
Bagi sebagian kita, Leces berarti buku tulis dengan jilid benang. Sama seperti Blabak (Magelang) dan Padalarang (Bandung — ingat “kertas padalarang”?). Keduanya adalah nama tempat yang menjadi nama perusahaan.
Ejaan lamanya Letjes. Ejaan barunya Leces. Itu nama tempat di Probolinggo, Jawa Timur itu, juga menjadi nama BUMN yang memproduksi kertas: PT Kertas Leces (Persero). Dulu namanya NV Letjes (beroperasi sehak 1940), kemudian menjadi PN Leces.
Dulu, tahun 70-an, ketika pilihan buku masih terbatas, maka buku-buku anak sekolah hampir sama. Bersampul kertas ungu, dengan label yang lemnya tak menempel rata. Hudha, blogger Kota Kertas pengirim repro buku ini, menamaminya “buku biru”, “buku violet “bahkan “buku Levi’s” (mungkin karena berwarna indigo).
Menurut Hudha, buku tulis model ini terakhir diproduksi pada 1992, untuk “wilayah pedalaman”. Bayangkan, 14 tahun yang lalu. Leces tak meneruskan karena di pasar sudah banyak produsen buku tulis seperti SG (Sentral Gemilang) , Kiky, Locomotif dan Sinar Dunia.
Dulu selain Letjes, buku ungu juga dibuat oleh swasta. Di Jawa Tengah yang popular adalah buku tulis cap Banteng dan cap Swari — masing-masing menyertakan label tempel untuk menuliskan nama.
Tapi saat itu buku tulis luks juga sudah ada, antara lain merek AA, yang pada awal sampai medio 70-an mengeluarkan seri bergambar Led Zeppelin, Black Sabbath, Shocking Blue, dan musisi Barat lainnya, dalam sampul art carton. Ada juga merek lain yang sampulnya memasang musisi Indonesia sebangsa Koes Plus, Mercy’s dan Panbers.
Tamatkah Leces sekarang? Tidak. Masih bertahan. Menurut Hudha, sejak pemilu pertama 1955 sampai pemilu 2004, kertas suaranya diproduksi oleh Leces. Di luar kertas suara, Leces juga memproduksi tisu dan kertas koran.
Logo Leces tetap burung hantu. Mirip Padalarang, karena Leces pada zaman Belanda adalah anak perusahaan Padalarang.
Buku tulis bersampul ungu ini adalah bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia, karena ikut menghasilkan ribuan sarjana. Berbahagialah jika Anda masih menyimpan barang langka ini.
(Terima kasih untuk Hudha)
