Saputangan Bapucuk Ampek

Ini merek klasik. Bukan bikinan Indonesia. Dari dulu diimpor dari RRC, bahkan saat Indonesia sedang tak menjalin hubungan diplomatik dengan Negeri Tirai Bambu itu. Seperti umumnya saputangan, garis bersilang pada kain lebih rapat pintalannya sehingga menghasilkan tekstur yang berbeda.
Saputangan cap Gajah, selain cap Mercusuar, telah mewarnai hari-hari orang Indonesia, sejak jauh hari sebelum muncul merek fashionable yang lebih keren — baik yang asli maupun palsu.
Saputangan cap gajah dan cap Mercusuar adalah saputangan — kacu, kata wong Jawa — pertama yang saya pakai saat kelas dua atau tiga SD. Maksud saya saputangan khusus untuk saya, yang disulam monogram “A.R.” oleh Ibu agar tak tertukar dengan milik Bapak dan saudara.
Ibu tinggal mengambilkannya dari kotak di lemari pakaian Bapak. Begitulah, selalu ada stok saputangan karena Ibu selalu membeli dalam paket. Tahun lalu, ketika saya pulang Natalan, sama seperti kepulangan saya sebelumnya Ibu masih punya stok kacu warisan almarhum Bapak.
Di Jakarta kita masih mendapatkan paket saputangan ini di Pasar Pagi Glodok dan Pasar Pagi Mangga Dua.
Seperti halnya handuk baru, saputangan anyar juga kurang kêsêt. Licin, kurang menyerap keringat. Lagi pula lipatannya tak menjadi empat bagian sehingga agak besar jika masuk ke saku celana.
Kembali ke sulaman. Karena Ibu akhirnya tak sempat membuatkan monogram, lagi pula saya malu kalau ketahuan berkacu monogram (kayaknya kurang dewasa, kurang melelaki), maka sejak SMA saya menempuh cara baru.
Bagaimana caranya? Lembar saputangan saya masukkan ke mesin tik lalu saya ketik selayaknya kertas. Asal pitanya bagus, hasil ketikan akan awet.
Saya memetik ide saat melihat baju Arrow dan Manhattan hibah dari kakak saya. Ada kode produksi yang mirip hasil ketikan, karena ada jejak tekstur pita. Yang saat itu segera terbayang adalah menandai dengan stempel logam kantor pos yang menggunakan tinta khusus. Tapi mana mungkin?
Akhirnya saya coba pakai mesin tik. Berhasil. Norak tapi efektif.
5 Responses to Saputangan Bapucuk Ampek
Leave a Reply Cancel reply
Random Posts
Karcis Sepur Seukuran Kartu Domino
March 23, 2011Akhirnya karcis kereta api — orang bilang: tiket — macam ini punah. Dicetak di atas karton hijau telur (tapi rentang warna bisa bervariasi) setebal dan seukuran kartu domino, dengan teknik letterpress, dan peneraan numeratornya tampaknya juga secara manual. Untuk jarak dekat, tiket sepur macam ini sudah digantikan kertas HVS bercetak offset dengan ukuran sekitar [...]
Recent Comments
- sule: q butuh plstk jerapah ukuran 7-20.tolong hub saya bagi y menyediakan.trms
- patricia: untuk cari platesin merk ini bs cb buka di web : http://akarsanaagung.wordpress .com
- dwi si topi miring: mantaf
- Bismaa: Ehh, itu kan eyang saya .. Benerr suerr, kok bisa ada di internet ?
- Bismaa: Ehh, itu kan eyang saya .. Benerr suerr, kok bisa ada di internet ?
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)







saputangan merek itu pasti bakal diputer2 terus di pasaran :D
pembawa sarung tangan itu termasuk pria flamboyan atau well groomed yak?
btw, layout baru keren juga nih. header nakal, menggugah. hayaah… :P
Wah. emak dikampung masih jualan sapu tangan merk ini Om..
Sama itu… kaos kutang and CD merek Hings & Swan plus handuk leher tjap Angsa huahaha..
he.. kacu.. ‘kanebo’ rai.. bungkusnya bagus.. klasik..
Pak kemplu kelas 2 SD pake saputangan?
hehehehehe….pak Kemplu dulu anak mami ya?!! :)
dulu wkt saya SD kalo pk saputangan (“selampe” orang betawi bilang) dibilangnya kalo nggak anak mami ya….dibilang : banci…. hehehehe…selampe dulu juga bisa menunjukan status seseorang, krn biasanya yg pake itu anak orang yg berada, gak anak kampung yg ingusan gak dilap sampe ijo atao cuma dilap ke lengan baju :P