label.blogombal.org - Bualan daripada Pemulung

Archive for the ‘Alat tulis dan kantor’ Category

Alat tulis dan kantor

July 8, 2009

Salah Satu Jagoan Pemilu

Tags: , , , ,

Namanya tinta. Halal. Tanpa dia, eh mereka, maka keabsahan pemilu diragukan. Bahkan meski hanya tinta, pengadaannya bukan soal gampang. Bahkan dulu diwarnai kasak-kusuk.  Sampai pemilu kapan lagi tinta dipakai? Ketika pemilihan masih memakai cara coblos, tinta tampaknya mitra yang cocok. Kemudian ketika memakai ballot atau centang atau contreng, tinta itu yah… anggap saja masih pantas diajak berkawan. Kelak ketika pemilihan memakai cara digital, tinta menjadi arkais.

tinta pipres 2009: halal

Alat tulis dan kantor

July 30, 2007

Munyuk cap Tempo

buku notes cap kera

Buku tulis dan terutama notes cap Kera ini pernah menjadi bagian dari kehidupan tulis-menulis di Indonesia sampai awal 70-an. Sebagian orang Jawa menyebutnya “buku cap munyuk”.

Kualitas cetak sampul notes klasik ini sederhana tapi nyeni. Cukup menggunakan kertas manila dengan cetakan letterpress yang meninggalkan bekas tindasan, sudah begitu penintaannya tak rata pula.

Si kera yang terpelajar — bisa baca-tulis — ini seolah meninggalkan mayoritas warga Indonesia yang saat itu masih banyak yang buta huruf. Itulah masa ketika SD Inpres belum diperkenalkan.

Begitu kuatnya merek ini sehingga pada pertengahan 80-an, ketika notes ini mulai jarang di pasar, majalah Tempo membuat notes bergambar monyet untuk wartawannya.

Mungkin si desainer sampul notes, dan juga para wartawan Tempo angkatan lama — yang mengalami ngantor di Senen — ingin bernostalgia.

Kenapa namanya notes? Mungkin itulah pembakuan kata yang berasal dari lafal lokal untuk “notes“. Diejanya ya “no-tes”, sesuai tulisan.

buku notes munyuk cap tempo

Alat tulis dan kantor

January 8, 2007

Kalender Diponegoro

kalender indonesia 1967 - pangeran diponegoro

Saya buka tahun 2007 ini dengan posting tentang kalender 1967. Ya, kalender 40 tahun lalu.

Kalender lawas ini bukan hasil cetak offset melainkan letterpress. Tindasan bekas cetaknya sangat terasa. Raster pada gambar berwarna sangat kentara sebagai hasil klise timah. Sangat nyeni.

Bergambar tunggal Pangeran Diponegoro, kalender ini dulunya milik sebuah warung di Jawa Tengah. Untuk praktisnya, si pemilik menjadikan kalender sebagai catatan bisnis — bahkan utang-piutang pun ditorehkan di situ. Ada pula catatan pemasukan dari belanja prabayar. Misalnya “Simbok titip Rp 100” dan di bawahnya ada “Saminem [tanda idem] 75“.

kalender indonesia anno 1967

Seperti apakah Indonesia pada Januari 1967? Saya kurang begitu ingat karena masih bocah. Si penjual kalender — ya, dia anak dari juragan warung — bilang, kalender lama pra-1967 umumnya bergambar Presiden Soekarno. Saya memperoleh kalender ini pada tahun 2000.

Saya bayangkan, kalender 1967 dibuat pada 1966. Saat itu, tentu saja, Soeharto belum resmi menjadi presiden, tapi desoekarnoisasi sudah berjalan. Entahlah, apakah sudah ada yang bikin kalender bergambar Soeharto.

Di luar urusan politik Orde Baru, ada hal yang nyata terlihat: kalender ini tak menyertakan sebuah merek. Mungkin kalender ini memang benda grafis yang dijual, bukan dibagikan gratis untuk keperluan promosional.

Lantas kenapa kalender ini bergambar Diponegoro? Saya kurang paham konteksnya. Peter Carey, sejarawan yang meneliti Perang Jawa atau Java Oorlog (nama lain Perang Diponegoro, perang termahal bagi Belanda selama 1825-1830), mungkin punya tafsir.

Yang saya tahu, dan semua orang tahu, divisi militer Jawa Tengah menggunakan nama Diponegoro. Tapi popularkah Diponegoro bagi semua orang Jawa?

Y.B. Mangunwijaya pernah menulis, Kesultanan Yogyakarta tak menganggap Diponegoro sebagai pahlawan. Alasannya, gara-gara Diponegoro maka Kesultanan kehilangan Dulangmas (Kedu-Magelang-Banyumas). Kawasan penghasil beras itu jatuh ke Belanda.

Alat tulis dan kantor

September 7, 2006

Buku Levi’s, dari si Burung Hantu

label buku tulis cap leces
Bagi sebagian kita, Leces berarti buku tulis dengan jilid benang. Sama seperti Blabak (Magelang) dan Padalarang (Bandung — ingat “kertas padalarang”?). Keduanya adalah nama tempat yang menjadi nama perusahaan.

Ejaan lamanya Letjes. Ejaan barunya Leces. Itu nama tempat di Probolinggo, Jawa Timur itu, juga menjadi nama BUMN yang memproduksi kertas: PT Kertas Leces (Persero). Dulu namanya NV Letjes (beroperasi sehak 1940), kemudian menjadi PN Leces.

buku tulis cap lecesDulu, tahun 70-an, ketika pilihan buku masih terbatas, maka buku-buku anak sekolah hampir sama. Bersampul kertas ungu, dengan label yang lemnya tak menempel rata. Hudha, blogger Kota Kertas pengirim repro buku ini, menamaminya “buku biru”, “buku violet “bahkan “buku Levi’s” (mungkin karena berwarna indigo).

Menurut Hudha, buku tulis model ini terakhir diproduksi pada 1992, untuk “wilayah pedalaman”. Bayangkan, 14 tahun yang lalu. Leces tak meneruskan karena di pasar sudah banyak produsen buku tulis seperti SG (Sentral Gemilang) , Kiky, Locomotif dan Sinar Dunia.

Dulu selain Letjes, buku ungu juga dibuat oleh swasta. Di Jawa Tengah yang popular adalah buku tulis cap Banteng dan cap Swari — masing-masing menyertakan label tempel untuk menuliskan nama.

Tapi saat itu buku tulis luks juga sudah ada, antara lain merek AA, yang pada awal sampai medio 70-an mengeluarkan seri bergambar Led Zeppelin, Black Sabbath, Shocking Blue, dan musisi Barat lainnya, dalam sampul art carton. Ada juga merek lain yang sampulnya memasang musisi Indonesia sebangsa Koes Plus, Mercy’s dan Panbers.

Tamatkah Leces sekarang? Tidak. Masih bertahan. Menurut Hudha, sejak pemilu pertama 1955 sampai pemilu 2004, kertas suaranya diproduksi oleh Leces. Di luar kertas suara, Leces juga memproduksi tisu dan kertas koran.

Logo Leces tetap burung hantu. Mirip Padalarang, karena Leces pada zaman Belanda adalah anak perusahaan Padalarang.

Buku tulis bersampul ungu ini adalah bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia, karena ikut menghasilkan ribuan sarjana. Berbahagialah jika Anda masih menyimpan barang langka ini.

(Terima kasih untuk Hudha)