label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Archive for January, 2007

Lain-lain

January 12, 2007

Kawin = Dapat Pembantu

buku pengantar berpacaran muda-mudi

Kepada muda-mudi: Kawinlah kalian kalau sudah ingin. Jangan terlalu membujang — apalagi menghambur-hamburkan nafsu dengan jajan. Itu bukan aturan yang benar. Dengan kawin engkau tidak akan jatuh miskin, bahkan dengan kawin anda mendapat pembantu/pegawai tanpa menggaji.

Itulah yang diajarkan oleh Abdullah Masrur M.H. dalam bukunya Pengantar Berpacaran: Psycologie Muda-mudi. Edisi 1980, terbitan Bintang Pelajar, Surabaya.

Buku ini sudah dicetak offset, tapi halaman dalam dicetak secara buruk di atas kertas koran. Setting tak rapi. Garis potongan paste up tampak berjejak. Beberapa huruf pada tepi kolom terpotong. Sungguh sebuah produk cetakan rakyat.

rugos

Tampaknya setting dengan paragraf justified ini menggunakan teknologi yang saat itu dianggap murah: bukan photo typesetting melainkan mesin tik elektronik berpita plastik.

Orang percetakan kecil menyebutnya “setting IBM” karena menggunakan mesin tik elektronik IBM yang hurufnya bukan berupa piringan (daisy wheel) melainkan bola (golf). Cetak huruf tebal (bold, vet) bukan masalah, tapi untuk cetak huruf miring (kursif, italic), wadooohhhh… tidak bisa.

rugos

Bagaimana dengan teks untuk judul bab yang ukurannya di atas 12 pt? Apa boleh buat, buku ini melakukannya dengan… Rugos!

rugos dan spidol

Duh, Rugos. Perlu posting khusus tampaknya. Rugos adalah merek, konon singkatan “huruf gosok”, bikinan Surabaya. Rugos adalah jawaban Indonesia untuk barang sejenis, yaitu Letraset dan Mecanorma yang merupakan barang impor.

rugos dan spidol

Di tangan yang kurang terampil, dan kurang hirau tipografi, penempelan huruf ini akan menjadi tidak rapi. Tapi misalkan penempelnya terampil, kalau kehabisan huruf dan tanda baca ya tetap saja repot. Maka dalam buku ini tanda titik-titik (ellipsis) dalam judul dibuat dengan… spidol!

Bagaimana jika huruf M habis? Gampang, ambil saja huruf W lalu dibalik, dan jadilah judul bab di halaman 25.

rugos

Kalau stok font Rugos habis? Juga gampang. Ambil saja font face yang lain. Hasilnya: dalam satu buku ada pelbagai jenis font untuk judul bab. Kalaupun saat itu sudah ada template juga percuma karena hurufnya habis.

rugos

Sampulnya? Istimewa! Dicetak di atas kertas HVS, dengan ilustrasi hasil repro gambar cat air dan pena. Sampul sebagus itu tanpa disertai nama pengarang dan penerbit.

Lha tentang isi buku ini, ada di blog induk.

buku petunjuk berpacaran

Makanan, minuman & obat

January 10, 2007

Enting-enting Rajang

enting-enting rajang salatiga

Tak hanya gepuk. Enting-enting juga ada yang dirajang. Maksudnya diiris

melalui pemotongan, bukan pembelahan. Bedanya lagi, yang ini ditaburi wijen (Sesamun orientale).

Mereknya? Tak jauh dari yang sudah lumrah: bergambar bangunan yang mengesankan sebuah kecinaan. Bedanya yang ini bisa tampil beda, sejak kemasan sampai pilihan warna. Enting-enting wijen yang berupa kepingan itu ditumpuk, dibungkus plastik, dengan simpul pita.

Untuk warna, produk ini berani meninggalkan merah. Cukup dengan latar kuning dan teks, serta gambar, yang berwarna hijau dia menjadi sesuatu yang berbeda dari dagangan sejenis. Kalau produk ini sukes berat, dan banyak penirunya, Salatiga akan menjadi Kota Enting-enting Rajang.

enting-enting rajang salatiga

Alat tulis dan kantor

January 8, 2007

Kalender Diponegoro

kalender indonesia 1967 - pangeran diponegoro

Saya buka tahun 2007 ini dengan posting tentang kalender 1967. Ya, kalender 40 tahun lalu.

Kalender lawas ini bukan hasil cetak offset melainkan letterpress. Tindasan bekas cetaknya sangat terasa. Raster pada gambar berwarna sangat kentara sebagai hasil klise timah. Sangat nyeni.

Bergambar tunggal Pangeran Diponegoro, kalender ini dulunya milik sebuah warung di Jawa Tengah. Untuk praktisnya, si pemilik menjadikan kalender sebagai catatan bisnis — bahkan utang-piutang pun ditorehkan di situ. Ada pula catatan pemasukan dari belanja prabayar. Misalnya “Simbok titip Rp 100” dan di bawahnya ada “Saminem [tanda idem] 75“.

kalender indonesia anno 1967

Seperti apakah Indonesia pada Januari 1967? Saya kurang begitu ingat karena masih bocah. Si penjual kalender — ya, dia anak dari juragan warung — bilang, kalender lama pra-1967 umumnya bergambar Presiden Soekarno. Saya memperoleh kalender ini pada tahun 2000.

Saya bayangkan, kalender 1967 dibuat pada 1966. Saat itu, tentu saja, Soeharto belum resmi menjadi presiden, tapi desoekarnoisasi sudah berjalan. Entahlah, apakah sudah ada yang bikin kalender bergambar Soeharto.

Di luar urusan politik Orde Baru, ada hal yang nyata terlihat: kalender ini tak menyertakan sebuah merek. Mungkin kalender ini memang benda grafis yang dijual, bukan dibagikan gratis untuk keperluan promosional.

Lantas kenapa kalender ini bergambar Diponegoro? Saya kurang paham konteksnya. Peter Carey, sejarawan yang meneliti Perang Jawa atau Java Oorlog (nama lain Perang Diponegoro, perang termahal bagi Belanda selama 1825-1830), mungkin punya tafsir.

Yang saya tahu, dan semua orang tahu, divisi militer Jawa Tengah menggunakan nama Diponegoro. Tapi popularkah Diponegoro bagi semua orang Jawa?

Y.B. Mangunwijaya pernah menulis, Kesultanan Yogyakarta tak menganggap Diponegoro sebagai pahlawan. Alasannya, gara-gara Diponegoro maka Kesultanan kehilangan Dulangmas (Kedu-Magelang-Banyumas). Kawasan penghasil beras itu jatuh ke Belanda.