baterai cap kingkong loe lawan!

Dung! Dung! Dung! Kingkong menambur dada. Lantas muncullah setrum, yang kemudian dikemas sebagai baterai.

Baterai cap Kingkong ini barang rakyat. Biasanya tesertakan sebagai paket dalam produk elektronik murah(an) bikinan RRC yang membanjiri Indonesia. Saya pernah melihat baterai ini juga dijajakan di kaki lima dan bus kota.

Siapa produsennya? Dalam kemasan tertulis “Kingkong Electronics Co.Ltd.” — tanpa kota maupun negara, apalagi standar industrial rujukan.

Baterai ini bisa menjadi berkelas heavy duty kalau kingkongnya sangat besar dan pukulannya ke dada sendiri sangat kuat. Grhhhhhh!

 

teh guaranteeNamanya seolah mengajak pelesetan: Guarantea. Seolah mirip “guarantee”. Terbikin oleh PT Sari Segar Alami, Bogor. Saya menemukannya di warung rokok. Teh cair dalam botol ini menyebut diri “work’s friend”. Maka dalam kemasannya pun ada sugesti, “Guarantea bukan hanya untuk santai tapi untuk kerja!”

Kenapa bernama Guarantea? Produsennya bilang, teh ini mengandung guaran. Maka kemasan 250 cc ini diyakini “memberikan kesegaran yang luar biasa!” Betul, setiap klaim diri sekaligus sugesti disertai tanda seru.

Kenapa saya membelinya, itu karena ingin tahu rasanya dan terlebih dahulu terkesan oleh kemasannya. Botol plastik ini seperti Barbie model lawas: pinggang terlalu ramping, dada kelewat membusung. Tapi sebagai botol, secara ergonomis enak digenggam. Tidak mudah mrucut (merosot terlepas).

Rasanya? Ini soal selera. Bagi saya terlalu manis, dengan sepet yang kurang.

 

enting-enting gepuk salatigaEnting-enting, ting-enting, adalah makanan berbahan kacang. Bentuknya mirip ampyang atau gula kacang. Maka waktu kecil dulu saya membayangkan enting-enting gepuk dibuat dengan menumbuk enting-enting utuh sampai menjadi bubuk padat.

Ternyata tidak. Saat saya kelas 2 SD membuktikannya di sebuah rumah yang disebut “pabrik enting-enting” di Watugede, Karanganyar, Salatiga. Ternyata pegawainya tidak menumbuk enting-enting utuh.

Yang pasti, pengalaman itu memperkaya pengetahuan saya tentang pabrik. Yang namanya pabrik tidak harus berupa gedung besar bercerobong asap seperti pabrik gula. Saya sudah membuktikannya di pabrik tahu di Kalitaman dan pabrik kerupuk di Sinoman — keduanya di Salatiga, tempat saya lahir dan tumbuh.

Pengalaman lain saat nonton orang bekerja di pabrik enting-enting gepuk adalah saat mereka menstempeli bungkus. Ternyata kertas roti itu hanya dicap dengan stempel bertinta merah.

Apa gambar yang distempelkan? Saya lupa persisnya. Kalau bukan rumah bergaya Cina ya kelenteng. Memang itulah merek yang banyak dibikin di Salatiga. Dari sejumlah merek, yang bertahan ya cap Klenteng dan 2 Holoo.

Bagaimana kalau dijadikan oleh-oleh? Merepotkan bagi pembawannya, lagi pula kurang khas, karena enting-enting ini sekarang tersedia di semua kota. :D

 

karcis damri

Ini kenangan lama, 20 tahun lalu, dari Dhany tentang bus DAMRI (Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia):

Bayangkan dari Aloha yang ada di ujung selatan luar kota surabaya s/d Tanjung Perak di pucuk utara pada tahun 1987/88 ongkosnya cuma 200 perak untuk sekali jalan jaraknya hampir 25 KM, karena saat itu jalan tol belum dibangun. Yang pasti waktu itu si mas DAMRI termasuk angkutan yang paling keren dan bukan angkutan asal sekali-sekali jalan.

Kenangan itu dia kirim via e-mail 23 Agustus lalu, lengkap dengan repro karcis Damri. Dia masih ingat, Damri selain menggunakan Mercedes juga pernah mengisi armadanya dengan bus Tata bikinan India dan “bus tumpuk” Amalgam dari Inggris.

DAMRI, kini Perum, merupakan bagian dari sejarah angkutan rakyat di Indonesia. Pemerintah, mungkin tahun 60-an, membentuk sebuah jawatan — bukan perusahaan — untuk melayani kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yang murah. Sama seperti Pemerintah DKI Jakarta Raya membentuk PPD.

Menurut info per 2002 di anak situs BUMN, DAMRI memiliki 67 cabang, tapi tak jelas di kota apa saja. Juga kurang jelas berapa kekuatan armadanya sekarang.

Tapi ngomong-omong soal bus kota, memang ada tiga macam. Pertama: jenis biasa, seperti umumnya bus. Kedua: double decker (bus susun, atau bus tumpuk menurut istilah Dhany). Ketiga: bus gandeng.

Untuk istilah “bus gandeng”, dulu — entah siapa, saya lupa — ada yang tak setuju. Yang betul itu “bus sambung”. Kalau bus gandeng bakal memenuhi jalan, katanya. Baiklah, anggap saja salah kaprah, seperti kita menyebut “truk gandeng”, bukan “bus sambung”.

Adapun tentang bus tumpuk, teman saya yang orang Madura punya lelucon. Katanya, serombongan orang Madura batal meneruskan perjalanan dengan double decker. Untunglah bus baru beranjak lima meter meninggalkan halte.

Rombongan itu sempat duduk di dek atas, kemudian turun. Alasannya, “Ada sopir saja bisa nabrak, apalagi ndak ada sopir.” Mati ketawa ala Madura.