Dulu, waktu belum melihat iklannya di TV(RI), saya menyebut F&N itu “èf-èn” saja. Dari TV saya baru tahu cara membacanya: “èf-èn-èn”.

Ya, ini termasuk merek klasik (ada sejak 1883). Yang versi botol, berupa soda, masih beredar luas. Tadi siang saya lihat di sebuah warteg di Polonia, Jakarta Timur — tapi dalam dua versi logo, dan kesemuanya belum kedaluwarsa. Adapun versi kaleng lebih kaya karena ada beragam rasa.

Selain Coke dan F&N, merek klasik lainnya adalah GreenSpot. Adapun produk lain yang sempat kuat di sini (Jawa?) adalalah RC Cola. Kalau bicara raja, ya tetap Coke dan Pepsi. Bahkan F&N pun akhirnya dimiliki oleh Coca Cola.

Tagged with:
 

Telur ayam yang dijual per keranjang ini “dikemas oleh Putra Unggas”. Benar, karena yang memproduksi telur adalah para kokok-petok betina. Lantas siapa itu Nyi Iteung yang rambutnya dikepang dua, memakai kebaya, dan berkain batik? Rasanya makin jarang wanita muda di pedesaan berbusana seperti itu. Bahkan di lapangan makin banyak yang bercelana panjang. Yang eksotis, dalam gaya lama, hanya ada dalam gambar. Adapun “ayam kampung liar” itu entahlah. Untuk memperoleh telurnya, manusia harus bersaing dengan predator lain. Ah jadi ingat “susu kuda liar” — bagaimana cara memerahnya?

Oh ya, kalau “telur ayam (dari) kampung liar” itu maksudnya apa? :)

Tagged with:
 

Permen asem. Bukan perman asam. Itulah sebutannya. Pada tahun 2010 ini masih ada sekantong permen berharga Rp 1.000. Sudah naik sih. Beberapa tahun lalu, lupa kapan, masih boleh Rp 500 — dan Anda akan mengatakan, “Dulu malah boleh cepek lho!” Isi per kantong sekitar lima butir. Biasanya dijual di atas dalam bus kota Jakarta. Bisa Anda hitung berapa biaya kemasannya, sejak label kertas sampai plastik dan kokotannya (staples)? Sampai ke tingkat tertentu, ekonomi rakyat punya perhitungan sendiri untuk bertahan hidup.

Getuk goreng itu penganan khas Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Ada banyak merek di sana. Bahkan dulu yang tak bermerek pun ada. Yang ini diberi identitas jelas. Eco, artinya “enak”. Selebihnya adalah sebuah klaim tentang nilai lebih, sebagai karya Pak Haji M. Gito Sodikin.  Masalahnya siapa sebenarnya yang berhak atas Eco Asli? Kita tunggu label yang dengan gagah sembrono menyebut diri Eco Palsu. Adapun tentang kehalalan dan jenis minyak, saya tidak tahu — dan bukan kewenangan saya untuk memastikan. :)

Tagged with: