Semar Doyan Kerupuk

Banyak sudah merek yang memakai tokoh pewayangan. Itu membuktikan bahwa wayang masih hidup dalam sebagian masyarakat kita, terutama Jawa dan Sunda. Pergeralan wayang kulit di auditorium RRI Jakarta, misalnya, masih diminati. Demikian pula di Taman Mini Indonesia Indah.
Meskipun begitu apa salahnya kita menerka satu hal. Yaitu mengapa kerupuk ini memakai Semar, sesepuh punakawan? Apakah konsumennya, yang tak semuanya Jawa, masih hirau wayang?
Penjual kerupuk ini, orang Sunda, saja tak begitu hirau. Lebih penyting baginya apakah semua titipan dan kulakan di warung rokoknya cepat laku atau tidak.
Bisa jadi si produsen memang mengidolakan Semar, punakawan yang bukan sekadar pembanyol melainkan juga pembawa bisikan suara dewa, karena Semar bukan manusia biasa.
Kerupuk ini bukan barang lama. Saya sering melihatnya baru dua tahun belakangan di warung-warung di Pondokgede. Entahlah dia bikinan mana, yang pasti mengaku Jakarta.
Sebagai merek baru, dia dikemas sederhana tapi modern. Perancangan sudah melibatkan komputer. Pencetakan tak cukup dengan fotokopi, tapi sudah mini-offset dengan warna spot. Kertasnya? HVS bekas lembar promo Esia.
Sungguh desain label yang murah dan ramah lingkungan. Mungkin sesuai anjuran arif Semar: reuse kertas itu baik, dan menghemat hutan.
Namanya juga Semar modern. Lihat saja bajunya.
October 8th, 2007 at 3:01 pm
kapan pak puh bikin kerupuk TOGOG/
November 24th, 2007 at 6:34 am
om om…gambar semarnya mirip di cerita petruk gareng keluarannya gultom agency ya om? saya kok jadi inget komik itu…hehehe!

December 21st, 2007 at 3:23 am
Paman, kenapa Semar digambar kan selalu untu-nya Merongos ?
Apa semar memang merongos ???