe yang mengenal kedaluwarsa ini bisa dijadikan minuman panas maupun dingin. Menurut pembuatnya, cocok pula untuk wedang ronde, susu, kopi, bahkan… santan!

Keraton Jahe ini dari vorstenlanden [Yogya-Sala]? Bukan. Bikinan wong Jawa Wetan, tepatnya Pandan Landung, Malang.

Dengan tambahan ginseng dan gula, sensasi apa yang ditawarkan? Sungguh percaya diri, sekaligus rendah hati, dan mungkin jujur, Usaha Dagang Addi Lestari, produsennya, tak menjanjikan apapun. Tak ada janji gombal rasa maupun khasiat, selain “cocok untuk…” dan “juga nikmat bila…”

Sungguh Jawa modern: kemasan boleh masa kini, tapi teks tak bersombong diri. Ehm, jangan-jangan inilah esensi kepriayian keraton tulen: jangan banyak membual supaya tak menjadi gombal.

Makanan, minuman & obat, Produk jempolan

September 16, 2005

Djenang Soempah Pemoeda

jenang ayu jempolan bu wignyo klatenAyu. Cantik. Tak hanya berlaku untuk wajah, tapi juga barang. Di pasar-pasar Jawa Tengah, sudah biasa jika mbok-mbok penjual menawarkan dagangannya penuh rayuan, “Ini lho den, ayu-ayu…”. Yang ayu itu bisa buah, penganan sampai ikan.

Teman saya, namanya Eko Waryono, seorang pecinta motor kuno, memberi jempol untuk sebuah kedai hidangan laut [seafood, gitu] entah di mana, “Bos, di sono tuh kepitingnya cakep-cakep, udangnya juga, padahal kagak pake gincu.” Eko bukan pencumbu ikan, secakep apapun ikan itu. Dia penyantap ikan dan hasil laut lainnya. Meski setiap orang dia panggil “bos”, ikan yang dia puji itu tak dia sapa sebagai “bos”.

Bagaimana dengan jenang bikinan Nyonya Y.M. Wignyowikarno asal Wedi, Klaten, Jawa Tengah? Jenangnya tergolong enak, meski yah berminyak. Lantas siapa yang ayu: jenang atau pembuatnya?

jenang ayu bu wignyo Sebagai dagangan, sudah selayaknya produsen menyebutnya ayu. Apalagi jenang niten ini punya paten, terdaftar di Departemen Kesehatan pula. Kurang apa coba?

Lha tentang Budhe Wignyo, pastilah beliau dapat menjelaskan ayunya sebuah bisnis keluarga: pasang-surut harus dihadapi dengan tabah, sarèh, aja dumèh. Bayangkan, terkenal sejak 1928!

Bisa jadi anggota Jong Java yang berangkat ke Kongres Pemuda di Batavia, untuk menghasilkan Sumpah Pemuda itu, berbekal jenang Ayu untuk pendongkrak stamina selama perjalanan. Belum jelas, apakah saat itu Budhe Wignyo sudah ada.

Lantas? Nah ini yang dari tadi Anda tunggu: Bu Wignyo itu ayu. Mandiri, serius, penuh percaya diri. Lihat saja fotonya: berkebaya, mengacungkan jempol. Sebuah pose berani untuk wanita Jawa tradisional. Ayu tenan.

Makanan, minuman & obat

September 14, 2005

Kue tanpa Rasa Delima

Ini bikinan Malang, Jawa Timur. Namanya kue koya. Rasanya manis. Berserbuk. Berbahan antara lain kacang hijau. Saya tak tahu sejak kapan ada. Ada yang bilang tahun 60-an sudah ada. Orang Malang mungkin bisa bercerita.

Yang khas dari koya adalah cara mengemasnya. Kue pipih bundar ini ditumpuk lima kemudian dibalut dengan kertas roti. Keunikan lain: dari kemasan sudah terasa aroma oriental, maksud saya Cina; sungguh bukti keragaman Indonesia. Warna merah, buah delima sebagai merek, nama perusahaan, dan tulisan Tau Sa Ko [saya tak tahu artinya; ada yang bisa membantu?]. Sebuah kecinaan yang tak takluk oleh paksaan Orde Baru untuk berganti nama yang “mengindonesia”.

Ah, bukankah Indonesia merupakan sebuah adonan? Lebih mudah mengidentifikasi sesuatu itu “asli Jawa”, atau “asli Bugis”, ketimbang “asli Indonesia”.