Kalender Diponegoro

Saya buka tahun 2007 ini dengan posting tentang kalender 1967. Ya, kalender 40 tahun lalu.
Kalender lawas ini bukan hasil cetak offset melainkan letterpress. Tindasan bekas cetaknya sangat terasa. Raster pada gambar berwarna sangat kentara sebagai hasil klise timah. Sangat nyeni.
Bergambar tunggal Pangeran Diponegoro, kalender ini dulunya milik sebuah warung di Jawa Tengah. Untuk praktisnya, si pemilik menjadikan kalender sebagai catatan bisnis — bahkan utang-piutang pun ditorehkan di situ. Ada pula catatan pemasukan dari belanja prabayar. Misalnya “Simbok titip Rp 100” dan di bawahnya ada “Saminem [tanda idem] 75“.

Seperti apakah Indonesia pada Januari 1967? Saya kurang begitu ingat karena masih bocah. Si penjual kalender — ya, dia anak dari juragan warung — bilang, kalender lama pra-1967 umumnya bergambar Presiden Soekarno. Saya memperoleh kalender ini pada tahun 2000.
Saya bayangkan, kalender 1967 dibuat pada 1966. Saat itu, tentu saja, Soeharto belum resmi menjadi presiden, tapi desoekarnoisasi sudah berjalan. Entahlah, apakah sudah ada yang bikin kalender bergambar Soeharto.
Di luar urusan politik Orde Baru, ada hal yang nyata terlihat: kalender ini tak menyertakan sebuah merek. Mungkin kalender ini memang benda grafis yang dijual, bukan dibagikan gratis untuk keperluan promosional.
Lantas kenapa kalender ini bergambar Diponegoro? Saya kurang paham konteksnya. Peter Carey, sejarawan yang meneliti Perang Jawa atau Java Oorlog (nama lain Perang Diponegoro, perang termahal bagi Belanda selama 1825-1830), mungkin punya tafsir.
Yang saya tahu, dan semua orang tahu, divisi militer Jawa Tengah menggunakan nama Diponegoro. Tapi popularkah Diponegoro bagi semua orang Jawa?
Y.B. Mangunwijaya pernah menulis, Kesultanan Yogyakarta tak menganggap Diponegoro sebagai pahlawan. Alasannya, gara-gara Diponegoro maka Kesultanan kehilangan Dulangmas (Kedu-Magelang-Banyumas). Kawasan penghasil beras itu jatuh ke Belanda.
6 Responses to Kalender Diponegoro
Leave a Reply Cancel reply
Random Posts
Gembala Kerbau bukan Koboi
December 22, 2004Kalau saja yang ia gembalakan adalah sapi, maka jadilah bocah itu cowboy. Meskipun begitu, gembala kerbau sempat menjadi ikon, setidaknya simbol yang menjadi ingatan kolektif kita, tentang bocah desa yang menikmati dunianya.
Penggembala kerbau meniup seruling? Hmmm, romantis, eksotis. Penerbit Kompas pun menjadikannya sebagai logo — sehingga ada yang menyebut buku Kompas sebagai “buku cap [...]
Recent Comments
- Ichwan Antonio: Coba cari di PD LIDO telpon 021 6926075
- JP: Mas Antyo, kenal petinju Rukimin alias Rocky ini ini? Karena dia adalah kawan lama saya, dan saya sulit...
- eqwvwyvc: spa6d4 bcduumdmobmc
- Bunny: I can\’t hear anyhntig over the sound of how awesome this article is.
- pecah utax: jaman sekarang ; Mesti Hati2x milih makanan. bt ‘ penasaran jg menurut pndapat “Aming”....
Gombal Disclaimer
label.blogombal.org is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)Categories
- Alat tulis dan kantor (4)
- Busana, perhiasan, pernik (3)
- Kosmetika (6)
- Lain-lain (10)
- Mainan (2)
- Makanan, minuman & obat (115)
- Produk jempolan (8)
- Rokok-merokok (20)
- Rumah tangga (17)
- Transportasi (4)







Diponegoro melawan Belanda bukan untuk kemerdekaan negeri ini !
dia melawan wong londo karena mereka nekat membuat jalan diatas makam orangtuanya….jadi kalo kalender 1967 ini dibuat untuk kepahlawanan-nya ? saya lebih suka mengingat “titipane simbok” yang Rp100 itu atau Dp Rp75 kira – kira buat catering berapa porsi yah ?
Bah saya tertarik dengan ini blogombal. Banyak kekayaan karya seni sangat langka zaman dahulu kurang untuk saat ini terperhatikan. Akan lebih kaya kalau kita mau share bila ada koleksi pribadi githo loh .. thanks!!
[...] Baca juga: Kalender Diponegoro [...]
perang diponegoro selain perang termahal juga perang tercepat, berakhir karena pangeran diponegoro mau nonton seputar Endonesia di RCTI.. :D
wah..tetap lestarikan budaya memulung seperti ini… banyak harta karun berharga yang kami temukan di sini..
salam hangat
KDRI
[...] Baca juga: Kalender Diponegoro [...]