About
Saya bukan seorang kolektor maupun “kolekdol” (mengoleksi karya untuk dijual). Saya hanya seorang pemulung, itu pun tak serius, bahkan hanya asal comot.
Rasanya menyenangkan bisa memegang dan mengamati desain label dan kemasan yang kadang tak jelas siapa penciptanya itu.
Sebagian dari label, bungkus, atau apapun namanya, yang ada di sini pernah direpro untuk dipublikasikan untuk ilustrasi rubrik “Surat dari Palmerah”-nya Seno Gumira Ajidarma (SGA) di majalah (almarhum) Jakarta Jakarta. Rubrik itu kemudian dibukukan, berjudul sama, dengan ilustrasi hasil pindaian majalah.
SGA secara cengengesan menyebut semua label itu sebagai “koleksi seni rakyat”. Begitu cengengesannya sehingga ketika tak ada gambar singa maka gambar macan, dari sampul silet saya cap Tiger, pun dia pakai.
Apa boleh buat, pemilihan gambar, dan juga topik, ditempuh secara cengengesan. Setiap kali dia hendak atau sudah menulis solilokuinya dia akan menanya saya, “Punya gambar anu?” Bisa juga dia minta borongan, “Saya mau nulis ini, apa ya gambar yang cocok?”
Saya tak tahu adakah pembaca solilokui SGA yang mencerna tulisannya tanpa cengengesan. Percayalah, semutu, seindah, seiilhami, ataupun semembingungkan apapun solilokuinya, SGA menulisnya dengan semangat cengengesan.
Ada sih satu-dua kali dengan kekesalan jika menyangkut tokoh dan kasus tertentu. “Mehong,” katanya. Seperti mantra: sering dia ucapkan, tapi tak jelas apa maknanya, yang jelas bisa membuat dia tenang.
Mumpung kertas-kertas bergambar itu belum semakin tercecer, tercecer dan tercecer, sebagian saya selamatkan di sini saja. Juga mumpung saya belum bosan — atau bingung karena tak punya penyimpanan yang bagus — lantas saya buang.
Memulung itu mengasyikkan. Tapi mengurusi hasil pulungan itu melelahkan.
Paman Tyo
blogombal