Saputangan Bapucuk Ampek

19 December 2006 @ 22:01:16

saputangan pria cap gajah

Ini merek klasik. Bukan bikinan Indonesia. Dari dulu diimpor dari RRC, bahkan saat Indonesia sedang tak menjalin hubungan diplomatik dengan Negeri Tirai Bambu itu. Seperti umumnya saputangan, garis bersilang pada kain lebih rapat pintalannya sehingga menghasilkan tekstur yang berbeda.

Saputangan cap Gajah, selain cap Mercusuar, telah mewarnai hari-hari orang Indonesia, sejak jauh hari sebelum muncul merek fashionable yang lebih keren — baik yang asli maupun palsu.

Saputangan cap gajah dan cap Mercusuar adalah saputangan — kacu, kata wong Jawa — pertama yang saya pakai saat kelas dua atau tiga SD. Maksud saya saputangan khusus untuk saya, yang disulam monogram “A.R.” oleh Ibu agar tak tertukar dengan milik Bapak dan saudara.

Ibu tinggal mengambilkannya dari kotak di lemari pakaian Bapak. Begitulah, selalu ada stok saputangan karena Ibu selalu membeli dalam paket. Tahun lalu, ketika saya pulang Natalan, sama seperti kepulangan saya sebelumnya Ibu masih punya stok kacu warisan almarhum Bapak.

Di Jakarta kita masih mendapatkan paket saputangan ini di Pasar Pagi Glodok dan Pasar Pagi Mangga Dua.

saputangan pria cap gajahSeperti halnya handuk baru, saputangan anyar juga kurang kêsêt. Licin, kurang menyerap keringat. Lagi pula lipatannya tak menjadi empat bagian sehingga agak besar jika masuk ke saku celana.

Kembali ke sulaman. Karena Ibu akhirnya tak sempat membuatkan monogram, lagi pula saya malu kalau ketahuan berkacu monogram (kayaknya kurang dewasa, kurang melelaki), maka sejak SMA saya menempuh cara baru.

Bagaimana caranya? Lembar saputangan saya masukkan ke mesin tik lalu saya ketik selayaknya kertas. Asal pitanya bagus, hasil ketikan akan awet.

Saya memetik ide saat melihat baju Arrow dan Manhattan hibah dari kakak saya. Ada kode produksi yang mirip hasil ketikan, karena ada jejak tekstur pita. Yang saat itu segera terbayang adalah menandai dengan stempel logam kantor pos yang menggunakan tinta khusus. Tapi mana mungkin?

Akhirnya saya coba pakai mesin tik. Berhasil. Norak tapi efektif.

Beginilah Seyogyanya Bikin Wingko

19 December 2006 @ 20:59:03

wingko mataram yogya

Wingko babat (atau babad?) bukan hanya berarti Semarang, dan — konon — dulunya memang tak berasal dari Semarang, melainkan Babad di Jawa Timur. Yah, anggap saja sejenis dengan “gudeg yogya” (dengan “y” kecil) dan “soto madura” (dengan “m” kecil) yang sudah menjadi nama benda (makanan). Begitu pula dengan “petai cina”.

Maka orang Yogya di Jalan Monjali 75 (Monjali = Monumen Jogja Kembali) itu bikin Wingko Mataram. Dari segi nama dan merek jelas mengarah ke Yogya, karena Mataram berarti Yogya.

Eh, yang bener? Yah, menurut kesalahkaprahan begitu. Padahal Mataram, sebagai nama kota, ada di Lombok. Adapun Mataram, sebagai kerajaan, ada dua jenis yaitu Mataram Hindu dan Mataram Islam.

Untuk Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati, akhirnya terpecah menjadi empat di dua tempat: Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, Kasultanan Yogyakarta, dan Pakualaman.

Tapi jika sekarang bicara gaya Mataram, itu berarti Yogya. Termasuk dagelan mataram yang zaman Basiyo.

Lantas apa klaim diri kelebihan produk ini? Dimasak dengan oven sehingga menghasilkan cita rasa yang seyogyanya. Pelesetan kata, sebagai kelanjutan dagelan mataram, bisa diangkut ke ranah perniagaan modern.

wingko mataram yogya

Dewa Tawa yang Plastis

19 December 2006 @ 20:34:03

lilin mainan cap raja ketawa

Lilin mainan elastis biasanya untuk anak-anak. Maka mereknya pun sebisa mungkin mengesankan sesuatu yang riang. Bukan gambar tengkorak, misalnya.

Maka produsen plastisin ini memilih merek Raja Ketawa untuk “platesin”-nya. Gambarnya mengingatkan saya pada Dewa Ketawa dalam seratus lambang nomor buntut. Saya lupa nomor 44 atau 64 itu ada Dewa Ketawa. Kalau nomor 33, saya ingat, itu pengemis. Nomor 21 (ji-it) itu pelacur.

Apakah itu gambar raja? Entah. Saya sih teringat beberapa tampilan figur Sang Buddha dalam patung dan reflief.

Yang belum jelas bagi saya: apakah produsennya pernah membuat boneka lilin berbentuk raja ketawa?

lilin mainan cap raja ketawa

Gaul-menggauli bersama Keripik Singkong

19 December 2006 @ 20:28:43

snack gaul keren beken

Ini produk rumah tangga, bagian dari ekonomi rakyat, yang didistribusikan melalui warung rokok. Harganya Rp 1.000 per bungkus. Rasa? Saya tak mencobanya. Karena tak mencicipi maka bolehlah saya disebut kurang gaul.

Lha iyalah, namanya kan “snack gaul”. Cap Dua Jempol pula. Jadi, konsumen penganan ini adalah orang yang well informed, fashionable, stylish, updated, trendy, sociable — pokoknya sesuai makna baru “gaul” sejak pertengan 90-an — sehingga layak dapat two thumbs up.

Dari segi desain, label penganan ini terkesan seadanya. Si produsen sadar, orang gaul sejati tak butuh terlalu banyak gaya luar, karena kalau terlalu meriah akan membingungkan.

Ketika komputer kian merakyat, urusan desain menjadi lebih demokratis. Setiap orang bisa dan boleh menjadi perancang sekaligus pencetak. Dengan mesin fotokopi pun jadi.

Namanya juga gaul kan? Selalu memanfaatkan perkembangan teknologi.

snack gaul keren beken

Kingkong Menambur Dada

19 December 2006 @ 20:14:23

baterai cap kingkong loe lawan!

Dung! Dung! Dung! Kingkong menambur dada. Lantas muncullah setrum, yang kemudian dikemas sebagai baterai.

Baterai cap Kingkong ini barang rakyat. Biasanya tesertakan sebagai paket dalam produk elektronik murah(an) bikinan RRC yang membanjiri Indonesia. Saya pernah melihat baterai ini juga dijajakan di kaki lima dan bus kota.

Siapa produsennya? Dalam kemasan tertulis “Kingkong Electronics Co.Ltd.” — tanpa kota maupun negara, apalagi standar industrial rujukan.

Baterai ini bisa menjadi berkelas heavy duty kalau kingkongnya sangat besar dan pukulannya ke dada sendiri sangat kuat. Grhhhhhh!

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)