Tauco Terbang

29 March 2007 @ 20:55:03

tauco kapal angkasaPesawat angkasa. Itu kata yang jarang kita dengar. Lebih sering kita mendengar “pesawat terbang” (lebih sering lagi disingkat sebagai “pesawat”) dan “kapal terbang”. Sedangkan “kapal udara” sudah jarang kita dengar. Orang Jawa pun sekarang lebih sering menyebut “pesawat”, bukan “montor mabur“, bukan “montor miber“, dan bukan “montor muluk” — yang semuanya berarti “mobil terbang”.

Kalau “pesawat luar angkasa”, itu sering kita dengar. Lantas apa hubungan tauco dengan angkasa, mugkin bisa kita tengok klaim usianya yang “kurang lebih 35 tahun”. Memang tak jelas, 35 tahun dihitung mundur dari tahun 2007 atau sebelumnya.

Taruh kata dihitung mundur dari 2007, maka 35 tahun lampau itu adalah pada 1972. Saat itu pesawat terbang masih mewah, belum menjadi moda andala angkutan rakyat jarak jauh. Transmigran dan calon jamaah haji pun masih diangkut dengan kapal.

Sesuatu yang mewah, yang belum tergapai, kadang juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang sophisticated bahkan state of the art. Hanya produk hebat yang mengasosiasikan diri ke sana — termasuk tauco dari Cianjur, kota tanpa bandar udara.

tauco kapal angkasa cianjur

Kornet adalah Corned

29 March 2007 @ 14:17:03

kornet atawa corned beef

Tampaknya dari sinilah istilah “kornet” berasal: corned. Tepatnya corned beef. Maka ketika abad lalu muncul internet, kedai kaki lima di lingkungan pondokan mahasiswa pun bergaya, menyebut “Indomi-telur-kornet” sebagai “internet”. Ini karena semua orang paham apa itu “kornet”. Alangkah repotnya jika menyebut “corned beef“.

Adapun Pronas, itu produk lama. Sangat lama, sehingga memakai nama Indonesia untuk makanan kalengannya. Bahkan pada tahun 70-an, masih dengan logo lama, produk ini mengklaim singkatan mereknya sebagai “Produk Nasional”.

Sekarang Pronas masih bertahan, bersaing di rak toko dengan merek penyusul dan barang impor (misalnya Ma Ling, yang salah satu olahannya bukan beef melainkan pork). Tapi apa pun mereknya, semua orang menyebutnya “kornet”.

Ada suatu masa ketika makanan kalengan dianggap mewah dan modern, sehingga bingkisan hari raya selalu menyertakannya. Ada biskuit kalengan (misalnya Khong Guan), ada pula buah kalengan. Tapi saya lupa apakah sarden kalengan dan kornet kalengan termasuk dalam paket.

Lambang Gaul Jadul

29 March 2007 @ 14:01:47

pagoda pastiles pagoda pastiles

Dulu, akhir 70-an sampai awal 80-an, iklan pastiles Pagoda punya slogan “lambang pergaulan Anda”. Salah satu fotonya menggambarkan cowok dan cewek sedang bermain ayunan di taman.

Sampai sekarang Pagoda masih bertahan. Malah kemasannya diperkaya, ada rasa jeruk (kaleng oranye) dan stroberi (kaleng merah). Yang saya masih penasaran adalah mengapa PT Afiat, produsennya, memilih merek “pagoda”.

Sebagai kata, “pagoda” jelas dikenal oleh banyak orang Indonesia. Kata itu dulu sering muncul dalam TTS. Tapi sebagai benda yang mewujud, “pagoda” kurang begitu diakrabi selayaknya candi, pura, vihara, dan kelenteng — dan terlebih lagi bila dibandingkan gereja dan masjid.

Kemasan Pagoda sekarang lebih bergaya. Bagian dalam ditambahi penutup berlubang. Sudah begitu tutupnya dicap lambang zodiak berikut stigma perwatakannya.

pagoda pastiles

Telor Ditera Stempel

19 March 2007 @ 23:16:29

telor bebek berstempel

Ini klasik, tapi sering kita abaikan: telor* asin yang kulitnya dicap. Pembuatnya pun kadang menerakan cap semaunya. Kadang kurang merata, malah ada yang meleset sehingga teraan bergeser. Bisa dimaklumi sih karena bidang teraan bukan bidang datar. Lagi pula peneraan dilakukan secara manual.

Saya pernah menjumpai telor asin dengan teraan cap yang rapi. Bisa begitu karena diameter capnya sekitar 1,5 cm. Permukaan cembung dapat lebih tergapai oleh stempel.

Amankah tinta stempel itu? Setahu saya tintanya bukan pewarna makanan. Kadang malah kita jumpai tinta yang bisa merembes sampai ke balik kulit telor, sampai menembus ke putih telor.

Apapun mereknya, sebagian pengusaha telor asin tak membuat kemasan khusus. Pengusaha tertentu, yang lebih sadar merek, mengemas dalam besek berlabel atau wadah plastik dengan jeglongan telor. Selebihnya adalah telor asin generik.

telor bebek berstempel

Maka lihatlah telor ini. Stempelnya cuma menyebut “Masir Telor Asin Brebes”. Masir artinya tidak mblenyek atau pun keras, seolah berbutir seperti pasir.

Cara mencungkil telor asin masir terbelah, agar lebih rata terangkut, adalah mendorong dan mendongkrak isi telor dengan sendok yang menelungkup.

Waktu masih bocah, saya selalu menjumpai penjaja telor asin di terminal bus. Selain telor asin, yang dijajakan adalah telor pindang.

Kini tak hanya penjaja telor yang lenyap. Penjaja minuman hangat (teh, kopi, susu) dalam gelas kaca yang ditaruh dalam baki berkotak, juga sudah menghilang.

Saya pernah melihat ada penumpang nggado telor di dalam bus. Apa ndak seret ya?

*) Pakai “telor” saja ya. Kalau “telur” kurang mewakili tuturan lisan.

Irma yang Indie, yang Underground

9 March 2007 @ 17:17:07

kerupuk rakyat cap irma jaya

Inilah desain label yang membuat saya kagum sekaligus terharu!

Cukup berupa kertas fotokopian ukuran seperempat kuarto, semua penggambaran dikerjakan manual, dari huruf sampai ornamen.

Seadanya. Sebisanya. Sejujurnya. Tanpa nomor telepon (ponsel) padahal sekarang sudah lazim semua pembuat cemilan, yang merupakan industri rumah tangga, mencantumkan nomor kontak. Label mereka pun sudah dicetak bagus, minimal dengan mini offset.

Dan lihatlah Irma Jaya yang saya peroleh Februari lalu. Sungguh penuh percaya diri. Sayang sekali penjualnya, di sebuah rombong (gerobak) rokok sebelah masjid, dekat rumah Qper, tak tahu dari mana asal produk itu. “Pokoknya ada yang nganter, tahu-tahu ada,” katanya.

Saya berharap menteri desain tergerak untuk membantu label ini. Tentu dengan catatan: bila pemiliknya memang berkenan. Siapa tahu dia bahagia dengan pilihannya yang berspirit indie, dan rada underground.

Next »

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)