Tomi si Topi Miring

5 September 2005 @ 0:06:43

Boleh jadi mata saya tidak beres. Saya lihat, topi lelaki yang malas mencukur kumis-jenggot-cambang ini tidak terpasang miring. Sedikit bergelombang lekuk, memang iya. Tapi si empunya merek menyebutnya Topi Miring. Konsumen menyingkatnya “Tomi”. Ah ya, mungkin topinya miring ke depan, atau ke belakang, pokoknya bukan menyamping. Saya tak tahu kenapa dinamai Topi Miring. Dulu, waktu awal mendengar, saya pikir itu sebutan lokal, gaya kampung, untuk Johnnie Walker. Bertahun kemudian, belum ada setahun, saya baru ngeh, memang ada merek Topi Miring. Merek yang nyeleneh, dan nyatanya menancapkan brand awareness yang cukup kuat. Tanyalah peminum kelas gardu ronda dan pangkalan ojek. Pasti mereka lebih mengenal Tomi [dan Mansion House] ketimbang Kahlua, Absolute, Skyy atau Southern Comfort.

Tomi kemasan seperempat liter, dalam botol wiski ukuran kantong ala Kapten Haddock, harganya sekitar Rp 3.500. Lebih murah daripada sebungkus Djie Sam Soe. Cuma seperdua puluh harga anggur termurah impor di pasar swalayan.

Soal rasa saya tak tahu, karena saya bukan peminum merek apapun dan kelas apapun. Yang saya agak tahu, di tangan konsumen setianya, Tomi ini memacu mixology atau seni bartending yang ajaib. Tomi dicampur minuman taurin macam Krating Daeng atau Extra Joss, disatukan dengan Fanta dan Sprite, dan entah apalagi, disajikan dengan gelas seadanya, tanpa garnish, tanpa olesan bubuk garam di bibir gelas… Hasilnya? Sama dengan minuman di tempat lain yang minimal menghabiskan ongkos senilai gaji sebulan peminum setia Tomi: riang, kadang lupa diri, sesekali terjerembab ke got mirip tikus.

Dalam keadaan mabuk, topi lurus bisa jadi miring. Bisa pula sebaliknya: topi miring jadi lurus. Artinya, kalau meminjam salah satu humor Alfred Hitchcock, orang mabuk di atas dek kapal, di tengah amuk badai, akan berjalan lurus. Sebuah antidot terhadap gambaran pelaut mabuk yang berjalan sempoyongan, padahal di darat, seolah sedang berjalan di atas dek kapal yang digoyang angin ribut. Lantaran Johnnie Walker atau Tomi, itu tak penting. Yang penting miring. Kalau tanpa topi, tapi gendut, brewok, botak sebagian, ikal berkilat, dia bernama Luciano Pavarotti.

« Prev

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)