Lumpia Nona
Lunpia atau lumpia? Sama saja. Maksudnya spring roll. Kita menyerapnya dari bahasa Cina [Hokkian?], dan kaum peranakan di Semarang masih setia dengan “lunpia”. Kalau ingin lebih jelas bertanyalah kepada Remy Sylado, sang munsyi itu.
Semarang tak sendirian. Malang juga punya lumpia. Jakarta juga — tapi bumbunya beda. Lumpia semarang [dengan "s" kecil, seperti "y" kecil dalam "gudeg yogya"], terutama yang isi ayam, memang sedap. Dengan lalap daun bawang pedas, wuahhhh. Basah-mentah maupun [apalagi] goreng kering panas, sungguh lezat jadi teman menyeruput teh melati.
Manakah lumpia yang asli, atau menjadi pelopor, Aulia yang orang Suara Merdeka mungkin bisa bercerita karena korannya pernah menceritakan soal itu. Biru Elang-Bara mungkin juga tahu. Andaikan sejarawan lokal otodidak Amen Budiman masih hidup, mungkin dia dapat menuliskan riwayat lumpia semarang.
Di Semarang ada banyak lumpia — juga banyak merek wingko babat. Bagaimana setiap penyaji membedakan diri, itu sebuah seni. Maka Lunpia Mataram pun mencoba tampil modern, menurut masanya. Nona rambut sebahu, dengan sisiran yang [mungkin] diilhami oleh komik ala H.C. Andersen dan yang mengandersen terbitan Maranatha Bandung tahun 70-an, berwajah agak eurasia [terpengaruh Jan Mintaraga?], hasil olahan gambar manual dengan pena [tinta bak cap Naga?] dan cat air [merek Guitar?] dicetak dengan letter press, menampakkan raster kasar tapi masih memancarkan gradasi, telah menawarkan sebuah kelezatan nan gurih lagi nyaman. Tak perlu acung jempol. Cukup sebatang [atau selonjor?] lumpia dalam genggaman. Sebuah cara memegang lumpia yang kurang lumrah, tapi siapa tahu mewakili kenyataan saat si model memperagakannya.
Sekarang jawablah Nona, kenapa kau tak mau menatap kami, para pelahap lumpia? Kerlingkanlah barang sesudut ke arah kami.

September 8th, 2006 at 11:06 am
Paman Tyo, mas aulia itu pemred-ku..dan itu liputan rubrik resto di lunpia express..aku malah blom pernah nyicip ke sana..seringnya sih beli di toko pinggir jalan Pandanaran, depan kantor suara merdeka
November 9th, 2006 at 10:25 am
Bang, Mas, Paman, Uncle, Mbah Tyo…
Jadi inget jaman dulu waktu masih SD ataw SMP. Abis pulang sekolah panas-panas beli lumpia yang dijual abang-abang pinggir jalan di Jakarta. Keras dan isinya (juga harganya..) tidak begitu representatif dan higenis untuk saya sekarang. Tapi waktu itu…wow, apalagi ditambah dengan teh dalam botoh. Uah, surga dunia banget…