Munyuk cap Tempo

Buku tulis dan terutama notes cap Kera ini pernah menjadi bagian dari kehidupan tulis-menulis di Indonesia sampai awal 70-an. Sebagian orang Jawa menyebutnya “buku cap munyuk”.
Kualitas cetak sampul notes klasik ini sederhana tapi nyeni. Cukup menggunakan kertas manila dengan cetakan letterpress yang meninggalkan bekas tindasan, sudah begitu penintaannya tak rata pula.
Si kera yang terpelajar — bisa baca-tulis — ini seolah meninggalkan mayoritas warga Indonesia yang saat itu masih banyak yang buta huruf. Itulah masa ketika SD Inpres belum diperkenalkan.
Begitu kuatnya merek ini sehingga pada pertengahan 80-an, ketika notes ini mulai jarang di pasar, majalah Tempo membuat notes bergambar monyet untuk wartawannya.
Mungkin si desainer sampul notes, dan juga para wartawan Tempo angkatan lama — yang mengalami ngantor di Senen — ingin bernostalgia.
Kenapa namanya notes? Mungkin itulah pembakuan kata yang berasal dari lafal lokal untuk “notes“. Diejanya ya “no-tes”, sesuai tulisan.
