Tauco Terbang
Pesawat angkasa. Itu kata yang jarang kita dengar. Lebih sering kita mendengar “pesawat terbang” (lebih sering lagi disingkat sebagai “pesawat”) dan “kapal terbang”. Sedangkan “kapal udara” sudah jarang kita dengar. Orang Jawa pun sekarang lebih sering menyebut “pesawat”, bukan “montor mabur“, bukan “montor miber“, dan bukan “montor muluk” — yang semuanya berarti “mobil terbang”.
Kalau “pesawat luar angkasa”, itu sering kita dengar. Lantas apa hubungan tauco dengan angkasa, mugkin bisa kita tengok klaim usianya yang “kurang lebih 35 tahun”. Memang tak jelas, 35 tahun dihitung mundur dari tahun 2007 atau sebelumnya.
Taruh kata dihitung mundur dari 2007, maka 35 tahun lampau itu adalah pada 1972. Saat itu pesawat terbang masih mewah, belum menjadi moda andala angkutan rakyat jarak jauh. Transmigran dan calon jamaah haji pun masih diangkut dengan kapal.
Sesuatu yang mewah, yang belum tergapai, kadang juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang sophisticated bahkan state of the art. Hanya produk hebat yang mengasosiasikan diri ke sana — termasuk tauco dari Cianjur, kota tanpa bandar udara.






