label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Alat tulis dan kantor

September 7, 2006

Buku Levi’s, dari si Burung Hantu

label buku tulis cap leces
Bagi sebagian kita, Leces berarti buku tulis dengan jilid benang. Sama seperti Blabak (Magelang) dan Padalarang (Bandung — ingat “kertas padalarang”?). Keduanya adalah nama tempat yang menjadi nama perusahaan.

Ejaan lamanya Letjes. Ejaan barunya Leces. Itu nama tempat di Probolinggo, Jawa Timur itu, juga menjadi nama BUMN yang memproduksi kertas: PT Kertas Leces (Persero). Dulu namanya NV Letjes (beroperasi sehak 1940), kemudian menjadi PN Leces.

buku tulis cap lecesDulu, tahun 70-an, ketika pilihan buku masih terbatas, maka buku-buku anak sekolah hampir sama. Bersampul kertas ungu, dengan label yang lemnya tak menempel rata. Hudha, blogger Kota Kertas pengirim repro buku ini, menamaminya “buku biru”, “buku violet “bahkan “buku Levi’s” (mungkin karena berwarna indigo).

Menurut Hudha, buku tulis model ini terakhir diproduksi pada 1992, untuk “wilayah pedalaman”. Bayangkan, 14 tahun yang lalu. Leces tak meneruskan karena di pasar sudah banyak produsen buku tulis seperti SG (Sentral Gemilang) , Kiky, Locomotif dan Sinar Dunia.

Dulu selain Letjes, buku ungu juga dibuat oleh swasta. Di Jawa Tengah yang popular adalah buku tulis cap Banteng dan cap Swari — masing-masing menyertakan label tempel untuk menuliskan nama.

Tapi saat itu buku tulis luks juga sudah ada, antara lain merek AA, yang pada awal sampai medio 70-an mengeluarkan seri bergambar Led Zeppelin, Black Sabbath, Shocking Blue, dan musisi Barat lainnya, dalam sampul art carton. Ada juga merek lain yang sampulnya memasang musisi Indonesia sebangsa Koes Plus, Mercy’s dan Panbers.

Tamatkah Leces sekarang? Tidak. Masih bertahan. Menurut Hudha, sejak pemilu pertama 1955 sampai pemilu 2004, kertas suaranya diproduksi oleh Leces. Di luar kertas suara, Leces juga memproduksi tisu dan kertas koran.

Logo Leces tetap burung hantu. Mirip Padalarang, karena Leces pada zaman Belanda adalah anak perusahaan Padalarang.

Buku tulis bersampul ungu ini adalah bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia, karena ikut menghasilkan ribuan sarjana. Berbahagialah jika Anda masih menyimpan barang langka ini.

(Terima kasih untuk Hudha)

  1. Aku juga pake tuh buku yang beginian.
    Waktu jaman EsDe. Bahkan ada buku gambarnya yg bentuknya seperti buku tulis. Tidak memanjang berbentuk A4 spt buku gambar lazimnya. Ada juga buku untuk nulis latin tegak bersambung. Masih ada gak ya pelajaran menulis kayak gitu :D
    *horaaayyy comment pertama

    Comment by dianekawhy — September 8, 2006 @ 12:48 pm
  2. Waktu masa kecil saya di Banyuwangi juga ada pabrik kertas Basuki Rachmat yg juga BUMN, yg juga memproduksi buku seperti itu. Tapi sepertinya gak tau sekarang pabrik kertas itu masih ada atau gak.

    Comment by budhi — September 8, 2006 @ 1:25 pm
  3. BUku sampul ungu ‘cap Banteng’ itu berharga nggak, paman?

    Comment by tito — September 10, 2006 @ 8:19 pm
  4. cuba aku cariken yang di arsip simbahku yang masih pakai Letjes (terbaca Leces).

    Comment by Witjak — September 11, 2006 @ 2:02 pm
  5. Matur nuwun pak puh….

    Comment by dhany — September 12, 2006 @ 8:10 am
  6. suka muncul juga di TTS atau soal ulangan jaman SD : “kota tempat pabrik kertas”

    Comment by mpokb — September 12, 2006 @ 10:49 am
  7. Wah, saya dulu paling ngamuk kalo dibeliin buku model begini. Favorit saya buku tulis yang bergambar Chicha Koeswoyo. Terus di sampul bagian dalemnya ada lirik lagu atau daftar perkalian hehehehe..

    Gedean dikit saya berusaha bikin sampul sendiri dengan gambar Rod Stewart yang di montase dengan modal gunting dan lem nasi terus di fotokopi dan jadi sampul buku deh.. manteebbb… :-)

    Comment by JaF — September 12, 2006 @ 9:46 pm
  8. Jadi inget, buku biru ini masih saya pake buat nyari tanda tangan senior pas Ospek SMA tahun 1995 dulu di kampung halaman tercinta, Probolinggo. Bukunya tipis banget dan waktu itu sudah mulai susah nyarinya, sampai kita beli di Leces-nya sendiri. (Probolinggo-Leces sekitar 20an KM)

    Buat saya ini bukan sekedar buku biasa, tapi ada banyak kenangan lama yang terikut di dalamnya. Saudara-saudara saya juga masih ada yang kerja di pabrik ini. Kalau masih ada saya mau beli!

    Comment by Ardian — September 13, 2006 @ 11:34 am
  9. saya jadi inget masa-masa SD dulu…

    Comment by Ipoul_bangsari — September 14, 2006 @ 7:47 am
  10. keknya gw pernah liat deh dulu, kalo nggak salah sampulnya warna ungu…buku tulis 555..ya nggak?

    Comment by noel — September 21, 2006 @ 10:45 pm
  11. Waktu buku itu sedang populer dipakai, aku masih sd. kalau tidak salah dulu punyaku terbitan kota Blabag, Magelang. Dan menulisnya menggunakan pencil yang kalo udah pendek ujungnya disambung pake kertas digulung. Jaman itu yang populer lagu Koes Plus dan Titi Sandhora-Mukchin, mendengarkan lewat radio Philips yang komponennya pake lampu2 tabung.

    Comment by Ontoseno — October 11, 2006 @ 10:07 am
  12. Wah jadi inget jaman sd dulu. Waktu itu kalo ketinggalan buku catatan saya langsung lari ke warung sebelah sekolah buat beli buku ini. Buku ini juga sering dikorbankan untuk diambil satu lembar halaman tengahnya buat dijadikan kertas jawaban ulangan. Terima kasih Leces.

    Comment by bigbadag — October 30, 2006 @ 10:40 pm
  13. Setelah membaca web site ini sya jadi teringat masa kecil waktu TK. Saya juga memakai buku ungu. Tapi sekarang sudah ga musim. Sampul buku – buku sekarang isinya gambra – gambar semua. Tapi saya jadi penasaran kenapa simbolnya burung hantu? Apakah ada yang bisa memberikan penjelasan kepada saya. Saya hanya tahu kalau burung hantu adalah simbol pendidikan, selebihnya saya tidak tahu. Terima kasih.

    Comment by nadya — October 31, 2006 @ 1:58 pm
  14. buat nadya : simbul burung hantu mungkin juga hasil stilisasi (penggayaan) dari dua gulungan kertas yang berhadapan … eh kok kayak manuk dares yo … gak popo lah wong manuk dares yo dadi simbule pendidikan … akhirnya jadilah gambar burung hantu yang menemani pekerja malam pabrik kertas leces hehehe.

    selain buku letjes dulu ada juga buku GM (gadjah Mada) produksi Basuki Rahmat Banyuwangi

    Comment by gunarso — June 20, 2007 @ 10:10 pm
  15. wah kreatif nih tulisannya… jadi inget jaman kanak2… tengkiu

    Comment by Harian — December 20, 2007 @ 12:14 pm

Leave a comment

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL