Parkir Cepek Didi Kempot
Karcis parkir ini saya comot pada 1996. Huruf “B” berarti untuk becak. Dalam tafsiran saya, becak dan andong itu “parkir”, kalau sepeda “nitip” [karena ada istilah lama "penitipan sepeda"].
Berbahan kertas HVS 60 gram, dengan cetakan yang sangat eksotis: handpress. Jejak tinta tak merata, tapi jejak tindihan huruf timah sangat jelas, apalagi kalau diraba.
Saat itu, sembilan tahun lampau, mini offset sudah menjadi barang murah, bahkan kalau dicetak offset dengan volume pesanan untuk stok karcis dua tahun mungkin malah lebih murah ongkosnya ketimbang cetak dengan tenaga tangan yang mengilap oleh peluh.
Tapi ahhh… barangkali itu memang maunya orang “setasiun” [lihat ejaan pada karcis]. Hehe, “setasiun”. Sungguh cara mengeja yang njawani. Makanya lagunya Didi Kempot itu berbunyi “ning se-ta-si-un mba-lap-an…”.
Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur umumnya akan melafalkannya sebagai “se-ta-sioon” atau “sta-sioon”. Tapi orang Banyumas dan Tegal akan melafalkannya sesuai huruf, dengan “u” yang penuh.
Berbunyi “o” maupun “u”, Rp 100 pada 1996 — ketika sedollar Amrik masih setara Rp 1.900 — itu bagi kita murah. Tapi tidak untuk Pak Andong dan Pak Becak. Buktinya biaya dibebankan pada penumpang. Kalau dibebankan pada kusir, mana pakai pakai hitungan jam seperti Secure Parking segala, alangkah beratnya.