label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Makanan, minuman & obat

March 19, 2007

Telor Ditera Stempel

telor bebek berstempel

Ini klasik, tapi sering kita abaikan: telor* asin yang kulitnya dicap. Pembuatnya pun kadang menerakan cap semaunya. Kadang kurang merata, malah ada yang meleset sehingga teraan bergeser. Bisa dimaklumi sih karena bidang teraan bukan bidang datar. Lagi pula peneraan dilakukan secara manual.

Saya pernah menjumpai telor asin dengan teraan cap yang rapi. Bisa begitu karena diameter capnya sekitar 1,5 cm. Permukaan cembung dapat lebih tergapai oleh stempel.

Amankah tinta stempel itu? Setahu saya tintanya bukan pewarna makanan. Kadang malah kita jumpai tinta yang bisa merembes sampai ke balik kulit telor, sampai menembus ke putih telor.

Apapun mereknya, sebagian pengusaha telor asin tak membuat kemasan khusus. Pengusaha tertentu, yang lebih sadar merek, mengemas dalam besek berlabel atau wadah plastik dengan jeglongan telor. Selebihnya adalah telor asin generik.

telor bebek berstempel

Maka lihatlah telor ini. Stempelnya cuma menyebut “Masir Telor Asin Brebes”. Masir artinya tidak mblenyek atau pun keras, seolah berbutir seperti pasir.

Cara mencungkil telor asin masir terbelah, agar lebih rata terangkut, adalah mendorong dan mendongkrak isi telor dengan sendok yang menelungkup.

Waktu masih bocah, saya selalu menjumpai penjaja telor asin di terminal bus. Selain telor asin, yang dijajakan adalah telor pindang.

Kini tak hanya penjaja telor yang lenyap. Penjaja minuman hangat (teh, kopi, susu) dalam gelas kaca yang ditaruh dalam baki berkotak, juga sudah menghilang.

Saya pernah melihat ada penumpang nggado telor di dalam bus. Apa ndak seret ya?

*) Pakai “telor” saja ya. Kalau “telur” kurang mewakili tuturan lisan.

  1. paman, di kereta bisnis jurusan jogja-jakarta masih ada tuh penjaja telur asin

    Comment by andrias ekoyuono — March 23, 2007 @ 5:55 pm
  2. penjajaan kreatif dan menarik perhatian ini pernah saya temui di terminal klaten sana: ….kopitehjahekacanglemper..ketandhogsusu…

    Comment by anakperi — March 25, 2007 @ 9:04 am
  3. becanda jayusnya asongan : teh asin telor kotak, teh asin telor kotak..
    btw, di KA jabotabek dulu ada penumpang, habis makan telor rebus terus makan salak.. nggak pake minum. sakti yak?

    Comment by mpokb — March 28, 2007 @ 6:16 pm
  4. “..Waktu masih bocah, saya selalu menjumpai penjaja telor asin di terminal bus. Selain telor asin, yang dijajakan adalah telor pindang…”

    Terminal Salatiga ya pakdhe? akhirnya, ternyata inilah jawaban mengapa bapak saya yang asli Ambarawa senang sangu telur pindang kalau mudik naik mobil.

    Comment by Abi_ha_ha — June 10, 2007 @ 9:39 pm
  5. jadi inget tebakan
    telur apa yang sangar??
    ya telur asin … ada tatto-nya

    Comment by gunarso — June 20, 2007 @ 9:40 pm
  6. Telur asin = telur preman,
    karena pake tato :D

    Comment by Yeni Setiawan — July 25, 2007 @ 4:28 pm
  7. [...] Telor Asin – review [...]

    Pingback by Once Upon A Life » Blog Gombal! — September 7, 2007 @ 6:25 am

Leave a comment

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL