Telor Ditera Stempel

Ini klasik, tapi sering kita abaikan: telor* asin yang kulitnya dicap. Pembuatnya pun kadang menerakan cap semaunya. Kadang kurang merata, malah ada yang meleset sehingga teraan bergeser. Bisa dimaklumi sih karena bidang teraan bukan bidang datar. Lagi pula peneraan dilakukan secara manual.
Saya pernah menjumpai telor asin dengan teraan cap yang rapi. Bisa begitu karena diameter capnya sekitar 1,5 cm. Permukaan cembung dapat lebih tergapai oleh stempel.
Amankah tinta stempel itu? Setahu saya tintanya bukan pewarna makanan. Kadang malah kita jumpai tinta yang bisa merembes sampai ke balik kulit telor, sampai menembus ke putih telor.
Apapun mereknya, sebagian pengusaha telor asin tak membuat kemasan khusus. Pengusaha tertentu, yang lebih sadar merek, mengemas dalam besek berlabel atau wadah plastik dengan jeglongan telor. Selebihnya adalah telor asin generik.

Maka lihatlah telor ini. Stempelnya cuma menyebut “Masir Telor Asin Brebes”. Masir artinya tidak mblenyek atau pun keras, seolah berbutir seperti pasir.
Cara mencungkil telor asin masir terbelah, agar lebih rata terangkut, adalah mendorong dan mendongkrak isi telor dengan sendok yang menelungkup.
Waktu masih bocah, saya selalu menjumpai penjaja telor asin di terminal bus. Selain telor asin, yang dijajakan adalah telor pindang.
Kini tak hanya penjaja telor yang lenyap. Penjaja minuman hangat (teh, kopi, susu) dalam gelas kaca yang ditaruh dalam baki berkotak, juga sudah menghilang.
Saya pernah melihat ada penumpang nggado telor di dalam bus. Apa ndak seret ya?
*) Pakai “telor” saja ya. Kalau “telur” kurang mewakili tuturan lisan.
March 23rd, 2007 at 5:55 pm
paman, di kereta bisnis jurusan jogja-jakarta masih ada tuh penjaja telur asin
March 25th, 2007 at 9:04 am
penjajaan kreatif dan menarik perhatian ini pernah saya temui di terminal klaten sana: ….kopitehjahekacanglemper..ketandhogsusu…
March 28th, 2007 at 6:16 pm
becanda jayusnya asongan : teh asin telor kotak, teh asin telor kotak..
btw, di KA jabotabek dulu ada penumpang, habis makan telor rebus terus makan salak.. nggak pake minum. sakti yak?
June 10th, 2007 at 9:39 pm
“..Waktu masih bocah, saya selalu menjumpai penjaja telor asin di terminal bus. Selain telor asin, yang dijajakan adalah telor pindang…”
Terminal Salatiga ya pakdhe? akhirnya, ternyata inilah jawaban mengapa bapak saya yang asli Ambarawa senang sangu telur pindang kalau mudik naik mobil.
June 20th, 2007 at 9:40 pm
jadi inget tebakan
telur apa yang sangar??
ya telur asin … ada tatto-nya
July 25th, 2007 at 4:28 pm
Telur asin = telur preman,
karena pake tato
September 7th, 2007 at 6:25 am
[...] Telor Asin - review [...]