Racun-meracun

Barangkali peracunan adalah salah satu langkah kuno untuk melenyapkan nyawa makhluk lain. Selangkah lebih canggih ketimbang mencekik, memukul dan membanting.
Langkah kuno — ya peracunan itu — nyatanya masih dilakukan sampai hari ini. Contoh terakhir adalah Munir, aktivis HAM itu. Di luar negeri, ada politikus yang diracun sehingga wajahnya berubah.
Nah racun tikus bikinan Sumber Djadi, Solo, Jawa Tengah, itu tentu saja untuk tikus. Disebut sebagai obat keras. Aha! Obat! Apapun yang berbau laboratoris atau kimiawi, oleh awam akan disebut sebagai “obat” padahal bukan penyembuh.
Terkemas secara sederhana, dalam kertas HVS tersablon [cukup dua warna], racun ini saya dapat di sebuah pasar di Bojonegoro. Sedangkan racun lainnya, untuk tikus dan celeng itu [mengerikan, alangkah jauh rentang kemustajabannya!], itu saya dapatkan di Pasar Ngasem Yogyakarta.
Sungguh sebuah resep yang sempurna, menyerupai mereknya [Sampurna], dengan anjuran yang efektif: campurkan dengan makanan. Di tangan orang sembrono, gambar tengkorak terlingkar itu akan menjadi sugesti bengis.
