Putri: Ya Princess, Ya Anak Kita

13 September 2007 @ 16:15:21

makaroni cap dua putri

Makaroni? Itu salah satu sumbangan kuliner asing masakan Indonesia. Lha iyalah, Indonesia sendiri kan nama asing.

Lantas bagaimana mengindonesiakan sebuah produk? Tak perlu capai berlelah dalam pikir. Lakukan apa saja, pilih merek apa saja, pasti akan jadi salah satu wajah Indonesia. Bahkan misalnya pakai bahasa Inggris, tapi ada Cikonengnya dan Ciamisnya, bakal ketebak itu Endonesah.

Lalu kenapa pakai merek Dua Putri? Hanya produsennya yang dapat menjelaskan. Celakanya saya belum mengontak sang produsen.

Rsaa-rasanya, bagi saya, merek Dua Putri lebih enak ketimbang Dua Wanita, atau Dua Cewek, atau Dua Perempuan. Kalau Dua Ibu, malah bisa. Kenapa? Waduh, saya tak dapat menjelaskan. Cuma soal “rasa” saja.

Perihal “putri”, itu bisa berarti anak perempuan. Bisa juga berarti anak raja. Bisa juga anak kita.

Ketika “putri” berarti bangsawan/wati, atau wanita yang mewakili kalangan atas, maka sebagai produk dia mencitrakan sebuah cita rasa yang tinggi.

Ketika “putri” berarti anak perempuan, bahkan anak perempuannya sang produsen, maka dia menggambarkan kebanggan sang pemilik merek terhadap keluarganya. Sekalian ada sentuhan personal, begitulah. Lain halnya kalau memasang merek Dua Bidadari, sosok dari antah berantah itu.

Memasang dua putri, yang berkerudung, juga mencitrakan sesuatu yang, katakanlah, islami. Suatu hal, yang mungkin, diharapkan akan lebih menyentuh pasar.

Memang sih kerudung tak hanya atau tak mesti dipakai oleh muslimah. Bukankah suster atau biarawati juga berkerudung? Namun untuk kepentingan produk ini, nampaknya sentuhan islamilah yang diutamakan.

Selamat berpuasa dalam bulan Ramadan. Semoga terberkahi, dan hikmahnya Anda tebar untuk banyak orang.

2 Responses

  1. Ahmad Says:

    Terima kasih Paman.

    Kalimat yang terakhir menohok dan menyadarkan kami untuk mewujudkannya.

  2. caca Says:

    lucu2 ya tulisannnya

    bikin geli

    heheh…

    sukses ya!

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)