Kawin = Dapat Pembantu

12 January 2007 @ 13:39:22

buku pengantar berpacaran muda-mudi

Kepada muda-mudi: Kawinlah kalian kalau sudah ingin. Jangan terlalu membujang — apalagi menghambur-hamburkan nafsu dengan jajan. Itu bukan aturan yang benar. Dengan kawin engkau tidak akan jatuh miskin, bahkan dengan kawin anda mendapat pembantu/pegawai tanpa menggaji.

Itulah yang diajarkan oleh Abdullah Masrur M.H. dalam bukunya Pengantar Berpacaran: Psycologie Muda-mudi. Edisi 1980, terbitan Bintang Pelajar, Surabaya.

Buku ini sudah dicetak offset, tapi halaman dalam dicetak secara buruk di atas kertas koran. Setting tak rapi. Garis potongan paste up tampak berjejak. Beberapa huruf pada tepi kolom terpotong. Sungguh sebuah produk cetakan rakyat.

rugos

Tampaknya setting dengan paragraf justified ini menggunakan teknologi yang saat itu dianggap murah: bukan photo typesetting melainkan mesin tik elektronik berpita plastik.

Orang percetakan kecil menyebutnya “setting IBM” karena menggunakan mesin tik elektronik IBM yang hurufnya bukan berupa piringan (daisy wheel) melainkan bola (golf). Cetak huruf tebal (bold, vet) bukan masalah, tapi untuk cetak huruf miring (kursif, italic), wadooohhhh… tidak bisa.

rugos

Bagaimana dengan teks untuk judul bab yang ukurannya di atas 12 pt? Apa boleh buat, buku ini melakukannya dengan… Rugos!

rugos dan spidol

Duh, Rugos. Perlu posting khusus tampaknya. Rugos adalah merek, konon singkatan “huruf gosok”, bikinan Surabaya. Rugos adalah jawaban Indonesia untuk barang sejenis, yaitu Letraset dan Mecanorma yang merupakan barang impor.

rugos dan spidol

Di tangan yang kurang terampil, dan kurang hirau tipografi, penempelan huruf ini akan menjadi tidak rapi. Tapi misalkan penempelnya terampil, kalau kehabisan huruf dan tanda baca ya tetap saja repot. Maka dalam buku ini tanda titik-titik (ellipsis) dalam judul dibuat dengan… spidol!

Bagaimana jika huruf M habis? Gampang, ambil saja huruf W lalu dibalik, dan jadilah judul bab di halaman 25.

rugos

Kalau stok font Rugos habis? Juga gampang. Ambil saja font face yang lain. Hasilnya: dalam satu buku ada pelbagai jenis font untuk judul bab. Kalaupun saat itu sudah ada template juga percuma karena hurufnya habis.

rugos

Sampulnya? Istimewa! Dicetak di atas kertas HVS, dengan ilustrasi hasil repro gambar cat air dan pena. Sampul sebagus itu tanpa disertai nama pengarang dan penerbit.

Lha tentang isi buku ini, ada di blog induk.

buku petunjuk berpacaran

Remaja Masa Lalu

21 September 2006 @ 1:34:39

Saya tertawa. Geli sekaligus takjub. Masih ada ilustrasi seperti pada dompet koin ini pada September 2006. Pemiliknya bangga sekali. Dia seorang pekerja sebuah badan PBB di Jakarta, yang berdinas dengan mobil berpelat nomor CD.

Sang pemilik — kita sebut saja Mr Z (bukan Zorro), usia 40-an — berasal dari kota yang sama dengan Batman: Pekalongan, Jawa Tengah. Dia membelinya sembilan tahun lalu di Pasar Kedungwuni, Pekalongan.

Harga dompet plastik bersablon itu Rp 5.000. Tapi harga segitu, sebelum krismon, bukan hanya untuk sebuah dompet bergambar remaja pria berjambul dan pasangannya. Rp 5.000 itu harga borongan untuk dompet, cermin genggam tergores, dan sisir serit bergagang tulang kerbau.

Apa tadi, serit? Itu sisir bergigi rapat, dengan gagang di tengah. Harus rapat agar penyisiran rambut lurus lebih rapi dan… bisa mengangkut kutu.

Pembelian itu, menurut Mr Z via e-mail, “…sudah mampu membuat si mbok penjualnya girang bukan kepalang.”

Sungguh sebuah dompet retro. Ilustrasinya mengingatkan kita pada komik roman tahun 70-an, saat Mr Z belajar cinta monyet sambil makan pisang, nangkring di dahan.

Lihatlah sudut pengambilan gambar: dari samping. Sungguh sebuah profil. Tepatnya, profil remaja (dan bekas remaja) masa lalu.

Jerapah Doyan Santan

6 May 2005 @ 0:28:25

Satwa memang paling sering dijadikan merek. Tapi apa alasan wong Solo ini bikin kantong plastik cap Jerapah? Padahal, terus terang saja, plastiknya tidak bisa diulur supaya panjang seperti leher jerapah. Yang pasti, biarpun jerapah bukan spesies endemik di Indonesia, plastik jerapah itu sangat Indonesia: tahan mengantongi santan. Sebuah label sablonan yang bersahaja namun percaya diri, hurufnya pun tampaknya diset pakai Rugos. Apakah para pembeli peduli pada merek ini, sehingga ketika datang ke toko plastik akan bilang kepadasi penjual, “Minta plastik jerapah…”? Tanyailah kenalan Anda yang orang Solo, atau Sala, atau Surakarta: apakah mereka mengenal plastik jerapah.

Dari Burung Priyayi untuk Burung Kéré

16 October 2004 @ 19:38:48

jamu burung perkutut

Inilah dagelan kéré: bagaimana cara menghabiskan duit Rp 100 juta untuk sekali santap sendirian, dan harus habis, tanpa ongkos lain-lain, cuma makan saja.

Jawabannya: makan perkutut goreng, tapi perkututnya juara konkurs atawa lomba.

Perkutut, konon, bisa mahal, sehingga saya dengar kabar burung [via mulut manusia] bahwa perkutut anu itu harganya malah setara sedan anyar 2.000 cc.

Yang saya tahu perkutut memang dirumat sepenuh hati. Termasuk dikasih jamu. Supaya sehat. Agar suara “kung”-nya merdu, mendatangkan ketenangan selagi menikmati teh poci.

Nah, jamu bikinan Sumber-Djadi ini bilang, ramuannya berasal dari bangsawan Yogyakarta. Jadi, perkutut kéré diharapkan akan semulia perkutut priyayi [KBBI: priayi], burungnya para priyagung atawa kaum menak, piaraan para bandara [baca: bendoro, dengan "d" lunak, bisa disingkat "ndoro"], yang mungkin lebih bagus unggah-ungguh atau manner-nya.

Feodalisme, alangkah melenakannya. Padahal raja pun, terutama pendiri wangsa atau dinasti dalam masyarakat agraris, adalah keturunan petani. Saya tak tahu adakah raja pendiri wangsa yang keturunan atau bekas bajak laut, baik rompak maupun lanun — dengan atau tanpa anting sebelah, dengan atau tanpa penutup mata sebelah.

Teka-teki Merek

6 October 2004 @ 21:01:33

Apa iya, sebuah merek adalah pencitraan diri pemiliknya? Saya tak tahu. Apa iya, merek juga berarti cerminan produsen dalam mencitrakan konsumennya? Saya tak paham. Apalagi jika menyangkut branding, maka desain kemasan hanya satu hal, karena di luar itu adalah upaya komunikasi pemasaran berikut segala bla-bla-bla yang membingungkan.

Saya tak paham itu semua. Lebih menyenangkan melihat desain kemasan barang-barang itu… Apakah barangnya laku atau tidak, menjadi ikon zaman atau sekadar terselip di lapak penjual sampai penjualnya lupa, saya juga tak begitu paham. Itu urusannya orang pintar, kaum yang sudah cerdik masih cendekia pula.

(Pindahan dari tempat lama)

Gombal Comments

  • lenastgg: kemasan bisa woke bung, tapi kulitas tetep...
  • yudi: Numpang tanya, boleh nggak?....kalo biscuits khong...
  • danie: kalau ayam bakar wong (s)olo silsilahnya begimana...
  • jenz: wah, saya demen sama es tjap njonja besar ini....
  • Gan Bensie: minta tolong contact person PT. Sumber Es...
  • Sontol_Nak: Paman, kenapa Semar digambar kan selalu...
  • Harian: wah kreatif nih tulisannya... jadi inget jaman...
  • caca: lucu2 ya tulisannnya bikin geli heheh... sukses ya!
  • x: Wah taru harum solo punya tuh.. :)
  • onie: hahaha...dahsya t...mestinya ada posting khusus...
  • lia zahara: mau tanya nih soal undian kapal api, lia...
  • bangbadi: Lucu-lucu posternya :) Salam kenal bung.
  • Tigun Wibisana: Apakah pening/plombir sepeda ini hingga...
  • anik budiarti: Pak iki sabun jadul ..dulu harganya...
  • anik budiarti: Pak..jaman saya dulu SD thn 87an yg sering...
  • anik budiarti: Pakdhe..aku juga pernah minum norit gara...
  • kardjo: DI surabaya ada warung nasi namanya warung...
  • sandra: ah saya sih kurang cocok dengan roti djoko....
  • mpokb: kalo jenifer, jadi jeruk nifis feras dong.. :D
  • yayan: minuman wajib para pemabok, harga murah pas buat...

Gombal Disclaimer

Gombalabel is a non-profit blog (continued from another blog) and is not intended to infringe upon the rights of any holders of copyrights. All materials (trademarks, logos, etc) on this blog are for informational purposes only. In case anybody feels that her/his copyright has been violated, please don't sue me. After all I am giving you free publicity. :)