Tomi si Topi Miring
Boleh jadi mata saya tidak beres. Saya lihat, topi lelaki yang malas mencukur kumis-jenggot-cambang ini tidak terpasang miring. Sedikit bergelombang lekuk, memang iya. Tapi si empunya merek menyebutnya Topi Miring. Konsumen menyingkatnya “Tomi”. Ah ya, mungkin topinya miring ke depan, atau ke belakang, pokoknya bukan menyamping. Saya tak tahu kenapa dinamai Topi Miring. Dulu, waktu awal mendengar, saya pikir itu sebutan lokal, gaya kampung, untuk Johnnie Walker. Bertahun kemudian, belum ada setahun, saya baru ngeh, memang ada merek Topi Miring. Merek yang nyeleneh, dan nyatanya menancapkan brand awareness yang cukup kuat. Tanyalah peminum kelas gardu ronda dan pangkalan ojek. Pasti mereka lebih mengenal Tomi [dan Mansion House] ketimbang Kahlua, Absolute, Skyy atau Southern Comfort.
Tomi kemasan seperempat liter, dalam botol wiski ukuran kantong ala Kapten Haddock, harganya sekitar Rp 3.500. Lebih murah daripada sebungkus Djie Sam Soe. Cuma seperdua puluh harga anggur termurah impor di pasar swalayan.
Soal rasa saya tak tahu, karena saya bukan peminum merek apapun dan kelas apapun. Yang saya agak tahu, di tangan konsumen setianya, Tomi ini memacu mixology atau seni bartending yang ajaib. Tomi dicampur minuman taurin macam Krating Daeng atau Extra Joss, disatukan dengan Fanta dan Sprite, dan entah apalagi, disajikan dengan gelas seadanya, tanpa garnish, tanpa olesan bubuk garam di bibir gelas… Hasilnya? Sama dengan minuman di tempat lain yang minimal menghabiskan ongkos senilai gaji sebulan peminum setia Tomi: riang, kadang lupa diri, sesekali terjerembab ke got mirip tikus.
Dalam keadaan mabuk, topi lurus bisa jadi miring. Bisa pula sebaliknya: topi miring jadi lurus. Artinya, kalau meminjam salah satu humor Alfred Hitchcock, orang mabuk di atas dek kapal, di tengah amuk badai, akan berjalan lurus. Sebuah antidot terhadap gambaran pelaut mabuk yang berjalan sempoyongan, padahal di darat, seolah sedang berjalan di atas dek kapal yang digoyang angin ribut. Lantaran Johnnie Walker atau Tomi, itu tak penting. Yang penting miring. Kalau tanpa topi, tapi gendut, brewok, botak sebagian, ikal berkilat, dia bernama Luciano Pavarotti.

August 13th, 2006 at 8:32 pm
ha kenal cap tikus, pakde??? tenar lho di indonesia timur!!!
September 1st, 2006 at 12:07 pm
rasanya ga enak… mending botol yang ada gambar gingseng dan anggurnya
November 26th, 2007 at 7:49 pm
minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat kantong :D:D:D