batik kimia farma

Bisa saja ada pertanyaan: apakah Indonesia harus batik? Bakal panjang paparan maupun debatnya.

Dalam urusan fashion, kita kadangkala membutuhkan batik. Baik karena keinginan sendiri maupun karena tuntutan keadaan (dari dress code sampai kewajiban dinas).

Batik juga tak hanya sebagai baju. Batik muncul dalam taplak, serbet, sprei, sarung bantal. Apa lagi? Dalam sampul buku tulis tebal (kalau masih ada). Batik juga muncul dalam kemasan produk sendiri di jaringan apotek Kimia Farma, yang induknya pernah meraih Brand Visualization Award (2006).

Barang ini, bedak boorzinc, saya dapatkan Juli/Agustus 2007. Artinya itu barang masa kini. Tapi, sungguh, ketika melihatnya di rak kaca sewalayan apotek itu saya seperti terlempar ke masa silam. Ya bentuk silinder kardusnya, ya kertas bahannya, ya ragam hiasnya, ya teknik cetaknya.

Betulkah itu batik? Mungkin. Bukankah desain “batik modern” juga terus berkembang?

 

makaroni cap dua putri

Makaroni? Itu salah satu sumbangan kuliner asing masakan Indonesia. Lha iyalah, Indonesia sendiri kan nama asing.

Lantas bagaimana mengindonesiakan sebuah produk? Tak perlu capai berlelah dalam pikir. Lakukan apa saja, pilih merek apa saja, pasti akan jadi salah satu wajah Indonesia. Bahkan misalnya pakai bahasa Inggris, tapi ada Cikonengnya dan Ciamisnya, bakal ketebak itu Endonesah.

Lalu kenapa pakai merek Dua Putri? Hanya produsennya yang dapat menjelaskan. Celakanya saya belum mengontak sang produsen.

Rsaa-rasanya, bagi saya, merek Dua Putri lebih enak ketimbang Dua Wanita, atau Dua Cewek, atau Dua Perempuan. Kalau Dua Ibu, malah bisa. Kenapa? Waduh, saya tak dapat menjelaskan. Cuma soal “rasa” saja.

Perihal “putri”, itu bisa berarti anak perempuan. Bisa juga berarti anak raja. Bisa juga anak kita.

Ketika “putri” berarti bangsawan/wati, atau wanita yang mewakili kalangan atas, maka sebagai produk dia mencitrakan sebuah cita rasa yang tinggi.

Ketika “putri” berarti anak perempuan, bahkan anak perempuannya sang produsen, maka dia menggambarkan kebanggan sang pemilik merek terhadap keluarganya. Sekalian ada sentuhan personal, begitulah. Lain halnya kalau memasang merek Dua Bidadari, sosok dari antah berantah itu.

Memasang dua putri, yang berkerudung, juga mencitrakan sesuatu yang, katakanlah, islami. Suatu hal, yang mungkin, diharapkan akan lebih menyentuh pasar.

Memang sih kerudung tak hanya atau tak mesti dipakai oleh muslimah. Bukankah suster atau biarawati juga berkerudung? Namun untuk kepentingan produk ini, nampaknya sentuhan islamilah yang diutamakan.

Selamat berpuasa dalam bulan Ramadan. Semoga terberkahi, dan hikmahnya Anda tebar untuk banyak orang.